Kisah Permohonan Klasik Untuk Masa Depan

Satu hari. Dua hari. Tiga hari. Sebulan. Dua bulan. Tiga bulan. Kinan hampir saja pingsan. Bagaimana tidak?

“Kinan, will you marry me?”

Kinan menatap lurus wajah Arkan, “Ini becanda, khan?”

Arkan tersenyum dan mendekatkan bibirnya ke telinga Kinan, “Aku serius!”

*****

Permainan malam hari telah selesai digelar. Tubuh Kinan dan Arkan merapat. Mata Arkan memandang tajam masuk lurus ke mata Kinan.

“Usia kita sudah tua. Aku ingin cepat punya anak. Besok aku mau ke dokter, bertanya ‘bagaimana posisi terbaik untuk menghasilkan anak kembar tiga..”

“Apaaaa?..kembar tiga? Kamu sudah gila, ya?”

“Kinanku sayang, itu justru mempermudah kamu. Jadi kamu ngak perlu hamil lagi,”

“Hemm,” Kinan mengkerutkan dahinya. “Benar juga kamu. Ok, besok ke dokter.”

“Atau kita bisa mengkloningkan anak. Jadi jika kamu lahir satu bayi, kita bisa kloningkan menjadi tiga. Gimana sayang? Setuju dengan ideku?”

“Hah, kloningggg?! Emang bisa?”

“Ya kamu browsing aja di google.”

“Hahaha…” Kinan dan Arkan tertawa bersama.

*****

Aku tersenyum membaca diary nenekku Kinan. Sebuah diary yang ditulis sebelum Ia menikah. Bahkan percakapan-percakapan pun turut dimasukan oleh nenek Kinan ke dalam diarynya. ckckckckc. Tercatat tanggal 28 December 2012. Sekarang 28 December 2062 dan aku melihat mereka berdua tidur di atas pasir pantai. Mereka hanya 500 meter dariku dan aku dapat mendengar percakapan mereka yang terselimuti angin laut.

“Nama Kinan sudah tak pantas buat perempuan tua seperti kamu. Cocoknya ya buat gadis-gadis muda,” Kakek Arkan menyentuh pipi Nenek Kinan dengan jari telunjuknya.

Nenek Kinan langsung menengok kakek Arkan,”Kamu kira nama Arkan masih pantas buat pria tua seperti kamu. Lihat tuh rambut putih semua.”

“Lihat tuh, badan keriput semua,” Kakek Arkan tak mau kalah.

“Lihat tuh tubuhmu sudah peyot. Sudah tak kuat lagi bikin anak kembar tiga.”

Kakek Arkan tertawa. Dia masih memandangi nenek Kinan. “Tapi kalau tidak ada ideku, kamu tidak punya anak kembar tiga.”

Nenek Kinan tersenyum manis.

“Kamu dan aku sudah rapuh. Tapi cintaku tak pernah rapuh oleh waktu,” Mata kakek Arkan tajam menatap nenek Kinan.

“Terima kasih sayang. Aku bahagia. Dan aku masih tak berdaya melihat tatapan matamu yang tajam bagai elang itu. Ah, kamu masih memilikinya, Arkan.”

“Dan aku masih saja senang kamu mengagumi mataku. Itu membuatku nyaman dan gede rasa. Ya, seujur ini aku masih ada rasa gede rasa karenamu.”

“Kita selalu seperti anak muda, Arkan. Masih pantaskah kita begitu?”

“Selalu pantas untuk kita. Untuk yang lainnya, semoga. Yang terpenting kini ada kamu dan aku. Permohonan apalagi yang akan kamu minta dan tulis di diary, saying?”

“Aku ingin kita mati bersama. Dimakamkan bersampingan. Bukankah itu suatu permohonan yang muluk?”

“Hemm,tidak, justru itu suatu permohonan yang indah sayang,” Kakek Arkan mencium kening dan bibir nenek Kinan. Mereka saling berhadapan. Saling bertatapan. Saling tersenyum dan saling bergandeng tangan. Bahagia sekali. Sangat bahagia. Itu terpancar dari wajah mereka. Tubuh mereka saling mendekat. Tak lama mereka tertidur.

Ah, ini membuat aku sirik. Aku beruntung bisa membaca bibir manusia, bahkan dari jarak jauh. Aku bisa mengetahui perbincangan-perbincangan asmara mereka. yang terpenting aku bisa tahu bahwa kehidupan percintaan mereka ini, tumbuh dari suatu permohonan klasik untuk masa depan. Ya suatu permohonan yang diucapkan di hati dan ditulis di diary nenek Kinan.

Kata orang banyak, “Hati-hati dengan sebuah permohonan yang kau pinta.” Urghh, aku amat tidak setuju dengan ini. Sangat..sangat tidak setuju. Karena aku telah melihat buktinya di depan mataku. Diary ini, ya ini bukti penting bagi sejarah keluargaku.

Mungkin juga kalian menganggap ini terlalu mengada-ngada. Ini terserah kalian. Suatu permohonan klasik untuk masa depan yang tertulis di diary dan menjadi realita romantic. Aku jadi berkesimpulan, bila permohonan itu lahir dari cinta, ketulusan dan bersifat baik, Insya Allah, Tuhan akan mewujudkannya. Bagaimana jika Tuhan tidak mewujudkannya? Mungkin kalian harus mengkaji kembali permohonan kalian. Atau buat saja permohonan baru yang lainnya. Toh. Lembaran kertas masih tersedia di muka bumi, bila habis pun, kalian bisa mengetiknya di computer. Dan lebih paten lagi, kalian tulis permohonan itu berulang-ulang di hati kalian. Seperti nenek-ku, menulis di diary dan kepalanya beribu-ribu kali.

Aku menghampiri mereka. Mereka tidak terbangun. Biasanya mereka selalu tahu kalau ada orang yang menghampiri mereka ketika mereka tidur di atas pasir pantai ini. Aku goyangkan tubuh kakek Arkan. Tak bergerak. Kaku. Aku goyangkan tubuh nenekku KInan. Tak bergerak. Kaku. Kali ini mereka benar-benar tertidur. Tidur yang panjang dengan membawa cinta yang tak pernah runtuh. Bahkan ketika badai hadir, mereka masih bisa menghalanginnya.

Hujan rintik-rintik bulan December mengiringi kepergian kakek dan nenekku. Dan aku kini yang menulis di diary nenek Kinan. Suatu permohonan buat mereka di masa depan, agar Allah segera mengampunkan dosa-dosa mereka dan mengabadikan cinta mereka di surga. ini suatu permohonan yang klasik, bukan?

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s