Suatu yang akan kuselesaikan

Ini sebuah tulisan awal yang akan saya selesaikan dan harus selesai.

Novel 50K~~”We Are Alive”

*: Judul bisa berubah, sepertinya akan diubah, pastinya belum tahu juga** Sedikit prolog. Atau epilog. Atau kata pengantar. Atau apa sajalah..

Mari kita bicara soal sepuluh tahun lalu, eh salah 11 tahun lalu. Masa lalu yang masih melekat jelas di ingatan manusia di penjuru dunia. Ini cerita mengenai perempuan beserta kehidupan dan cintanya. Ini kisah bukan dongeng atau imajinasi belaka, melainkan pengalaman para perempuan yang bertemu di satu tempat. Dari hal yang mengemparkan sampai hal-hal yang membosankan, tapi selalu diingat oleh mereka. Jangan bilang perempuan itu suka menangis. Nyatanya dalam kisah ini, mereka lebih banyak tertawa dan dada mereka lebih bidang dibandingkan dada para pria yang atletis itu.
Okay, darimana cerita ini akan dimulai? Apa kalian mau jalan cerita yang maju-mundur ke tengah ke depan, sebentar-bentar lari ke masa sekarang, sebentar-sebentar ke masa lalu. Hemm, bagaimana kalau kalian simak saja kisah ini hingga tuntas. Semoga cerita ini bisa memuaskan dahaga para perempuan dan tentu pembaca lainnya, yaitu pria sedunia.
Ditekankan ini tak hanya kisah perempuan satu suku saja, tapi beragam dari belahan dunia. Ditekankan lagi ini bukan dongeng, tapi nyata yang difantasikan. Karena realita itu tidak berjalan sendiri, ia juga jalan bersama imajinasi, mimpi, cinta.  Tanpa ketiganya itu, Apa masih bisa kalian menyebut realita itu ada? Dan di kehidupan ini, ada yang bernama kematian. Dua hal yang juga berjalan seiringan. Hidup dan mati. Dimana makhluk hidup juga dibantu di bumi ini dengan benda-benda yang tak bernyawa. Benda-benda yang membantu kelancaran kehidupan manusia.
Pernahkan kalian berbicara dengan benda-benda tak bernyawa di sekitar kalian? Ini memang pertanyaan aneh. BIsa jadi kalau kita menjawab ‘ya’, kita dibilang gila. Tetapi jika diperhatikan lagi, benda-benda itu sebenarnya bernyawa dan mereka terlahir pun dari makhluk yang bernyawa. Pernahkan kalian membayangkan di dunia ini ada dua ruang, mungkin lebih. Yang satu ruang untuk makhluk hidup dan yang satu ruang untuk benda mati, tapi ruang ini hanya dibatasi selembar benang saja. Bisa jadi bukan selembar benang, tetapi lebih tipis dari benang. Entah pembatas ruang yang seperti apa.

  BAB I :          Sarah Oslen, Oh Sarah Oslen



Lihatlah. Lihat keluar sana. Ada angkasa biru. Ada gedung menjulang tinggi. Ada beraneka ragam bangsa. Ada banyak entertainment. Ada museum, galeri,café,  broadway, stasiun kereta bawah tanah, suara sirene dan restaurant-restaurant. Inilah New York, sekali lagi teriakan..Newwwww Yoooooooork.
Oh yah, perkenalkan Toiletta. Gadis muda, energik, cerdas, putih, seksi. Profesinya adalah ‘menjaga toilet wanita’. Menjaga? Hohoho, lebih dari itu. Pastinya dia adalah seorang ‘pendengar’ yang baik. Orang-orang akan bercerita begitu saja kepada dirinya, tanpa sadar. Toiletta juga seorang penyimpan rahasia yang baik. Ehem. Begitukah? Ya, we’ll see.
