“Pulang”

Java-articleLarge

 

 

Perjalanan ini tidak seperti berada di jalan Tol. Ia Berkelok-kelok. Terlempari batu-batu. Dihujam lidah-lidah berpedang. Ditumpukkin perasaan-perasaan dari segala sudut. Ditangisi batin. Perilaku kikuk. Mata-mata pun tersebar dimana-mana. Ah, sebetulnya ini amat menyedihkan. Lalu aku bisa apa?

Titik nol. Beberapa kali tubuh ini melayang, entah tersangkut di langit mana. Dan kali pertama ini, tubuh jungkir-balik, berada dekat suatu titik. Mungkin di titik nol. Mungkin bukan di titik nol. Pastinya, aku banyak berjumpa manusia-manusia yang dihuni oleh suatu penyakit. Pastinya lagi, manusia-manusia itu mempunyai penyakit yang pemulihannya seumur hidup .

 

Pemulihan sepanjang hidup? Kalian pasti bertanya-tanya penyakit apa ini. Beberapa dari kalian menghindar, karena menganggap ini adalah sebuah virus dengan tingkat penyebaran paling cepat membunuh manusia dan dalam jangka waktu sebentar saja. Sebentar, namun penyakit itu sulit dilepaskan dan menempel terus hingga akhir hayat. Seumur hidup? Bukankah Ini sungguh mengerikkan, Kawan!

Aku tidak peduli apa jenis penyakit tersebut, terpenting bagiku saat ini adalah kembali. Ya, kembali ke asal muasal. Bersama pepohonan cemara di sepanjang jalan. Rumah teduh di puncak gunung. Deras hujan terus-menerus yang membasahi aku dan bumi.  Ucapan-ucapan philosophy yang bersetubuh di sekeliling dinding kamar. Dan ribuan obrolan di atas kertas. Aku merangkak tidak kesepian.

*****

Pulang. Di saat gemuruh hujan menjilati kulit tubuh – yang semakin hari bertambah berat. Aku pergi, hilang dari putaran bumi – lenyapkan pusat pikiran yang telah bertahun-tahun terkontaminasi. Pergi tuk mencapai titik nol.

Titik nol. Di suatu waktu aku bertemu kamu. Suatu waktu itu membuat kedua mata tertegun dan  langsung menangkap sosokmu. Sembilan puluh hari “setia” menyaksikkan satu tanaman tumbuh begitu indahnya. Bohong, bila aku katakan, aku tidak bahagia. Nyatanya, “Aku sungguh luar biasa bahagia”.

Waktu sedikit itu, tak sia-sia aku rekam bersama gambar-gambar menakjubkan. Ilustrasi demi ilustrasi terbingkai artistic, walau terkadang abstrak, walau terlalu bercampur warna, tapi aku pun terlalu menikmatinya. Nikmat yang berbaur ratusan kegusaran. Jadi, apa sebenarnya keinginan aku ini? Apakah hanya bisa menikmati saja? Apakah sinar dan bulir-bulir kebahagiaan itu akan menghampiri raga ini? Terlalu jauhkah aku terbang memetik bintang-bintang di langit? Atau aku memang terbit sebagai teman obsesi?

Dua hari lagi, sayang. Dua hari itu bisa kita “kacaukan” bersama. Atau aku jadi menggila menanti perpisahan. Malam dingin ini, telapak kaki jadi kaku, sekaku-kakunya, dan kamu masih meragukan hari besar itu datang. Hari itu sudah ditentukan sayang dan aku tak bisa meralatnya.

Ya, pulang. Sejauh-jauh mata memandang, aku berada di bawah samudera. Membuat kedua mata selalu terjaga. Untuk bersama membawamu pulang. Mengangkat segala teriakan-teriakan kuatmu tuk selalu menggema. Sejauh-jauh mata memandang, benarkah aku dan kamu pernah bertemu di titik nol? Sejauh-jauh mata memandang, aku masih di bawah samudera – melebarkan cinta yang entah manusia-manusia itu sebut apa.

