Do-re-mi-fa-sol-la-si-do

Bukan maksudku mau berbagi nasib

nasib adalah kesunyian masing-masing

Seperti sebuah lagu yang popular dan yang tidak terkenal. Seperti kepribadian yang terbagi-bagi, Saia selalu mengikuti ‘kecerdasan’ setiap pria yang diajaknya bermain gitar. Setiap kepala, Saia menjatuhkan diri pada pelukan cara si pria menciptakan takdir sekaligus nasibnya.

Ya, seperti Kota Sagitarius yang membuat personality Saia menjadi do-re-mi-fa-sol-la-si-do. Yang menyibak rambut merahnya dalam tangga-tangga nada beralur temporal. Kemudian telanjang bersama Edmund Husserl. O, aku pulang, sayang…

Kupilih kau dari yang banyak, dalam dekap retensi yang segar

Pada kronik  kitab ketiga, kesadaran Saia memudar sekilat pergerakan awan-awan yang berkesinambungan. Yang kemudian, pecah dalam dinamika. Menyembur tubuh Saia dan mengubah warna kulitnya. Menjadi rona alam seruling. Maka, Saia jadi serupa situs. Sesegar pinus pada masa sebelum sebelum sebelum.

Saia kembali membuka kelopaknya pada Edmund. Memperlihatkan anggrek-anggrek putih yang tetap hidup, bermain irama-irama penuh kesadaran. Sekelebat, Edmund menatap luka dan luka yang tak beranjak. Yang terdengar melodinya sampai ke jantungnya. Yang dilakukannya, menciumi ketiak  Saia, phronema. Menyaksikan Sagitarius meminum anggur rasa pelangi. “Aku seksi. Kamu Seksi. Kita seksi,” begitu kira-kira liriknya.

“Bisakah aku melihat kamu melihat aku?”

Pertanyaan Edmund  membuat Saia bisu.

Aku  pernah ingin benar padamu. Dan menjadi permanen sekarang. 

Lagi, Edmund menatap ruang dengan sudut-sudut yang tajam. Terang dan tak berani padam. Berbinar dan  pendam. Bersama purnama yang cinta mati pada ujaran kekaguman. Lalu, Edmund menikmati kedua mata Saia. Seketika, respon eksplorasi, menampilkan dimensi penuh kunci.

“Do-re-mi-fa-sol-la-si-do,”  Edmund bernyanyi. pelan 

Di malam raya, aku menemukan aku. Yang hilang semenjak masa kanak-kanakku.

Do-re-mi-fa-sol-la-si-do,” Edmund sambil  menitikkan air mata.

Aku dan aku, kita. Berpelukan dan berciuman tanpa jemu, tanpa jeda. 

Do-re-mi-fa-sol-la-si-do,” Saia jadi mengikuti bunyi yang keluar dari Edmund.

Jangan satukan hidupmu dengan hidupku.

Saia mendorong tubuh Edmund. Lalu, didekati lagi, dipukul dari tangga do sampai do.

“Saat mimpi hanya satu. Apakah kemudian aku jadi hantu?” Isak Saia. Lampu di ruangan yang hanya ada Edmund dan Saia, meredup, terang, meredup, terang, meredup, terang.

“Dulu kau bidadari, mengapa sekarang jadi kuntilanak?” Edmund menatap Saia lekat. Tak terduga, ruang dipenuhi tombol-tombol, yang mengkristal jadi simbol. Edmund menekan salah satu tombol yang berlanjut intuisi. Yang membuat orang di luar mereka  hadir. Dan intuisi itu tersimpan dalam degup Paul Ricoeur. Tanpa ekspetasi, Capricon menerjang peristiwa itu. Dibantu Aquarius yang menuangkan semburan merah muda.

Saia berubah menjadi gadis remaja. Berambut hitam tebal. Penuh tawa dan canda yang cemerlang. Pandai meloncat indah. Memiliki senyuman berpartikel semburan api yang tak berbahaya.

Bukan maksudku mau berbagi nasib.
Nasib adalah kesunyian masing-masing.

“Tapi aku mau kau membaginya denganku,” ucap Paul spontan.

“Tapi aku belum ingin benar  bebas darimu,” sela Edmund.

“Aku pilih yang paling memesona ciptakan ‘takdir’,” jawab Saia seraya mengedipkan mata kanannya.

“Ah, sepertinya aku mencium kau sedang berada di suatu kota. Pastinya, bukan Sagitarius, Capricorn maupun Aquarius,…”Edmund membalas kedipan mata Saia.

“Kotaku tak berzodiak,” Saia tersenyum pada Edmund.

Paul menikmati setiap gerak yang menyimpulkan kebebasan yang manusiawi dari ujung rambut sampai jari kaki Saia. Baru beberapa menit berjumpa, Paul sudah tertarik, dan semakin tertarik dengan Saia. “Saat ini kau siapa?” Tanya Paul pada Saia.

“Aku adalah Bahasa yang penuh,  mengalir di satu sungai  bukan seribu,” jawab Saia renyah.

Do-re-mi-fa-sol-la-si-do menyeruak kembali. Do akan selalu berakhir di do. Namun, Saia bisa mengulang do dengan kemerduan yang berbeda, yang lebih baik, yang lebih pas. Yang lebih indah? Ah, keindahan punya kesunyiannya masing-masing. Semuanya indah.

 

*****************************************************************************************************

Dari “Pemberian Tahu” milik Chairil Anwar, setelah membaca sebuah “Saia” untuk Djenar yang diungkapkan oleh seorang teman.

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s