Pastinya Toiletta tidak sendiri. Sarah Oslen telah mendesain ruang kamar kecil perempuan, sebagus mungkin. Lantainya pun dipesan dari Italy, marmer loh. Lah bukanya biasa kalau ubin itu ada yang marmer. Iya, tetapi inikan buat kamar kecil, tepatnya untuk para karyawan perempuan disatu lantai gedung tersebut. Cermin besar mengelilingi ruangan itu. Rasanya harus dijelaskan detail bagaimana bentuk ruang kamar tecil itu. Ruangan itu berukuran 4 X 5 meter dan berbentuk hampir seperti huruf L, tetapi tidak begitu L. pertama kali masuk ruangan itu, kita akan berjumpa dengan cermin. Si penilai penampilan setiap orang. Dan dia setia bersandar di tiap dinding-dinding ruangan. Oleh karena itu, ketika pintu dibuka, kaca panjang akan kita temukan berdiri gagah. Ups cantik maksudnya. Belok kiri sedikit, kita akan melihat lagi kaca cermin besar dan lebar terpampang. Kita bisa sepuas-puasnya berdandan di cermin itu tanpa ada yang menganggu karena cerminnya lebar sekali. Tapi jangan kaget ya jika tiba-tiba ada suara yang mengejek datang dari cermin itu.
Kursi panjang dari kayu beralaskan bantal ,baru datang hari ini dan ditaruh di antara kaca rias dan ruang toiletnya.
“Janettt, Oh Tuhan, pintu-pintu itu kapan datangnya?” Sarah panik melihat kamar kecil ini belum ada pintunya satu pun.
“E…Eee, menurut perjanjian, pintu-pintu itu akan datang esok hari dari Indonesia,” Janet menjawab meringgis.
“Apaaaa?! “ suara Sarah melengking keras.
Toiletta menutup telinganya. “Urggh, ini perempuan kecil-kecil tapi teriakannya nyakitin kuping.”
“Huh, biar saja tidak ada pintunya. Setidaknya kasih kesempatan buat aku menggagumi diriku sendiri, Hi..Hi..HI.,” dengan genitnya Toiletta bergaya di depan kaca yang jaraknya 2 meter itu.
“Ehem!”
“Sssttt…” Sarah terdiam dan menyuruh Janet untuk diam.
“Janet, kamu dengar sesuatu?..” Tanya Sarah sambil berbisik.
Janet mengelengkan kepala. Malah Janet bingung kenapa dia disuruh diam.
Toiletta menutup mulutnya. “Ups, dia mendengarnya. Masa dia bisa dengar sih? Ah, ngak mungkin,” kali ini Toiletta bicara dalam hati.
“Ehm, mungkin saya kurang tidur. Oke Janet, kita urus soal pintu besok. Sekarang mana lampu-lampu sorot yang kupesan?” Sarah mencoba melupakan suara yang didengarnya tadi.
“Eh…E masih ada di kantor kita,” bicara Janet gelagapan.
“Janetttttt…!!!! Kamu bisa kerja ngak sih? Please Janett, lusa klient kita sudah mau ‘grand opening’,” Muka Sarah memerah karena naik pitam.
“Janet kita ngak punya waktu banyak. Sekarang juga ambilllll lampu-lampu itu,” suara Sarah melengking.
Toiletta menutup telinganya rapat.
Janet bergegas keluar dengan wajah pucat.
Sarah tampak kesal sekali. Sarah melirik ke cermin. Rasanya ingin sekali dia memecahkan cermin di depannya. Baru kali ini, Sarah punya assisten pribadi yang ngak karuan kerjaannya. Bentar-bentar lupa. Bentar-bentar gagap. Bentar-bentar…achhh, capai rasanya bila disebutkan satu persatu kekacauan si Janet itu. Dan herannya Sarah selalu saja punya rasa kasihan kepada Janet. Jika dia melihat ke mata Janet, ada sesuatu di sana yang membuat Sarah begitu dekat dengan Janet. Entah itu apa. Tidak ada waktu bagi Sarah Oslen mencari jawabannya. Mungkin seharusnya Sarah menyediakan waktu, mengapa dia merasa begitu dekat pada Janet. Padahal Sarah baru mengenal Janet 1,5 bulan ini. Ya, 1,5 bulan yang membuat Sarah jadi darah tinggi.
