Perempuan dan Kotanya

 

ONE

Dia punya kota sendiri. Tersembunyi dan dijaga ketat oleh pengawal-pengawal bertubuh pesai. Di kotanya, waktu berjalan tanpa durasi, mengalir bak air sungai berwarna merah muda segar. Pohon dan tumbuhan bernafas melalui oksigen padat dan utuh. Dedaunan dan buah-buah sari tumbuh sempurna.

Penghuninya memiliki susunan rumah berpondasi batu bumi. Tanpa pintu dan atap terbuka lebar. Siapapun tamu yang mengunjungi disambut selamat datang, disajikan aneka hidangan yang dimasak melalui tungku yang tidak pernah mati. Tempat tidur, kain dan bantal yang dirajut benang-benang merah, dipintal dekade.

Setiap harinya, dia merawat tanaman-tanaman yang berada di kebun rumahnya. Disiram sehingga tumbuh lebat, menjalar liar, raya. Lihat, lihatlah ke arahnya, sekarang. Dia menguyur bunga-bunga taman yang mengembangkan tangkai-tangkai kukuh. Malamnya, dia memandang purnama yang memiliki slide berdengkung, yang memanggil-manggil lamunan kirana. Purnama sidi. Lihat, wajahnya tersenyum manis.
Siang, dia berinteraksi dengan pedagang-pedagang pasar, untuk bernyanyi. Menyanyikan Sri dan masa panen, gembira. Ketika senja, dia dan semua penghuni kota terpejam, melanglang, bebas, mengeliling kota seraya bersiul-siul dengan tutur cakapnya sendiri.

Kota itu ramai dengan kesunyian yang diciptakan. Sunyi yang dalam, lepas, rubuh. Aku coba mengunjunginya, aku disambut antusias, diberikan baju ganti keemasan yang tak berkarat. Aku diberi minum anggur keabadian. Disuguhkan cemilan legit. Berkenalan dengan satu per satu penghuni yang bermahkota di kepalanya. Mendengarkan kisah denyut mereka berulang-ulang, hingga melejit ke udara, tinggi sekali.
Dia bilang ingin menyiram taman. Tak lama dia bertanya, “siapakah aku dalam pikiranmu?” Dia lupa keinginan jumpa air dan tanaman.

Padi diam saja. Tapi Dia bertanya lagi. Sebab, di kotanya irama harus terus berbunyi, bertalu-talu. Siapa yang bisa menghentikannya?

“Kamu adalah Gendis, wanita yang selalu ada dalam pikiranku.”
“Apakah kamu mencintai aku?”
“Aku cinta kamu sepanjang masa.”
Dia tersenyum, keluar dari kotanya, menuju ke pelukan Padi.

 

TWO

Aku terkejut melihat kota itu. Seluruh dinding-dinding kota melukiskan kalimat-kalimat sastra. Lampu-lampunya, penuh warna-warni berpendar sastra. Rimbunan pohonnya mengantungkan dedaunan yang menorehkan sastra. Dan bait-bait sastra setiap waktunya keluar dari bibir para penduduknya.

Karena
dalam taman punya berdua
Kau kembang, aku kumbang
aku kumbang, kau kembang.
Kecil, penuh surya taman kita
tempat merenggut dari dunia dan ‘nusia

Untaian itu kudengar dari sepasang kekasih yang berdiri saling berhadapan. Lalu, mereka berpelukan erat. Lalu, si pria secara perlahan, meninggalkan si wanita. Lalu, si wanita menatap jarak. Sedangkan aku berdiri mematung saja.

Seratus meter dari tempat aku berdiri, kulihat dua orang pria berjubah panjang putih yang berjalan.

Isi gelas sepenuhnya lantas kosongkan
Tembus jelajah dunia ini dan balikkan
Peluk kucup perempuan, tinggalkan kalau merayu
Pilih kuda yang paling liar, pacu laju
Jangan tembatkan pada siang dan malam

Ah, aku tidak mengerti percakapan mereka. Tiba-tiba, Pandanganku teralihkan pada  seorang wanita yang sedang bernyanyi. Suaranya merdu. Wajahnya cantik tapi ada kesedihan di matanya.

