“Menggunting Jejak”

Cerpen menggunting jejak

Lala memang pernah dekat dengannya. Lala juga memuja-muja rambut sebahu wanita itu. Rambut bergelombang acak-acakan. Yang sering digerai begitu saja. Sering juga diangkat tinggi. Ya, wanita itu tidak pernah peduli soal rambutnya. Wanita itu juga kerap mengenakan celana jeans pendek sepaha plus baju kemeja. Dan tidak pernah mengenakan T-shirt. Kaca mata hitam selalu nangkring di wajahnya. Bibirnya tidak pernah lepas dari lip gloss strawberry. Dan sedikit bedak tipis. Sudah, begitu saja wanita itu berdandan. Satu lagi yang Lala suka dari wanita itu, kaki panjang dan putih mulus. Yup, wanita itu sudah tampak sempurna di mata Lala.
Lala tidak pernah menduga akan bertetangga dengan wanita itu. Wanita yang sebelumnya Lala pernah temui di taman kanak-kanak “Pelangi”. Wanita itu hampir setiap hari mengantar-jemput anak lelakinya. Lala tidak pernah lupa percakapan riang wanita itu, ketika Lala kali pertama dihampirinya.

“Hai, cantik sekali kamu. Siapa namamu?” wanita itu bertanya sambil mencubit pipi Lala.
“ Lala. Tante siapa?”
“Nama tante, Sandra sayang. Kamu ada yang jemput?”
“Itu Bunda sudah datang, Tante. Lala duluan, ya. Daaag…  Tante Sandra,”
“Daaag… Sayang. Besok kita ketemu lagi, ya?”

Singkat, namun lekat sekali di ingatan Lala. Apalagi mata Tante Sandra yang seperti mata kucing itu.
Bolanya berwarna hijau tosca. Pasti contact lens yang dipakainya, sehingga matanya bisa berwarna hijau. Cara Tante Sandra menatap pun begitu tajam dan dalam. Namun, Lala suka cara Tante Sandra memandang. Mata itu serasa penuh kebahagiaan selalu. Mata yang dikelilingi pijaran kasih sayang.

Setelah Tante Sandra menempati rumah besar-bertingkat tepat di depan rumah Lala, tidak jarang Lala melihat Tante Sandra duduk bebas bersama sebatang rokok di balkon lantai dua rumahnya. Terkadang Tante Sandra berbicara di ponselnya sambil menghisap  rokoknya. Tertawa cekikikan. Seolah-olah kehidupannya tidak pernah dirundung sepi dan kesedihan. Semua penuh tawa dan keceriaan.

Suatu malam, ketika Lala menutup tirai korden, Lala melihat Tante Sandra bersama seorang wanita seusianya. Mereka saling beradu-pandang; berpelukan mesra.

Lala langsung menutup kembali tirai itu. Lala jadi diam. Tidak berani membicarakan hal ini kepada siapa pun. Lalu, Lala tertidur. Esok harinya, Lala terbangun tanpa ingat kejadian tadi malam.

***

Kini, Lala menginjak remaja. Sebentar lagi Lala punya KTP. Sebentar lagi juga Lala punya pacar. Pacar?..Aiy..Aiy…Aiy…Sebentar lagi pun Lala masuk dunia kampus. Sebentar lagi Lala jadi wanita dewasa. Ehemmm… Lala tinggal menghitung hari saja. Walau sebenarnya tidak penting untuk dihitung juga. Tapi Lala punya banyak impian di kepalanya. Gelora-gelora mudanya meningkat tajam. Rasa ingin meraih sesuatu hal semakin menanjak. Anehnya, Lala sedari dulu tidak pernah menginginkan untuk menjadi wanita popular di sekolahnya. Lala tidak suka berkumpul-kumpul bersama teman perempuannya. Lala cenderung pergi ke café sendirian ditemani notebook-nya. Di sana, Lala cukup banyak mendapatkan kesenangan. Lala bisa melihat segerombolan muda-mudi menikmati masa muda; dua sejoli tersenyum mesra; eksekutif muda melepaskan penat; dan berbagai hal lainnya. Berbagai hal yang amat asyik dipandang Lala lewat kaca matanya. Dengan begitu saja, Lala sudah merasa hidup dan masuk ke alam mereka.

“Aku ingin kuliah di Sastra Indonesia. Suatu hari nanti aku akan menjadi penulis, karena aku suka bercerita tentang manusia dan dunianya,” begitulah kalimat yang selalu muncul di benak Lala.