Tapi sekarang Sarah harus kembali konsentrasi ke pekerjaan. Dia berjalan dekat pintu masuk kamar kecil ini. Oh la la, bangku pesanan Sarah pun belum ada. Sarah menepok jidatnya. Mengapa satu bangku bisa ketinggalan. Wah, mungkin Sarah sudah ketularan penyakit lupanya Janet. Lalu Sarah teringat kembali, bangku satunya ada di depan pintu. Ya, tadi dia meninggalkannya di sana. Dasar! Tuh benerkan ada. Oke, Sarah pindahkan sendiri bangku itu ke dalam. Nanti, di atas bangku ini akan ada dua lampu sorot yang menyinari dinding dan sinarnya akan sedikit mengenai bangku ini. Dan di bawah lampu sorot, Sarah ingin menaruh pot gantung berisi bunga Angrek. Rencananya setiap hari bunga Angrek itu akan berganti warna. Oh iya, Sarah harus membuat note ini buat Cleaning service kamar kecil ini. “Bunga harus segar dan diganti setiap hari”, begitu kalimat yang tertulis di catatan Sarah.
Toilette tidak bisa melihat Sarah secara langsung, namun Ia bisa melihat dari pantulan kaca. Sarah Oslen, wanita yang cukup cantik. Tinggi 176 cm dan berat kira-kira 58 kg. puiih ukuran ideal, pantas menjadi seorang model. Keningnya sedikit lebar, tetapi itu yang justru membuat Sarah terlihat pintar. Cerewetnya minta ampun, itu terlihat dari suaranya yang melengking tinggi ketika marah-marah. Mukanya sih ngak serem, tapi suaranya itu loh yang ngak nahan. Hebatnya Ia seorang designer interioryang banyak dicari di New York, bahkan sampai ke luar negeri. Gaya berpakaiannya cuek. Jeans, kemeja, rompi, dan perhiasan manik di kedua tangan dan leher. Biar cuek, tapi apa yang dipakainya ber-merk semua. Ya maklum, biaya mengunakan jasanya saja cukup tinggi. Apa yang dikerjakannya harus sempurna dan Ia begitu detail. Mungkin memang begitu seorang designer interior itu.
Sarah berjalan dan duduk di bangku dalam sambil mengeluarkan sebungkus rokok menthol dari dalam tas. Kemudian Ia berjalan lagi menuju ruang kecil dengan kaca transparan, ruangan khusus merokok. Nah, ngak adakan kamar kecil yang ada ruang buat ngerokoknya, selain di kamar kecil lantai 19 ini. Ruangan ini hanya cukup menampung dua orang, jadi hanya dua orang yang boleh merokok di ruangan ini. Entah mengapa diijinkan fasilitas merokok di ruang kamar kecil. Barangkali permintaan dari perusahaan yang ada di lantai 19, yaitu perusahaan advertising yang juga punya nama di New York. Atau Sarah Oslen punya ide ini dan client-nya setuju. Bisa jadi direkturnya seorang perokok, tidak heran Ia memperbolehkan fasilitas merokok dalam ruangan ini. Biasanya ruang kecil buat merokok bukan di toilet dan terpisah. Toiletta jadi berdecak sendiri. Tanpa suara pastinya. Tentu pakai mengelengkan kepala.
Terdengar Sarah Oslen menelpon Janet untuk segera kembali ke gedung ini. Sarah berdiri dan menatap ruang yang berseberangan dari ruang merokok. Tepatnya, itu ruangan yang terbagi 2 bilik, khusus untuk ganti pakaian. Kacanya berwarna putih tapi tidak transparan, sehingga orang hanya bisa melihat bayangan saja. Hal ini juga jarang terdapat di toilet umum lainnya. Di tengah dua kamar ganti, ada cermin, meja, dan kursi, buat merias wajah. Sarah mendesain tempat merias ini diapit ruang ganti. Ruang rias juga ada di samping ruang merokok. Berada paling sudut ruangan. Barangkali sengaja ditempatkan di situ, buat merias sambil merokok, karena ruangan rias yang ini berpintu. Tidak seperti ruang rias yang satunya, tanpa pintu. Toiletta masih heran dengan ruangan rokok ini. Apa staf-staf di lantai ini perokok semua? Dan apakah mereka semua perokok berat sehingga dibuatkan khusus ruang merokok ini. Ya, lihat saja nanti.
Sarah keluar dari ruang rokok dan berjalan menuju kamar kecil. Dari ke empat toilet, Sarah memutuskan ke tempat Toiletta.