Manusia-manusia yang katanya sejenis aku dan kamu. Padahal, aku kira aku bukan manusia lagi, melainkan kepakan sayap yang terbang hingga ke pegunungan penuh kesejukkan. Apa sebetulnya penyakit kita berdua, sayang? Argh, masih haruskah aku tanyakan lagi kepadamu tentang semua ini?

*****

Aku tidak terbatas. Tidak berukuran. Tidak bernama. Namun, aku masih punya identitas tertinggal di jauh sana. Sebetulnya, banyak sebutan atau nama di diriku, karena terlalu banyak nama-nama itu sulit mengerucutkan diri. Jadilah tak bernama. Mungkin ini tidak terlalu tepat. Tapi siapa sangka, manusia-manusia di bumi yang bernafas dengan normalnya, segan menyentuh nama asliku.

Terus terang, aku tidak peduli. Sama sekali tidak peduli. Apalah arti sebongkah nama. Toh, itu hanya identitas luar. Sedangkan identitas internal-ku mengatakan namaku adalah PULANG.

“Pulang..” mereka memanggil-manggil namaku di udara didampingi hembusan angin dari segala penjuru bumi. Kalian tahu, bahwa aku adalah tubuh perjalanan dari sebuah titik nol. Titik titik yang nantinya menjadi satu jalan lurus. Bisa jadi, kalian berada di antara tepi jalan atau di dalam aspal jalan itu. Ya, siapa tahu. Tidak ada yang bisa memastikan. Aku saja tidak bisa. Mungkin kalian bisa bertanya pada gerak-gerik dahan pepohonan yang meliuk-liuk bak sedang berdansa. Bisa jadi, mereka banyak jawaban dari pertanyaan kalian.

Di tutup malam kesekian, mataku mengantuk. Tubuh pun melemas. Nafas mulai tenang. Namun kumpulan perasaan-perasaan masih terkatup-katup. Di kedalaman laut terdalam, sebentar lagi, semua itu yang berada di pusaran tinggal menunggu waktu. Menanti mentari pagi bersinar bingkai senyuman indah. Kemudian, membentuk kembali di wajahmu. Ah, lagi-lagi kamu muncul menyergap, selalu saja mengganggu konsentrasi.

Katamu, “Pulang?…Ha ha ha..” Mengapa kamu berucap seraya terbahak? Kamu itu…Arghh, kamu memang menyebalkan dan salah satu makhluk yang sok tahu. Pulang, ya sesuai dengan namaku, aku akan pergi lagi. Pergi untuk pulang. Bersama rekaman-rekaman yang orang-orang gila itu ciptakan, termasuk aku dan kamu.

*****

Kata para dokter itu, kondisi  aku dan kamu mulai membaik. Aku kecanduan. Kamu kecanduan. Aku jungkir-balik. Kamu jungkir-balik. Aku bersusah payah. Kamu bersusah-payah. Aku mengubah kehidupan. Kamu mengubah kehidupan. Aku perempuan dan kamu lelaki. Aku si kalajengking. Kamu si malaikat pemanah.

Pepohonan cemara telah lama mengamati aku dan kamu dalam hitungan setiap detiknya. Ia bersuara, tapi berbisik. Hanya dinding-dinding mendengar semuanya begitu jelas. Kalian tahu, hujan deras itu pura-pura membantai dan tidak mengenal aku dan dia dan orang-orang sakit lainnya. Di malam paling ujung, para cemara itu membalikkan tubuhnya, berdiskusi tentang aku, dia dan orang-orang itu. Di malam itu pun, aku dan kamu, saling bergandeng tangan, saling berdekatan. Saling mencari keteduhan. Saling melepas. Di antara manusia-manusia gila itu, aku dan kamu tetap saja melakukan rutinitas nyaman itu di depan mata-mata mereka.

Aku terhanyut. Entah dirimu. Mungkin cinta kamu hanya  sebatas secangkir kopi. Atau  sebatas mangkuk indomie. Mungkin aku tidak pernah muncul di cermin kamarmu itu. Tidak pernah ada. Dan aku pun lagi-lagi mendesah di bawah samudera.