Lala senang bukan kepalang, karena Ayah berniat menghadiahi sebuah mobil sport untuk ulang tahunnya. Lala tidak meminta perayaan pesta menyambut angka tujuh belas, tapi Lala kerap menyinggung mesin berjalan itu di hadapan Ayahnya. Sedangkan Bunda lebih memilih Laptop baru untuk Lala. Mobil sport dan laptop, ya dua hal yang bisa menunjang impian Lala. Kenapa harus mobil sport? Nah, ini dia hobi kedua setelah menulis;  balapan mobil. Lala lebih senang bermain bersama teman prianya yang menggemari dunia balap mobil. Memang Lala terlihat tomboy. Anehnya Lala lebih suka membiarkan rambutnya tergurai panjang legam. Ya, Lala memang telah tumbuh menjadi seorang wanita cantik. Wanita yang juga senang mengenakan celana pendek dan baju kemeja.

***

Andra, pria seumuran Lala. Anak yang dulu selalu di antar-jemput oleh Tante Sandra. Anak angkat Tante Sandra tepatnya. Andra dan Lala, waktu itu masih berusia sebelas tahun. Usia belum matang untuk melihat adegan panas-menghentak birahi-menggeliat adrenalin dan dialog desah dari Tante Sandra dan teman wanitanya. Terkejutkah mereka berdua? Ini sudah pasti. Andra dan Lala berkeringat dingin dan saling memandang satu sama lain. Mereka tidak mampu melangkah untuk berlari atau berjalan. Ini saking kagetnya menatap siapa pasangan Tante Sandra itu. Bunda! Hanya itu satu kata keluar dari bibir bergetar milik Lala.

***

Ada mata memarah merah saat Bunda mengecup pipi saat Lala berusia tujuh belas tahun. Telah terhitung banyak sekali halaman mengenai kisah Tante Sandra dan Bundanya di Laptop Lala. Setiap kali Lala mencium bau busuk pertemuan ‘diam-diam’ mereka berdua, Lala selalu mengikuti ‘kenakalan’ mereka. Mereka meninggalkan jejak-jejak tak terhapuskan dan menoreh kebencian di relung hati Lala. Benci tapi Lala berniat meneruskan kisah ‘keparat’ itu hingga selesai. Kemudian, Lala segera terbitkan ke mata dunia, biar dunia tahu wanita itu tak selalu agung; tak selalu menggagumkan; tak selalu mengabdi; tak selalu bersifat keibuan. Ya, wanita laknat yang berani mengkhianati suatu janji suci dan juga cinta. Karena cinta itu terkadang banyak bumbu pedasnya daripada bumbu nikmatnya. Karena sering lidah berkeluh hambar, nafsu mencari kenikmatan lain. Hanya gara-gara suatu rindu terpendam bertingkat-tingkat dan tidak kuat lagi untuk meredamnya. Ya, kebakaranlah rasa rindu itu. Membakar semua pantangan, tradisi, emansipasi dan kodrat. Jadilah rindu nikmat hangus ditelan debu-debu yang tidak mau hengkang dari tubuh mereka sendiri. Begitukah jika semua melihat dari sisi kaca mata Lala?

***

Kali pertama di usia dua puluh satu tahun, Lala punya pacar. Seorang lelaki yang tahu benar siapa Lala dari sejak kecil. Dialah Andra yang cintanya pada Lala tiba-tiba saja meletup-letup dan enggan digoyahkan oleh apa pun. Tiada bosan memberikan anggrek bulan putih berangkai-rangkai di halaman rumah Lala. Halaman belakang luas penuh taman yang sedari dulu menjadi tempat bermain mereka. Tempat penuh gelak tetawa serta tempat mengadu ‘keparat-keparat perempuan’ itu. Pada segala tumbuhan, kursi panjang, rerumputan, dan kolam renang berbentuk oval. Mereka lapang membuka dada dan pendengaran bagi tangisan dan canda dua bocah. Sekarang taman halaman belakang menjadi saksi kisah percintaan Lala dan Andra.

Ada batang tumbuhan berduri di sana. Selalu terluka jari-jari manis Lala menyentuhnya. Seperti tetesan luka datang berulang kali. Dan berkali-kali juga, Andra menghisap darah dari jari Lala.
“Jika dia luka, maka aku harus jilat lukanya. Dan tidak akan aku seka air matanya, jika itu tangisan kebahagiaanya,” ini prinsip terkokoh Andra terhadap kekasihnya, Lala.

