Albi Linn

Namaku Albi Linn. Bukan berasal dari Indonesia. Tapi sejak bayi aku sudah dibawa oleh seorang saudagar India ke negeri yang kaya raya ini. Hari ini, sabtu,  31 Maret, pukul 16.00 WIB, aku duduk di tepi pantai memandang laut dan langit yang luas. Entah kenapa, hari ini, aku mulai berupaya mengembalikan ingatan-ingatanku yang hilang. Yang dikikis oleh bangunan-bangunan beton. Yang suka aku teriakkan, “Biadab!”. 

Tapi, karena mereka, aku bertemu seseorang yang mirip kekasihku, Samara. Melalui kecerdasan teknologi, aku berkenalan dengan pria yang memendam riwayat masa silam. Di dadanya, aku melihat kitab-kitab yang tersusun rapi. Dan, di matanya, aku seolah sedang menatap Samara.

Menjalin cinta dengannya, membangunkan cintaku yang ternyata terkubur selama ratusan tahun. Sebut saja namanya Wijaya. Dia seperti mengejutkan otakku untuk bangun. “Jangan tidur terlalu lama, sayang,” suatu malam dia bisikan kalimat ini di mimpiku. Detik itu juga, cintaku perlahan bangkit dari ranjangnya. Anehnya, di waktu bersamaan jalinan kasih bersama Wijaya, aku bertemu seorang dari generasi millenial yang diam-diam menggodaku melalui megalitikum.

Gorga, ya, dia pria yang dari bibirnya keluar nada-nada petunjuk yang sampai saat ini masih terekam dalam cintaku. Pria yang juga meninggalkanku di Gunung Padang, dan membuatku kembali ke dada Wijaya. Sepertinya, Gorga sengaja membiarkan itu terjadi.

Hari ini, sabtu, 31 Maret, Pukul 16.05, selama 5 menit aku mengingat jalan-jalan silam dan panjang yang berbentur masa kini. Dan, aku masih saja belum bertemu Samara. Maka, aku putuskan untuk mencarinya. Aku pun pulang ke Jakarta, meninggalkan Gili Trawangan, sebuah pulau yang bantalnya mengalir kolam ludah para pendatang.

Di Gili maupun di Jakarta, tubuhku bertambah berat karena apa yang dihidangkan di depanku pasti kulahap. Aku jadi kesal sendiri, sebab kapal yang membawaku hampir tenggelam akibat berat badanku. Turun dari kapal, Sunda Kelapa jadi gempa bumi. Kata orang-orang yang menyambutku, “Badan Mbak pedas.”

Hah … apa aku tidak salah dengar?

“Tidak, telingamu tidak salah dengar. Yang salah, kenapa kau harus kembali lagi ke Kalapa?” Lelaki setengah abad itu tiba-tiba muncul bersama sepedanya.

“Aku tidak kembali ke Kalapa tapi ke Batavia.”

“Wahai ratuku, maaf aku lancang … ”

Tunggu. Ratu? Apakah aku dulu seorang Ratu? Jika iya, namaku bukan Albi Linn.

Lelaki itu menghentikan ucapannya. “Apakah kekasihmu, Wijaya tidak pernah bercerita?

“Ah, aku lupa, bagaimana kau mau mendengarkannya sedangkan kau sangat membencinya.”

Dahiku mengeryit. Kupandang dia lama. Bertanya dalam pikiran, apa maksud ucapannya. Semakin lama aku menatapnya, makin jauh tubuhku tak menyentuh tanah.

“Aduh, Mbak, saya tidak mengerti bahasa Sangsekerta,” wajah lelaki tadi berubah menjadi pria muda yang entah bagaimana terjadinya, saat ini, aku dan dia sedang duduk di bangku KRL. Aku juga tidak tahu mengapa aku memegang note bertuliskan huruf-huruf Sangsekerta. Barangkali itu bukan Sangsekerta. Entah bahasa apa .

Kata pria muda itu, aku baru saja naik dari Stasiun Kebayoran. Duduk di sampingnya, langsung menanyakan alamat yang ada di dalam note. “Mbak, ini baru beberapa menit. loh, masa sudah lupa?”

Aku menarik nafas panjang. Memandang ke luar jendela. Lalu, berkesimpulan bahwa aku sedang tersesat di antara masa dan masa. Tak lama, aku sudah berhadapan dengan pria yang mesem-mesem melihatku.

“Kenalin, nama abang Benyamin, kalau neng, namanya siaaapa?”

Kali ini, aku tidak terkejut, malah aku menyambut uluran tangannya, “Namaku Albi.”

“E … mukanya kelihatan lapar, tuh. Sudah makan? Kebetulan di warung seberang, jengkolnya enak banget. Neng, harus cicipin.”

Dari dia-lah, jejak demi jejak mulai muncul di udaraku, di cintaku. Yang penuh harta karun milik Nusantara. Aku lanjutkan fiksi ini ke medium yang berbeda. Fiksi yang bukan fiksi.

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s