Lust For Life

Lust For Life – Iggy Pop

Sementara itu, kecepatan larinya tidak terkira. Dihembus angin kencang. Akalnya tidak kalah gesit  gerakannya. Kucuran keringat membasah pipi dan tubuh. Meluap tepat di depan rumah yang pagarnya terbuka. Tidak ada lagi waktu berpikir. Larinya tetap melaju menuju pintu yang  dibiarkan terbuka. Sebuah pintu yang meletakan “Sanggar Cempaka” di atas daun pintunya, tidak berbeda dengan papan bertiang yang terletak dekat pagar rumah itu. Sanggar tari yang namanya bisa dilihatnya sebelum dia sampai di situ. Sanggar tari. Mereka tidak bakal mengira orang yang dikejarnya berada di tempat seperti itu.

*~*

Bapak ini sedari tadi selalu lupa dengan pemantik apinya. Biar kali ini dia yang menawarkan lebih dahulu. “Non Filter Camel, seperti Michael Corleone di film Godfather,” ucap bapak tadi sambil memainkan rokok Djarum di tangannya untuk dinyalakan.

“Sayang kreteknya, pak. Susah dapetinnya di sana,” tukas Padi sebelum menawarkan rokok bergambar Onta dan Piramid kepada bapak ini.

“Kalau saya akan lebih pilih lighter-nya.”

Padi membalas dengan senyuman. Tadi, di dalam pesawat, hampir saja dia terlupa meminta kembali pemantik yang dipinjam bapak ini. Rokok kretek tidak pernah berhenti singgah di mulut bapak ini semenjak lepas landas dari Halim Perdanakusuma. Bapak ini begitu tenang ketika pesawat mengalami goncangan, baik yang biasa maupun yang hebat.

Para pramugari mengingatkan para penumpang untuk mematikan rokok dan memasang sabuk pengaman. Guncangan yang dahsyat. Seharusnya pesawat melayang di atas Bangka Belitung menuju Singapura, bukan di atas Bukit Barisan. Atau sesuatu yang mirip Bukit Barisan.

Padi memasukkan pemantik api ke dalam jaketnya. Dedaunan pohon di sekeliling tidak banyak bergerak dan teriknya matahari menyilaukan landasan pacu, tetapi udara terasa dingin menusuk. Bapak ini hanya mengenakan baju safari krem tipis. Tidak pantas untuk sebuah perjalanan menuju Hanover di pertengahan musim gugur. Sudah lebih dari sejam seluruh penumpang berada di luar pesawat. Mereka mulai resah. Para pramugari akhirnya mulai membagikan sisa makanan yang ada untuk sebuah perjalanan pendek Jakarta – Singapura. Tidak ada toko yang buka, apalagi restoran maupun bar. Tidak ada manusia lain di pelabuhan udara ini selain mereka yang dari penerbangan yang seharusnya sudah mendaratkan mereka di Pelabuhan Udara Paya Lebar sejam yang lalu. Bagi yang merokok, mereka mulai menghemat persediaan. Dua turis dari Belanda menggerutu kesal kepada pramugari paruh baya mungil yang melayani kelas bisnis. Mereka tidak bisa mendapatkan perwakilan maskapai untuk didamprat, memilih untuk melepaskan uneg-uneg kepada awak pesawat. Mereka, maupun para awak pesawat, tidaklah cukup mengerti, kenapa mereka bisa mendarat di sebuah pelabuhan udara yang kosong, tanpa kehidupan, berbentuk seperti Airport Tabing, tetapi bukan.

*~*

Murid-murid Gendis dan dirinya mengikuti gerak yang diajarkan Marina, muridnya itu. Seorang murid yang memang berasal dari suku Minahasa dan penari Lenso di daerahnya. Gendis selalu senang bila ada yang bertukar ilmu tarian dengan dirinya dan teman-teman lainnya. Teman-teman yang menjadi muridnya. Karena Gendis dianggap kemampuannya melebihi standar seorang guru tari, wajar gurunya memilih Gendis untuk mendampinginnya.

Jemari Gendis diikatkan saputangan berwarna merah. Jemari-jemarinya berputar-putar di udara seolah-olah membentuk kelopak bunga. Kemudian duduk menari bak menanti pujaan hati yang akan menjemputnya. Ini memang tarian orang muda – tarian pergaulan berkisah para pemuda yang sedang mencari pasangan – dengan gerakan hampir sama dengan tarian Spanyol.