Toiletta berbicara,
Oh..o..o..Sarah belum mematikan rokoknya. Okay, sekarang sudah. Yup Ia mencemplungkan rokoknya di tempatku. Ia buka penutup tubuhku bagian atas dan plunggg….
Urghhh terasa pahit, mengenai dinding dalam tubuhku. arggh, kenapa tidak dimatikan di ruangan sana aja sih? Dasar !!
Ia menutupku kembali. Dan duduk di atasku. Kali ini Sarah meraih cell phone dari tas Louis Vitton-nya. Tangannya sibuk sekali. Tak lama Ia mulai berteriak, “Shit!”. Aku kira Sarah sedang text messaging,ternyata Ia main games, saudara-saudara! Aku berpangku tangan seraya memainkan jari-jari di pipiku. Ah, di pipi yang mengemaskan ini.
Aku lirik wajah Sarah. Wow, warna mukanya berubah. Sebelumnya wajah Sarah tegang sekali. Sekarang, penuh senyuman. Ceria sekali garis-garis di mukanya. Bagaikan garis-garis itu turut bermain. Hemm, mereka senang. Ternyata, wanita ini penggemar games.
Bip..Bip..Bip… IPhone berbunyi. Sarah tak peduli. Bip..Bip..Bip..bunyi lagi. Tetap Sarah tak peduli. Bip..Bip..Bip…tiga kali bersuara, lekuk wajah Sarah menurun, walau tidak drastic. Dan diangkat juga telepon itu.
“Eh…E..E…Maaf aku kena tilang,” ucap suara dari seberang.
“Kena tilang? Bagaimana bisa?..Okay, besok sajalah, bangku dibawa. Ya sudah, kamu tidak usah kesini , Janet. Besok saja. Ok, aku lagi sibuk. See you tomorrow, ya,” dan Sarah pun kembali bermain games.
Dua jam saja Sarah Oslen duduk dengan nyamannya. Masih di atasku. Ia tidak merasa pegal, tetapi aku yang pegal-pegal. Sepuluh orang saja yang seperti Sarah, pasti aku tidak betah. Aku bosannnn. Menemani orang yang bermain games. Seharusnya Sarah juga menyediakan perangkat games di toilet, supaya aku juga bisa bermain. Jadi mau duduk sepuluh jam pun, aku tak masalah!
Bip..Bip..Bip…Si IPhone kembali berbunyi. Kali ini langsung direspon oleh Sarah.
“Yes, Babe,” Sarah bersemangat.
“Hai Babe, sudah selesaikah?” suara pria. Suara pria yang enak didengar telinga.
“Yup. I’m finish for today. Berapa lama kamu sampai di sini?”
“Jalanan sedikit macet. Mungkin setengah jam lagi. Is it okay for you, Babe?”
“Sebaiknya kamu datang lebih cepat. Karena sejak pagi aku rindu padamu. Dan aku butuh pelukanmu segera mungkin,” ucap Sarah mesra.
“Dadaku akan datang segera mungkin. Dada ini juga butuh sandaran wanita. Okay Babe..muach..sabar ya,” suara lelaki yang berat dan terdengar sangat nyaman.
“Muachh..” telepon terputus. Sarah keluar dariku dan langsung merapikan penampilannya di depan cermin.
Anehnya aku masih terkagum-kagum akan suara pria itu. Pasti itu suami Sarah atau kekasihnya. Ah, suatu suara yang mampu mententramkan hati. Ah, aku rindu suara seperti itu. Aku rindu suara berada tepat di telingaku. Berbisik dan mendesah. Dan diakhiri mengecup telingaku. Ah..
Aku jadi sibuk mengkhayal. Tak peduli apa yang dilakukan oleh Sarah sekarang.
Sarah memakai lipstick berwarna pink, menambahkan sedikit bedak dan perona wajah. Melepaskan rambut yang sedari tadi Sarah gulung. Rambut panjangnya pun bergerai indah.
“Wowww….”
Sarah kaget. Sarah mendengar suatu suara. Sarah terdiam.
Bukan Sarah saja yang terkejut. Toiletta juga terkejut. “Suara apa itu?” Tanya Toiletta dalam hati.
“Siapa yang berbicara?” pandangan Sarah mengelilingi ruangan kamar kecil ini. Rasanya hanya Ia yang berada di ruang ini. Tidak ada orang lain lagi. Sarah mulai merinding. Ia raih tasnya dan kedua kakinya segera berjalan cepat, keluar dari ruang ini.
