Aku Belajar Menulis #Minggat

Raia pertama kali belajar menulis pada usia 15 tahun, tulisan pertama bercerita tentang Tante Badriah yang melahirkan anak pertama. Kalau tidak salah sekitar 500 kata narasi dan 1 dialog, “Anak lelaki yang cakep”, diucapkan oleh Bunda, lalu Raia membalas,”Terlalu kecil menjadi teman Raia.”

Tante Badriah adalah tetangga paling cantik di komplek perumahan BPPT Kebun Jeruk, rumahnya bersebelahan dengan rumah orang tua Raia. Tulisan kedua sampai tulisan kelima, berkisah mengenai kecantikan Tante Badriah yang malah keluar ketika menyusui anak. Tulisan keenam dan selanjutnya, tidak lagi bicara Tante Badriah, melainkan seorang anak muda yang tidak pernah bosan mengirimkan surat cinta kepada Raia, meski tidak pernah dibalas.

Sekali saja balas suratku, aku janji tidak akan mengirimkanmu lagi. Kalimat ini ada di dalam surat, dengan penuh hasrat Raia masukkan ke dalam tulisan cerpennya. Berpuluh-puluh surat selanjutnya, tidak juga dibalas, Raia memang sengaja melakukan itu. Sebab, dia tidak mau kehilangan tokoh utama sekaligus energi menulisnya. Dan cerpen menjadi cerber. Sebuah tulisan panjang yang tidak pernah dibaca siapapun, tapi selalu membuat Raia tersenyum dan kreatif menuliskan kisah lain.

Satu Meja, cerpen karya Raia pernah di-publish Jawa Pos, bercerita mengenai 4 wanita Tionghoa yang doyang main mahjong. Ide cerita diambil dari senior-senior perempuan kampus, mereka punya prinsip yang sulit digoyahkan: gaple lebih prioritas daripada masuk kelas. Saat itu usia Raia 20 tahun, mengambil kuliah jurusan keuangan internasional di universitas negeri yang banyak dikagumi se-Nusantara. Sedangkan, pria si penulis surat mengambil kuliah arsitek di insititut teknik yang juga digandrungi pemuda-pemudi Indonesia. Si Penulis Surat lebih tua 3 tahun, sejak SMA sampai kuliah, masih terus mengirimkan surat cinta kepada Raia.

Sampai suatu hari, Raia lupa kalimat sakral Si Penulis Surat, karena terlalu gembira melihat kedatangan sebuah amplop – lalu membalas surat dari seorang – yang ternyata dia cintai tanpa pernah diungkapkan. Selama dua minggu, Raia menanti balasan surat darinya, tapi hanya sia-sia. Raia pun teringat kalimat tersebut dan menyesali kosakata “lupa”. Selama satu tahun, Raia tidak menulis sama sekali. “Tuhan, mengapa dia menepati janjinya?” terus berulang di kepala Raia.

Satu tahun berkembang menjadi lima tahun. Kehilangan Raia cukup sampai satu tahun, tahun kedua sampai tahun kelima, kehidupan Raia lebih semarak daripada puluhan surat cinta—walaupun tetap tak ada tulisan. Saking berseri-seri kisah percintaan masa muda, Raia justru bahagia karena telah mendarat di kota New York. Raia minggat dari Indonesia karena tidak tahu bagaimana menolak pernikahan. Dia bukan tidak cinta bersama Adi, kekasihnya. Tapi Raia tidak yakin bisa menghabiskan sepanjang hidup bersama Adi.

Hepi, ini nama asli dari pria muda yang pintar membuat sushi di salah satu kedai Jepang di Manhattan. Hepi-lah yang mendorong Raia untuk menulis kembali.

“Nggak sekolah, nggak kerja juga, mending kamu nulis lagi, di sini banyak yang bisa di-explore.”

“Tapi aku sudah lama nggak nulis.”

Hepi bilang, apa salahnya belajar menulis lagi, belajar itu seumur hidup. Memang tidak ada yang salah dan benar belajar itu sampai mati. Namun, Raia masih enggan. “Mungkin aku harus cium mata besar kamu biar kamu menulis lagi.”

Hi, big eyes,” entah mengapa orang-orang yang ditemui Raia selama perjalanan pulang dari kedai ke apartemennya, mereka menyapa dengan sebutan yang sama dengan Hepi. Pada malam di musim dingin, Raia mengambil secarik kertas dan mulai menulis.

Menuliskan tentang Andrew, pengacara yang suka mengedipkan mata bila berjumpa Raia di pagi yang sibuk. Tentang Chris yang bekerja di kedai bagel dan selalu senang dapat pacar orang Asia. “Mereka itu eksotis dan menghargai laki-laki.”  Raia langsung merespons,”Saya juga Asia, tapi kamu nggak pacarin saya.” Chris terbahak menanggapi, “Hmm, struktur wajah dan hidung kamu kayak orang bule, eh, benar kan lafalnya bu – le?”

Kemudian, tentang Sam, Si Kakek yang merancang bandara udara di beberapa kota di Amerika. “Ini meja kita setiap pagi. Tidak ada yang pernah duduk di meja ini, ‘kan, selain kita?” Setiap melihat meja tersebut kosong, dia selalu tertawa, lalu memesan dua kopi, satu untuknya, satu lagi untuk Raia. Lalu dia bercerita anak-anaknya. Lalu dia mengenang masa-masa bekerja untuk negerinya. Lalu dia bertanya, apa impian Raia …. “Membangun Mesjid,” jawaban Raia membuat garis-garis wajah Sam berubah, “Berarti saya tidak boleh mati dulu sebab saya yang akan mendesain Mesjid kamu.?”

