Mataku

Aku print potretku. Aku gunting bagian matanya. Lalu, aku diamkan dia terpajang di meja kerjaku agar dia  bisa menatapku sepuasnya. Tiba-tiba lampu meja padam. Aku menunggu ia menyala kembali, tapi aku mengantuk. 

Mata Kananku

Dia meraba wajahmu. Menyentuh kulitmu senti demi senti. Mengawai garis – garis silang, lurus, diagonal, lingkar, dan terputus-putus, terpisah tersendiri. Seketika, ronanya berubah sendu. Butir-butir air di sudut mata kanannya jatuh.  Air mata berwarna hitam.

perfetc day 1

Just a perfect day

You made me forget myself

I thought I was someone else

Someone good

Dia memelukmu erat. Kemudian, dia melepaskan pelukannya sambil menundukan kepalanya. Tak sanggup, dia tak mampu melihatmu lama-lama. Dia berjalan lunglai, melirih, dan meninggalkanmu. [Sementara].

Mata Kiriku

Ada api. Terbakar hasrat. Hangus dilahap amarah.

Selanjutnya, kamu berganti nama. Bercakap-cakap bersama bunga yang sedang mengembang. Kamu bersembunyi dari mata kirinya, namun kamu lupa dia punya kemampuan melintas jauh, jauh, jauh sekali.

Yang berbunga akan layu. Yang terbakar akan hina.

Mataku

Kami lebih baik melakukan perjalanan. Setiap minggunya kami melancong, melihat hal-hal baru dan berbicara tentang hal-hal yang belum kami tahu.

Di kota itu, kami melihat obsesi. Di sisi lainnya, kami membaca mengenai “bertahan”.

Tiga hari kemudian, kami melihat kemarau. Di bagian lain, kami meratap banjir.

Setidaknya kami tidak melihat hal-hal yang lebih parah…

Aku

Aku tidak suka bila mataku mulai bertingkah. Sudah 3 tahun ini, mereka suka tidur mendadak, satu jam kemudian bangun lagi, dan menjadi segar, lalu kedutan kembali. Sebenarnya, mereka lebih parah sebelum 3 tahun ini, tapi tidak suka tertidur secara tiba-tiba.

Detik ini aku sedang terbangun, juga mataku. Dan aku melihat kamu berdiri di sana. Wajah kamu datar. Menatap apa yang aku lakukan sekarang.

Mataku, matamu. Liar menembus batas.

Mataku, matamu. Bercerita tentang peristiwa yang terus bergulir. Mataku di sini. Matamu di sana.

Mataku bekerja sama dengan tanganku, menyambung yang pernah terjadi dan yang bakal terjadi. Mereka panjang ke bawah. Di sini…

Matamu, tak kan aku ceritakan. Itu rahasia, kan?

Di sini aku pernah bertutur tentang bunyi yang sepi dan yang juga ramai. Rasanya tidak berbeda dengan kamu, hanya mediumnya saja yang lain.

Aku nyalakan sebatang rokok dan menghisapnya. Rokok tanpa kopi, sebab tubuh kananku nyaris kaku dan beku. Semestinya aku lenyapkan kebiasaan merokok dalam hidupku. Tapi aku belum mampu.

Aku hanya ingin berpesan, menarilah bersamaku satu hari saja, karena setelah itu aku bakal mencabut kedua mataku dari kepalaku.

Wajahku telah layu. Waktuku sebentar lagi.

Aku lelah melampaui batas, sayang…

 

[jika kamu tahu maksudku]

Aku letih membaca dan menulis

Lejar…

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s