Sanggar sore itu, memang tampak lebih dinamik dari biasanya. Orang-orang yang mengisi ruang tari seluas 4 x 6 meter dan dilapisi kaca besar yang mengelilingi hampir seluruh ruangan, serasa turut  menunggu para pemuda untuk datang menjemput mereka. Kaca-kaca  bersaksi, bahwa di sore itu, wajah Gendis begitu merekah dengan rambut dikuncir tinggi, menari  bebas, sampai udara di ruang itu ikut merasakan apa yang dirasa oleh para penari itu yang baru saja belajar menari tarian Lenso. Tarian dengan gaya tari yang tidak sulit, namun cukup mampu memukau yang menyaksikannya. Sore  berwajah ceria.

“Sekali lagi ya. Terakhir nih. Harus lebih genit, ya,” ujar Marina sambil tersenyum. Ucapannya langsung ditanggap gelak tawa Gendis dan teman-temanya.

“Genit tapi anggun. Menggoda tapi terlihat jual mahal,”  seisi ruangan itu meledak  tawa.

“E, aku serius,” Marina tersenyum sambil menahan tawa. Gendis dan lainnya berhenti tertawa.

“Menari Lenso, harus tampak centil, tapi anggun. Keanggunan itu salah satu ciri wanita Minahasa. Jadi, menarinya harus pakai rasa dan hati.  Menjiwai,” senyum Marina masih ada. Meski, kali ini ucapannya sedikit serius.

“Hmm,” hampir semuanya mengumam.

“Gimana kalau menari ada prianya?” salah satu penari memberikan usul.

“Wah, boleh. Siapa yang akan menjadi prianya?” tanya Marini.

Ina menunjuk tangan tinggi.

Ratih menunjuk tangan tinggi.

Untari menunjuk tangan tinggi.

Titin menunjuk tangan tinggi.

Yayuk menunjuk tangan tinggi.

“Aku,” menunjuk tangan tinggi,

Dijawab  dengan nafas tersenggal-senggal. Seisi ruangan pun  menoleh ke arahnya. Mereka menganggah dan saling menoleh ke arah teman-teman lain. Datang dari mana lelaki itu?

Marina sedikit bingung. Mengapa baru muncul penari pria di sangar ini, pas sekali waktunya saat membutuhkan penari pria. Suatu kebetulan.

Mengapa tidak langsung dimulai saja. Berperan sebagai pemuda dalam tari Lenso tidak sulit mengikuti gerak tariannya. Marini langsung mempersilahkan pria muda itu.

Gendis dan teman lainnya terkejut melihat pria muda itu. Pria yang tidak pernah mereka kenal. Wajahnya pun baru dilihatnya. Dan kini berada di tengah mereka, menawarkan diri pula untuk menari.

“E..tunggu, maaf aku harus bicara sebentar denganya,” Gendis bergegas menghampiri pria itu sambil memegang siku tanggannya dan mengajaknya ke ruang yang dibatasi lemari jati tinggi.

“Kamu siapa?” Gendis tanpa basa-basi. Mata Gendis membesar. Diperhatikannya lekat pria tersebut dari ujung kepala sampai ke ujung kaki. Tapi wajahnya tidak seperti perampok atau maling. Gendis tetap harus berjaga. Siapa tahu saja dia seorang penjahat.

Pria itu tidak menjawab. Dia malah menelunjuk tangan ke bibirnya, “Ssst..jangan keras-keras.”

Alis mata kanan Gendis naik.

Pria tersebut memohon dengan kedua tanganya, “Tolong aku,” wajahnya memelas. Masih bernafas tak beraturan. Dan pucat pasi.

“Na..na-ma aku Padi,” matanya melirik jendela di belakang tubuh Gendis. Seperti takut ada yang mengintip.

Pria itu menarik lengan Gendis sambil berjalan ke jendela. Tubuh Gendis diarahkan menghadap ke jendela dan dia berdiri di balik Gendis sembari mengintip ke arah luar jendela.

“Ada apa ini?” tanya Gendis tegas.

“Lihat keluar. Ada teke yang keliaran?”

“Hah?”

Tekab.  Polisi preman.”

“Oooo,” Gendis membalikan tubuhnya. “Nggak ada siapa-siapa.”

“Ssstt jangan keras-keras”

Padi menarik tangan Gendis, mengajak masuk ke salah satu ruangan dengan pintu terbuka. Sesampai di dalam ruangan, Gendis melepaskan genggaman Padi.

“Aku mohon, tolong aku. Bantu aku bersembunyi,” Padi memohon kembali dengan kedua tangan bersujud.