Tulisan tentang Andrew, Chris, Sam, dan Tante Nani, Susan, Mitchell, Paula, Om Bambang, dan lainnya, Raia ketik dalam computer, lalu di-print dan diberikan kepada mereka. Tahukah bagaimana perasaan mereka setelah membaca tulisan Raia?

Momen itu tersimpan manis dalam ingatan Raia. Setahun kemudian, Raia kembali ke Indonesia. Hubungan dengan Hepi terus berlanjut, meski status berubah. Mereka sadar “bukan jarak yang memisahkan, melainkan urusan mau atau tidak mau.”

Dia tidak pernah mengaku berapa usia atau tahun kelahiran. Raia tidak ambil pusing. Sebab Raia telah terlatih menjadi ‘intel’ kawakan versinya sendiri. Berdasarkan pertanyaan berulang-ulang, usia Adrian 27 tahun, berarti Adrian lebih muda 15 tahun dari Raia.

Pertama kali melihat tinta goresan Adrian, Raia langsung yakin dia anak muda yang potensial. Kira-kira delapan bulan ini, Adrian mulai mengumpulkan lukisan untuk dipamerkan. Setiap lukisan Adrian merasuki pikiran Raia, sehingga setiap malam dia bermimpi tentang ‘emosional’ Adrian.

Raia memang masih menulis, tetapi dia benci dengan tulisan-tulisannya. Jika penulis tidak suka sama tulisannya, maka jangan harap pembaca menyukai tulisan tersebut. Sebuah lukisan Adrian yang diberikan judul “Aku” oleh Raia (pemberian yang tidak resmi dan tanpa sepengetahuan Si Pelukis) mampu memecahkan batu menjadi serpihan yang berkelana. Hingga mencapai berbagai dimensi sublim yang terurai.

“Sejak pertama kamu datang, aku sudah cinta, tapi kamu jangan cinta sama aku, ya.”

“Aku hanya percaya cinta Tuhan dan Ibuku, jadi nggak perlu khawatir aku akan cinta padamu.”

“Tapi mengapa masih ada Noah dalam percakapan kita?”

Raia tersenyum, tidak ada maksud apa-apa dalam hal ini. Dia berupaya menyinggung nama Noah karena ingin tahu, bagaimana perasaan Si Pelukis melakukan dosa yang bahagia dengan mantan kekasih dari salah satu orang yang dikaguminya. Noah, penulis yang perlahan dihantam oleh idealisme yang didendangkan penuh kegembiraan sebelum kini.

Raia hanya ingin … tidak, tidak boleh ada ingin pada bagian ini, unsur apa pun!

“Kamu bayi yang cakep, aku sudah jatuh cinta.”     

Raia 15 tahun, tidak pernah menuliskan ungkapan itu di atas kertas maupun mesin tik, hanya dalam rasa dan memori.

Raia 42 tahun, “Nyatanya aku jatuh cinta.”  Namun, kode-kode tak muda dipecahkan, bahkan sulit mengenal tanda-tanda. Tidak boleh berkasih-kasih-an dengan pria yang usia 15 tahun lebih muda. Kalimat itu serupa peringatan terselip ancaman. Wajah cantik Tante Badriah muncul lagi. Kalimat, “terlalu kecil menjadi teman Raia” ibarat sabda sepanjang masa.

Raia, 35 tahun, mulai menulis cerita fantasi berjudul Toiletta dan Si Pelukis, edisi lanjutan dari Ssst, ada apa di Toilet Wanita. Masih mengambil lokasi yang sama: kota New York, hanya menambah 3 kota di Jawa.

Sebuah lukisan hancur berkeping-keping pada tanggal 9 September 2001. Hanya gambar teratai yang utuh. Tapi tokoh-tokoh lain dalam lukisan tersebut, satu per satu jatuh hati pada Toiletta dan mengejarnya. Toilette berusaha menyatukan gambar-gambar itu, kemudian mencari gambar yang masih kosong:bunga teratai. Petualangan Toiletta berakhir di Banten Lama, bertemulah Raia dengan bunga teratai bersama kalbu dan Adrian, perisitwa ini terjadi ratusan tahun lalu.

“Namaku Adrian, sebutkan namamu dan jelaskan mengapa menginginkan lukisan terataiku?”

“Namaku Toiletta … eh, … ehm, aku … aku tidak tahu … eh, aku tahu, mereka yang menyuruhku ….”

“Mereka?”

“Iya, mereka ….”

Ssst, Raia tuliskan sesingkat-singkatnya mengenai lukisan Adrian yang telah ada sebelum berjumpa Adrian 27 tahun. Ssst … Adrian bukan anak Tante Badriah. Ssst, … maka Raia memutuskan minggat, untuk belajar menulis, untuk segalanya.

Raia 5 tahun berbicara dengan dinding. Katanya seorang sahabat tidur di dalam dinding. Sejak saat itu, nenek Raia membelikan buku kosong dan peralatan menggambar. Kedua medium tersebut tidak pernah digunakan Raia, tapi menulis dan mengambar dilakukan di dinding.

Menulis kisah nyata dan khayalan sama asiknya. Bahkan, khayalan pun bisa jadi nyata. O, kata -kata, ketika aku minggat, aku belajar menulis (lagi).

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s