Dua bola mata Toiletta menari ke kanan dan ke kiri. Mencari sosok yang mengeluarkan satu kata. Lalu bola matanya bergerak ke atas dan ke bawah. Iyy, tidak ada orang sama sekali di ruang ini. Tapi mengapa ada suara itu. Suara yang tak lagi muncul. Diam karena keceplosan.

——

Pagi abu-abu. Dingin. Angin menusuk. Bersembunyi di balik tebalnya jaket panjang. Berjalan melewati blok-blok. Langkah cepat. Seperti biasanya. Biar di musim panas atau musim dingin, semua orang berjalan cepat. Berkejar-kejaran dengan kereta. Tepatnya mengejar waktu. Padahal waktu tidak kemana-mana. Tetap 24 jam. Bagusnya mereka punya pikiran untuk meminimalisasikan waktu. Dipergunakan dengan hemat, agar semua berjalan tak percuma.
Sarah melesat seperti kereta api. Dari satu blok ke blok lainnya. Walau sempat berhenti di kios Koran. Menyambar coffee dari tangan seorang barista yang setia menanti di depan café. Menghampiri toko bakery ‘Noah’s, mengunyah sedikit roti gandum yang paling enak sedunia. Bertegur sapa dengan Brandon, lawyer muda tampan, tepat di penyebrangan jalan. Sedikit berbicara dan sedikit sok tahu tentang hukum. Bagi Sarah apa pun pembicaraannya, entah sesulit apapun atau seringan apapun, selalu menyenangkan berbicara bersama Brandon. Paling di benak Sarah hanya protes, “Mengapa aku dilahirkan lebih dahulu?”
Ketika jarum jam menunjukan 08.20, Sarah mempercepat sedikit langkahnya. Tangan kanannya memegang gelas kopi. Tangan kirinya membawa tas kerja plus bungkusan roti gandum. Pandangannya tetap lurus ke depan. Tidak ada waktu lagi untuk bersapa, apalagi melirik. Sarah langsung menuruni tangga menuju subway. Wah, sebentar lagi dirinya bertemu Daniel. Ah, Daniel yang akhir-akhir ini mewarnai hidupnya. Semarak. Indah. Berdenyut. Manis. Bahagia. Dan setumpuk hampa dua tahun lalu, dengan mudah sirna. Hilang ditelan bumi. Dimakan para samudera. Perpisahan Sarah dan suaminya, dua tahun lalu, telah membuat Sarah terpuruk. Jatuh. Tak berdaya. Kesepian. Dan hampa. Dalam waktu empat bulan, Sarah sudah melupakan perceraiannya. Tidak mengubris lagi tentang cintanya yang dimakan oleh samudera-di dalam mimpinya.
Tak lama sosok Daniel sudah ada di depan mata Sarah. Dari jarak 10 meter, langkah Sarah terhenti sebentar. Sarah tersenyum menatap Daniel. Matanya menyipit memperhatikan sosok Daniel. Sarah baru menyadari Wajah Daniel tak jauh beda dengan Pierce Brosnan. Sungguh. Mirip sekali. Rambut Daniel saja berombal tebal, persis Pierce Brosnan. Belum lagi rambut di kedua sisi pipi Daniel yang belum tercukur. Bagi Sarah, itu membuat Daniel tampak lebih tampan dan lelaki. Senyum simpul Daniel, bisa membuat detak jantung berdetak kencang. Ah, senyumnya seperti membobol hati Sarah. Benar-benar suatu perampokan tak berencana. Datang mengendap, diam-diam, tanpa permisi dan berhasil sukses mengambil harta cinta milik Sarah. Dua tahun. Dua tahun sendiri, itu lama, kawan! Perampokan hati ini begitu rela plus ikhlas diterima oleh Sarah. Disambut dengan meriah. Sangat meriah. Hey, Heleluyah…Sarah tak sendiri lagi. Sarah tak lagi sendiri berjalan di kota New York ini.
Senyum Daniel merekah. Segar sekali. Menyambut kedatangan sang kekasih, Sarah.
“Hey sayangku. Duniaku,” Daniel begitu gembira.