Mulut Gendis menganga. Padi langsung menuju ke balik lemari dan mengintip ruang tari lewat pintu dari sudut satunya.

Melihat bisik-bisik perempuan.  Di kepala mereka ada tanda tanya.

Padi segera menarik tangan Gendis. Dan membawa ke ruang belakang. Mereka berdiri melihat Gendis dan Padi berjalan cepat ke ruang belakang yang merupakan ruang dapur dan makan.

Tidak dipungkiri ada yang mencurigai dari pria di hadapan Gendis itu, namun…Ah, sulit bagi Gendis menyimpulkan apa yang sebenarnya terjadi, apalagi untuk mengira-ngira. Dari wajahnya, dia terlihat sedang bermasalah.

Seisi rumah Sanggar Cempaka tidak ada yang tahu, senja datang menyelinap begitu rapinya. Tersembunyi dari pandangan orang-orang yang berada di sanggar.

Kesekian kalinya, Gendis mengamati Padi. Pria muda berambut lurus dan panjang hampir sebahu, dibiarkan lepas. Mengenakan jaket hitam yang tampak mahal. Celana jeans yang sedikit kumal. Hidung mancung. Kulit sawo matang. Dagu terbelah. Tidak ganteng tapi menarik. Di balik kekalutannya, ada suatu yang istimewa dan bersinar karisma.

“Lihat,” Padi menyuruh Gendis mengintip keheningan di ruang tari dari balik dinding pemisah.

Semua yang dilihat Gendis merisik. Dan menoleh ke arah  Padi tadi muncul.

Lantas, Padi menyuruh sesuatu ke Gendis.

“Apa?” kata Gendis datar.

“Katakan sesuatu biar mereka tidak fokus ke sini,” sambil memiringkan kepalanya.

“O…”

Gendis keluar dengan bentuk senyum yang memang diproduksi untuk serapi mungkin menenangkan suasana.

Gendis berjalan santai menuju ruang tari. Saat memasuki area penuh kaca, Gendis sejenak melirik sedikit bagaimana penampilannya, tentu tanpa diketahui orang-orang.

“Maaf, teman-teman,” Gendis pura-pura semuringah. Tertawa kecil. “Itu tadi teman SD aku di Surakarta. Pangling aku melihat dia sekarang. Tadi itu dia memberikan kejutan buat aku. Bodoh tenan aku ini,” Gendis guyuh.

“Ya ampunnn…” Mereka menggelengkan kepala mengikuti Gendis yang mulai tadi menggelengkan kepala.

“Latihan tanpa aku dulu ya. Nggak apa-apa, kan?”

*~*

Dia tahu benar letak jalan Imam Bonjol. Kurang dari dua minggu tidak mungkin membuatnya lupa.

Dia menarik nafas dan menghembuskannya. Lalu, memejamkan mata dan meresapkan segala penciumannya terhadap udara yang baru ditemuinya itu. Atmosfer yang begitu akrab baginya.  Ya, dia pulang. Beberapa menit lagi akan sampai di rumah. Tapi dia mau berdiri di tepi jalan itu sebentar saja. Jalan yang sudah penuh dengan hal-hal yang menjadi asing bagi dirinya. Aneh memang.

Jelang satu menit. Dia membuka mata. Entah telah berapa kali mobil-mobil, motor-motor, bis-bis memamerkan kecepatan dan model-model mengesankan. Kali ini, dia hanya membiarkan penglihatannya puas dengan apa yang disajikan oleh Tuhan dan isi-isinya.

Menjelang dua menit. Dia kembali memejamkan mata. Mencium bau udara. Sekaligus mencium debu-debu dan asap-asap knalpot dari motor-motor yang berjibun banyaknya.

Menjelang hampir 30 detik. Dia kembali membuka mata. Kedua matanya beredar ke segala matanya menjangkau sudut Imam Bonjol dan Jalan HOS Cokroaminoto. Percik-percik kembang api jatuh berhamparan di tubuhnya. Kembang api yang tidak berbunyi, tapi berbentuk bola-bola salju yang bercahaya.

Dia memalingkan pandangannya ke kanan. Tepat di lampu merah, pandangannya berhenti. Dia tersenyum. Lalu, kedua matanya bergeser ke sebelah kanan; ujung jalan Imam Bonjol. Ya, dia akan melangkah ke arah tepi ujung jalan dan seterusnya, menemukan rumahnya.