Pulang? Ya, aku pulang untukmu. Agar kamu lancar berjalan di titik nol ini. Agar kamu menyelesaikan semua yang mesti dituntaskan. Agar kamu tidak diolok-olok karena mencintai perempuan berusia 10 tahun lebih tua darimu. Mencintai? Ups, aku lancang! Pastinya, aku pergi tuk menghilang dari hal-hal yang membayangimu.

Di puncak gunung itu, kamu memulainya. Di antara pepohonan cemara itu, kedua mataku mulai menancapkan “kekuatan” dirimu untuk kali pertama. Di penghujung malam ini, kali pertama aku kisahkan tentang dua manusia sakit yang saling mengait. Semoga itu bukan manipulasi. Ingat saja perjalanan pulang dari perkebunan teh itu, kamu memeluk erat lengan, lalu dilanjuti bagan-bagan tubuhku lainnya.

Di malam sebelum dua hari mendatang, aku menangis di bawah samudera. Akankah kau hadir di ujung jalan sambil memeluk aku untuk terakhir kalinya. Akankah kamu menyelami laut mengauungi samudera tuk menjumpaiku kembali? Ah, ini seperti hanya menjadi obrolan-obrolan usang saja. Jika begitu, Selamat malam saja..!!..

*****

 Pulang. Ya, aku telah pulang. Dan aku telah berada di rumah. Lalu, bagaimana kabarmu di sana?..Kamu tahu, di setiap aku berjalan, ingatan di kepala ini melesat cepat memunculkan wajah dan seluruh adegan konyolmu. Ya, aku rindu.

Kamu tahu, aku tidak pernah tahu bagaimana caranya membagi rindu ini? Seperti yang sudah-sudah, rindu ini hanya tenggelam begitu saja. Tenggelam bersama perasaan-perasaan yang semakin hari semakin tak kuat karena semakin hari semakin bertambah banyak. Lalu, aku harus apa? Satu-satunya jalan, aku lemparkan rindu ini ke udara – agar angin menghembuskannya dan sampai di telingamu.

Sampaikah rindu itu? Ya, udara ternyata tak pernah telat mengabari soal rindu. Namun…Rindu itu kamu gunting-gunting hingga sepotong kertas berukuran jariku saja, tak terlewatkan darimu. Kamu benar-benar melenyapkan rindu itu. Melenyapkan segala cerita di satu rumah pondok itu. Melenyapkan pepohonan Cemara, dinding-dinding penuh cerita rahasia, kata-kataphilosophy, kolom-kolom berbagi, puluhan bungkus Indomie dan puluhan cangkir dan sachet kopi.

*****

  Kamu mengetuk pintu kamarku berkali-kali. Pintu itu tetap tertutup. Kamu langsung melangkah masuk. Aku masih tertidur nyenyak, tapi kamu tidak peduli, kemudian kamu bisikan di telingaku,” Bangun perempuan, bodoh! Berhenti bermimpi. Aku lelah menyaksikan mimpi-mimpimu yang masuk ke dalam tidurku…”

Tanpa menunggu respon dariku, kamu segera membedah kepalaku. Kamu julurkan tanganmu masuk ke kepalaku dan kamu ambil bongkahan-bongkahan mimpi milikku. Kamu pindahkan semua itu ke dalam kardus. Lalu, kamu paketkan kardus mimpi-mimpi itu melalui dedaunan di pegunungan Lembang.

Namun, Kamu tidak pernah memeriksa, apakah paket itu sampai ditujuan atau tidak. Yang aku tahu, paket itu tersangkut di Selat Sunda. Kardusnya pun telah terbuka dan isinya dibawa terbang oleh segerombolan burung berwarna putih. Aku tak pernah tahu apa nama jenis burung-burung itu, sama halnya dengan manusia-manusia di bumi ini – yang katanya mereka adalah manusia-manusia waras.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s