“Hey, Babe. Pembobol hatiku,” Daniel tersenyum mendengar ucapan Sarah seraya mengecup kedua pipi Sarah dan bibir tebal Sarah yang sexy itu.
Dalam hitungan detik kereta subway muncul di hadapan mereka. Sarah dan Daniel langsung naik.
Masih seperti kemarin, kereta selalu ramai penuh sesak. Namun keramaian ini justru dimanfaatkan Daniel dan Sarah untuk saling memberi mesra. Dan sempat-sempatnya Sarah menyuapi roti kandum, yang dibawanya tadi ke mulut Daniel. Tak masalah berdempet pun kemesraan bisa timbul. Itu tergantung pasangan masing-masing, mungkin begitu menurut mereka berdua.
Orang-orang di satu gerbong kereta bersama Sarah dan Daniel, tidak perduli pemandangan ini. Yakin, tidak semua yang tidak perduli. Beberapa memperhatikan, kemudian, “Terserah!” kata isi otak mereka. Beberapa memperhatikan, lalu , “Ah, seandainya saja..” ucap mereka sambil memelas. Beberapa dari mereka sebodoh amat , hal seperti ini sering terjadi, bahkan di jalanan pun mereka sering menemukan. Di setiap kepala manusia pasti mempunyai ucapan-ucapan berbeda mengenai kemesraan di depan umum, namun semuanya memberikan kesimpulan yang tidak berbeda. Barangkali sang kereta pun sirik melihat keintiman seperti ini dan merencanakan adegan mesra nanti malam apabila stasiun mempertemukan kedua kereta di dua jalur yang bersampingan. Bisa dikatakan tak hanya manusia saja punya rasa sirik, semesta pun punya rasa sirik ini.
Sekarang Sarah dan Daniel sedang minum kopi di gelas yang sama. Sehabis meneguknya, mereka saling tersenyum. Tersenyum lagi? Ya, mereka tidak bosan-bosan untuk tersenyum terus. Setelah tersenyum, kemudian bercumbu. Bercumbu yang sebentar-sebentar, tetapi dilakukan dengan penuh perasaan. Hemm, ini indah, tentu nikmat. Mungkin kenikmatanya melebihi rasa kopi dari kedai kopi terkenal di kota ini.
Biarkan. Biarkan mereka melakukan hal itu-itu saja. Yang terpenting tidak menganggu orang. Jika ada yang terganggu, ya tutup mata saja. Biarkan, sepasang insan ini memadu kasih. Biarkan kedua orang yang berusia sama , 40 tahun, cecintaan kembali. Yang satu duda. Yang satu janda. Tidak ada yang salah mengenai inikan? Ya, biarkan mereka serasa dunia menyetujui hubungan mereka. Biarkan pagi tersirami kecupan mereka yang menumpahi kelopak bunga. Sehingga sang bunga semakin muncul merekah mengisi pagi. Dua orang yang sebelumnya, hidup dengan hampa, kini mereka hidup kembali. Apakah ada yang protes mengenai ini? Sebaiknya jangan! Biarkan saja. Ya, biarkan. Satu kata. Biarkan!
Kereta berhenti. Beberapa penumpang turun, termasuk Sarah dan Daniel. Mereka pun berpisah sebelum keluar dari stasiun
*****
“Daniel tampan?”
“Dasar perempuan aneh, lelaki seperti itu lebih dari jutaan menumpuk di New York. Dan terus terang, ditambah penilaian objektif, Daniel itu sama sekali tidak mirip Pierce Brosnan. Apanya yang mirip?”
“Bingung, mengapa Sarah itu bisa menyamakan Pierce Brosnan dengan Daniel?”
“Pierce Brosnan itu tampan, sedangkan Daniel itu biasa saja. Asli, biasa!”
“Dasar manusia, kalau sedang jatuh cinta, mata mereka terserang buta!”
Kereta seri 56 C mengelengkan kepalanya, “Ada-ada saja. Setiap hari pasti ada yang aneh dan yang lucu. Ckckckck.”
“Wait, pembobol hati? Mungkin hati sarah itu berbentuk ATM dan berisi banyak dollar. Hahaha..Sarah…Sarah..” Seri 56 C tertawa keras sambil meluncur dengan kecepatan tinggi.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s