Dia berjalan ringan. Tapi tegap. Gegas untuk sesuatu. Dia tersenyum meriah. Mungkin perayaan tahun baru kalah meriah dibanding senyumannya. Hampir sore hari yang membuka tiap pori-pori tubuhnya. Sore hari yang ramai disukai oleh orang-orang. Sore hari yang dikelilingi angin berkejaran. Sore hari yang semua orang hampir mendekati pintu untuk meninggalkan kepenatan. Sore hari yang berharap. Gendis dalam dua jam ke depan.

Tapi. Dia berhenti. Dengan wajah menganga, dia  menatap apa yang di depan matanya. Jalanan ini mengubah dirinya menjadi besar – tidak seperti pada ingatannya. Mulutnya terbuka tapi dia tetap melangkah satu per satu. Semakin dekat, semakin dekat dia dengan harapan. Dia berhenti lagi.

Menengok ke kiri. Sebuah dinding dari rumah besar telah menjadi rumah Duta Besar. Angin menghampirinya lagi, kali ini tepat mengena di keningnya. Itu rumah Bapak Sudarjo. Apakah dia sudah menjualnya? Cepat sekali.

Melihat rumah Bapak Sudarjo, pikirannya langsung ingin segera sampai ke rumahnya. Dia beripikir untuk mengunjungi rumah teman-temannya. Tapi nanti. Setelah dia bertemu Papi dan Mami. Setelah semua dia ceritakan. Setelah dia bertemu Gendis dan memeluk seerat-eratnya. Setelah dia sampai di rumah dan tertidur nyenyak di kasur busa empuknya. Setelah…

Dia berjalan seperti mengindik-ngidik. Muncul getaran tak biasa di hatinya. Sangat hebat. Jantungnya berdetak kencang. Tak bisa diatur olehnya. Dia berjalan seraya menyentuh dinding dan pagar rumah tetangganya. Bangunan dan pagar yang sama. setidaknya, ini sedikit melegakan. Dia memandangi seluruh pagar tinggi dan selalu tertutup itu. Sejak kecil sampai saat ini, dia tidak pernah dekat dengan keluarga itu. Bisa dibilang tetangganya itu cukup tertutup. Satu langkah lagi, dia akan berada di dinding rumahnya. Dia pejamkan mata. Bertanya dalam hati, ”apakah harus menutup mata sampai kedua kakinya berada tepat di pintu pagar rumahnya?” Angin kembali menghampirinya. Kali ini seluruh wajahnya tertepa oleh para angin.

Ya, dia akan tutup mata. O, tidak, matanya harus terbuka. Tidak, tidak, lebih baik menutup mata. Tidak, dia harus membuka mata. Huh, dia menarik nafas panjang. Kedua kakinya tidak bergerak. Tidak juga kedua mata dan kedua tangan. Sekejap, garis-garis panjang melingkari bagian tubuh atasnya. Berputar. Mengurungnya. Dan dia tidak bisa berpikir-apa-apa. Hanya sekelebat lintasan mobil-mobil berkecepatan tinggi memutari pandangannya. Sekejap pula, matanya terbuka. Lingkaran-lingkaran itu pun pecah di udara.

Badannya masih berdiri lurus. Namun, mata kanan dan kiri mulai melirik ke kanan dan ke kiri, lalu ke depan. Sebentar lagi dia sampai. Kedua kaki harus bergerak. Dia memutuskan untuk menunduk. Kaki kanan pun melangkah pelan. Lalu, satu langkah untuk kaki kiri. Langkah kedua. Ketiga. Keempat. Kelima. Kaki kanan dan kaki kiri berhenti. Pandangannya tidak lagi ke arah kedua kaki yang tadi melangkah. Tapi menatap ke depan. Dia memiringkan badan ke kanan, tepat di depan rumahnya.

Angin-angin datang lagi.  Menyerbunya. Bulu matanya mengerjap-ngerjap. Kelilipan. Dia mengucek kedua mata. Bayanganya kabur. Tidak terfokus. Yang dilihatnya, sebuah bangunan kosong, penuh dengan ilalang liar, bukan rumah tinggal. Dia mengucek matanya sekali lagi.

Dia terperangah. Ini, tidak mungkin. Sekeras-kerasnya dia membersihkan debu yang masuk ke matanya. Sampai dia benar-benar jelas melihat apa yang di hadapannya. Ya, dia memang melihat jelas sekali sekarang. Nafasnya berhenti. Dunianya mendadak mati.