Sepi di luar. Sepi menekan mendesak
Lurus kaku pohonan. Tak bergerak
Sampai ke puncak. Sepi memagut
Tak satu kuasa melepas renggut
Segala menanti. Menanti. Menanti

Nah, kalau yang ini, aku mengerti maksudnya. Aku coba dekati dirinya.

Hi, namaku Sulaiman.

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Namaku Sulaiman. Aku tidak peduli kau binatang jalang atau bukan. Aku hanya ingin tahu siapa namamu.

Aku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau

Tapi aku belum merayumu.

Dalam cinta ini engkau bagaikan sebilah pisau,

yang dengannya aku jelajahi diriku sendiri

Hah? Baiklah, jika itu yang diinginkannya. Padahal aku belum mencintainya, belum merayunya, belum tahu siapa namanya. Tapi setelah tahu namanya, aku ingin merayunya, dan menjadikannya kekasih. Ya, aku bakal mencintainya. Tenggok saja dirinya, bukan saja cantik, tapi dia pernah ada dalam mimpiku. Dia, dan juga Kafka. Dan, teman baikku, Chairil Anwar.

Sesaaat kemudian, aku mendengar ocehan seorang wanita yang memiliki warna mata yang berbeda.

Aku melangkah panjang dan waktuku

adalah waktu semua sisi jalanku,

seluruh jalan, seluruh bagian.

Okay, mulai detik ini aku akan menjawab dan bertanya maupun berbincang-bincang menggunakan puisi. Tunggu, aku lupa bahwa aku tidak tahu puisi, prosa, esai, apapun itu yang berada di dalam perut sastra. Jadi, aku harus bagaimana? Maksudku, adakah jalan keluar dari kota ini. Kota yang seluruh penduduknya perempuan. Dua orang berjubah putih yang kukira dua pria, ternyata ahli mantra. Yang menaburkan pelias ke arahku. Agar para penduduk kebal dari rayuan halusku.

Sebab, setengah jam ke depan, wanita cantikku kembali padaku. Seperti kekasih yang lama tak berjumpa, tangan kami kilat melepaskan pakaian sampai tak bersisa di tubuh, yang tak lama suara desahan kian merongrong…

Sebab,

Persetubuhan adalah suatu hukuman atas kebahagiaan sepasang kekasih

Sebab, dia telah katakan padaku,

Dalam cinta ini engkau bagaikan sebilah pisau, yang dengannya aku jelajahi diriku sendiri

Akhirnya, aku memang jatuh cinta pada seorang wanita yang sok-sok-an mengenal sastra. Pria yang tadi meninggalkan kekasihnya sepertinya bertakdir sama denganku. Dia beruntung telah berhasil pergi dari kota itu. Aku belum. Karena aku belum mau.

Meski, kadang aku tidak mengerti perempuan dan kotanya. Kadang aku juga tolol, karena  aku mencintai kecerdasan sekaligus ke-dodol-an seorang wanita.

 

THREE

 

 

Cinta,

Aku berkhayal. Khayal. Khayal.  Khayal.

Lalu, kucabut dari ubun-ubun,

Cinta,

Aku berlari. Lari. Lari. Lari.

Cinta,

Agar aku masih, masih, masih  bisa memeliharanya.

Di taman bungaku.

Ini, bukan termasuk khayalan, kan?

FOUR

“Takdir”

Kata itu banjir di dataran siulan burung.

Perempuan, jatuh cinta atau patah hati pasti langsung update status. 

Jadi, selamat memotret hitam putih, sayang. 

 

FIVE

 

Aku sudah membaca kotanya. Tapi mataku sudah lelah.

 

:Puisi Chairil Anwar dan Kafka:

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s