Ah, kepala memang cenat-cenut. Bumi bongkar pasang berkali-kali. Patah berjatuhan tanpa disuruh. Tetap saja semua hal itu bergeser dan serasa punah di telan jaman. Yang bernama Cinta selalu punya tempat nomor satu di hati para peroman. Kedatangan amarah, keterlibatan pedih, keguncangan jiwa, serasa tertiup hempas oleh angin segar berharum cinta. Cinta mengajak membuana ke seluruh negeri bersama kepakan sayap berkulit asmara. Apalagi cinta baru terlahir di rongga-rongga para muda. Seperti bunga merekah di segala musim, beginilah suasana cinta Andra pada Lala. Dan seperti inilah Andra siap menghapus jejak-jejak luka Lala, karena nantinya Andra dapat melihat air mata bahagia turun dari singgasananya.

***

Ya, malam ini, malam yang tepat untuk menghabisi kedua insan ‘berdosa’ itu bersama guyuran hujan deras. Setelah kesekian kalinya, Lala dan Andra menyaksikan roman terlarang itu. Malam ini, seperti biasanya Tante Sandra menyambut Bunda dengan pelukan hangat. Lalu dilanjutkan meremas rambut hingga memburu Bunda naik ke ranjang Tante Sandra. Dan baru kali ini Lala dan Andra menonton permainan mereka yang amat dasyat menakjubkan. Membuat bulu kudu Lala dan Andra merinding serta menelan ludah karena tergiur oleh percintaan mereka. Terkesima, lebat dan menggulung-gulung. Telinga Lala dan Andra tidak sanggup mendengar percakapan-percakapan manis, serasa tiada nafsu, mengalir begitu saja akibat cinta yang menjalar ketulusan. Hidung Tante Sandra menciumi senti demi senti tubuh Bunda secara pelan-pelan, penuh hayat dan penuh cinta. Alangkah indahnya percintaan itu, bila dilakukan dua manusia berlawanan jenis. Sepertinya, kali ini Lala harus menyurutkan niatnya. Tapi sekarang timbul rasa iri.

Tante Sandra dan Bunda, dua sosok wanita yang dikaguminya, tapi juga yang dibencinya. Lala menoleh ke arah Andra.

“Tidak perlu iri, sayang. Ada aku di sisimu,” bisik Andra. Segera Lala menjadi sadar. Lala tidak perlu meragukan pemberian kasih sayang Andra terhadapnya. Bahkan Andra mampu membaca pikiran Lala. Namun masih ada rasa yang menggantung. Lala tetap tidak menerima perbuatan Bunda terhadap Ayah. Ayah yang telah bekerja keras memenuhi kebutuhan keluarga dan merelakan hidupnya siang-malam bertumpukan kertas-kertas kerjaan. Hanya sia dan pengkhianatan didapat oleh Ayah. Bisa ditebak Bunda rindu sentuhan mesra dari Ayah. Lala bisa pastikan hal ini. Terbukti Bunda lebih membiarkan kerinduannya itu lari ke pelukan Tante Sandra.

Gunting Stainless putih sudah ada di tangan Lala.
“Lakukanlah, bila itu dapat membuang lukamu,” tutur Andra pelan.
Lala menganggukan kepalanya dan matanya langsung memijar angkara pada dua insan memadu itu.

***

Aku dibuang ke lautan. Lala dan Andra membawaku dari Jakarta sampai ke pantai Kuta. Dengan naik boat mereka menyelam hingga di kedalaman. Hanya berdua. Hanya untuk menghilangkan bauku. Bau darah milik Tante Sandra dan Bunda. Anehnya, Lala dan Andra tidak pernah naik ke permukaan. Mereka malah membangun istana dalam laut. Dan aku bukan dijadikan benda pusaka, melainkan dijadikan anak oleh mereka. Menurut mereka, ”Jejak-jejak usang tak perlu hadir ke tanah lagi, kecuali jejak-jejak itu menyimpan pupuk buat pencerahan di bumi.”

Sebetulnya aku sakit hati dengan pernyataan mereka itu. Apakah aku tidak bisa mencerahkan jiwa manusia? Apa aku hanya membawa maut kematian? Tapi bila kupikir-pikir kembali, aku seharusnya beruntung. Lala dan Andra tidak meninggalkanku. Dan aku telah berkuasa menggunting jejak-jejak yang tak selayaknya lagi bagi mereka untuk terus hidup. Karena hanya akan mengakibatkan luka saja.

Di dalam dinginnya laut Lala tidak pernah melepaskan celana pendeknya. Celana pendek yang memberikan sosok Tante Sandra yang dulu Lala kagumi dan dibenci akhirnya.

“Ach, besok aku harus menggunting celana pendeknya itu. Lala pasti lupa dan tidak sadar jejak-jejak itu masih berbintik lekat di celana itu,” ini tekadku. Tekad sebuah Gunting Stainless putih.

Cerpen ini pernah dimuat di Kompas.com Dan Kampung Fiksi

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s