Bangunan itu sama sekali tidak meninggalkan jejak arwah rumah miliknya. Dia mendekati bangunan itu. Dia tidak mungkin salah. Karena manusia selalu ingat di mana letak rumahnya. Kecuali manusia itu melupa. Ya, pas di sini. Dia mundur beberapa langkah ke tengah jalan, membuat beberapa kendaraan yang melintas membunyikan klakson mereka. Tidak ada jari tengah, tapi umpatan. Rumahnya bagaikan rumah hantu.  Dia mendekat kembali. Dipandangnya lekat-lekat bangunan itu. Rumahnya lenyap!

Apa ingatannya yang musnah? Tidak. Buktinya dia masih ingat betul rute perjalanan dari Kemayoran sampai ke sini.

“Selama sore, Mas,” ucap pria yang menggunakan kemeja security berwarna putih dan di sakunya tertera nama; Agung. “Cari siapa?”

“Maaf saya boleh tanya?” Keparat, pertanyaan basa-basi. Bukan tipenya seperti ini.

“Ya. Silahkan Mas,” sahut Agung.

“Ini rumah kosong, mas?” tanyanya kepada pria yang usianya sekitar 40-an tahun.

Agung tertawa,” Ya, iya , Mas.”

“Sejak kapan?” kini, mukanya serius.

“Sudah beberapa tahun,” jawabnya biasa saja.

“Ke mana mereka? Ke mana Bapak Soni Wibisono ?” tanya dia dengan suara nada bergetar.

“Wah, saya tidak tahu yang mas maksud.”

“Pemilik asli tempat ini. Di mana pemiliknya sekarang?”

Wajah Agung seperti bertanya balik. Karena setahunya tempat ini dipakai salah satu partai untuk pemenangan capres beberapa tahun silam, sebelum dibiarkan terbengkalai setelah pasangan capres itu kalah di pilpres kemarin. Tugas Agung menjaga tempat ini dari orang-orang yang tidak jelas macam Padi yang sering tidur di rumah-rumah kosong seputaran Menteng.

“Mas ini cari siapa?”

“Yah tadi, saya cari orang tua saya yang tinggal di sini. Ini rumah saya, mas.”

Sekarang Agung seperti berhadapan dengan orang yang kurang waras. Dari pakaian orang ini yang agak berantakan, wajah orang ini yang sudah lama tidak terurus, semakin menjadi kalau sebaiknya orang ini dijauhinya. Kalau masih mengganggu, dia akan menghubungi polisi atau kantor DPP. Tapi kenapa juga kantor DPP harus turun tangan mengurusi sesuatu yang seharusnya dia bisa kendalikan.

“Pi..pindah ke mana, Mas?” tanya Padi kembali penasaran.

“Itu dia, saya tidak tahu,” jawab Agung dengan nada yang meninggi. “Sebaiknya mas kembali ke rumah, atau…”

“Ini rumah saya, mas!”

Agung menggelengkan kepalanya, berjalan balik masuk ke dalam rumah.

Ke mana Papi dan Mami. Pindah ke mana? Dan rumahnya sudah benar-benar bukan bentuk yang dia kenal dua minggu yang lalu. Dunianya seperti berhenti berputar. Pusing sekali kepalanya.

Gendis. Bagaimana dengan Gendis? Sudah berpindah juga, kah,  dia?

*~*

 “Hah? Mengantar kamu pulang?” tanya Gendis terkejut. Apa nggak salah dengar ?

Pria muda itu menjelaskan banyak alasan mengapa dia meminta Gendis mengantarkannya pulang ke rumah. Gendis menatap saja. lurus memandang. Tanpa mendengar secara jelas satu kalimat pun dari bibir yang terus bergerak di hadapannya ini. Mulut Padi terus mengoceh, berputar-putar seperti roller coster yang tidak terdengar suara mesinnya. Gendis hanya melihat mulutnya bergerak-gerak naik-turun. Yang Gendis tahu dia jadi mengikuti  kehendak Padi. Yang Gendis tahu, dia dan Padi telah berada di satu motor. Yang Gendis tahu, Padi duduk di belakangnya.

Yang Gendis tahu tujuan mereka ke jalan Imam Bonjol. Yang Gendis tahu ada sekumpulan pria-pria berpakaian preman menghadang masuk Padi masuk ke dalam rumah besar.

Mereka dari kepolisian Polda Metro Jaya, tim khusus anti bandit. Di teras rumah besar seorang ibu paruh baya tengah menangis tersedu. Dia tidak bisa berbuat banyak saat Padi dinaikkan ke dalam mobil Jip Land Cruiser Hardtop.

O walah, ini namanya baru kejutan!

*~*

…to be continued…

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s