Sang Pembuai


Sang pembuai kehilangan kameranya. Memarahi jalan-jalan bangsat. Kemudian berhenti. Tidak  pernah lama, sebab sebenarnya, dia sama sekali tidak tahu sebutan apa yang cocok untuk perkaranya kali ini.

Sang pembuai berangsur pudar ingatannya. Atau ia hanya pura-pura lupa? Agar satu yang ketidakmustahilan tersaring otak jernih dan logis. Maka, ia terus menari, menari, dan menari. Hingga lelah, lalu tak tahu lagi mesti apa…

Ia mencoba hidup pada masa sekarang

Dia berupaya kembali pada masa lampau

Di manakah tempat yang terbaik untuk bertemu?

 


Kira-kira sepuluh ribu tahun lalu, aku dan dia dipisahkan oleh seorang bayi yang melayang di atas udara. Kami telah lama menyatu namun belum juga diberikan anak oleh Sang Pengatur. Sore itu, udara begitu hijau, hijau, dan hijau, menguap dari dalam tanah yang di atasnya tumbuh sebuah tanaman bernama fantasi. Kami telan udara tersebut, lalu kami saling bertukar lidah, nafas, kepribadian, alat vital, dan pikiran, tapi tidak tubuh, wajah, dan rasa kami. Juga mimpi-mimpi kami berdua.

Setelah pertukaran, mimpi-mimpi itu bertambah besar, hidup kekar, gagah, tinggi, dan tidak mudah patah. Ia berkeliaran di tubuhku dan di tubuh pasanganku, menguasai dan membabi buta hingga kami tak tahan membendung erangannya. Muncullah bayi itu, tidur nyenyak, melayang di udara dengan wajah tersenyum. Kami terbuai, dan kami terbang menggapainya, memeluknya, dan memilikinya.

Kami bawa dia ke bumi dan menamakannya, baby. Dia tidak pernah tidur pada malam hari, selalu pada pagi. Pada sebuah waktu yang membuat kami terus-terusan bercinta, bercinta, dan bercinta, tidak bosan-bosan, tidak bosan-bosan, dan tidak bosan-bosan. Suatu pagi, dia tiba-tiba saja terbangun dan menangis. Anehnya, kami tidak menyadari dan mendengarnya, segalanya utuh hanya kami berdua.

Tiba-tiba pelukan kami terlepas. Secara perlahan, tubuh kami naik, terbang ke atas, yang digerakan oleh sorot mata baby berwarna magenta. sorot yang berbentuk laser meliuk dan terasa sakit di memori kami. Sampai, aku terpental ke arah barat dan pasanganku ke arah selatan.

Sejak itu, kami tidak pernah bertemu kembali, tidak pula melihat baby. Aku menjadi manusia berkali-kali, menjadi binatang berkali-kali, menjadi batu berkali-kali, dan tiga kali menjadi tokoh fiksi dengan alur yang lembut juga ganas. Aku tidak tahu apa yang terjadi pada pasanganku. Pun, aku tak tahu nasib dan takdir baby. Semoga dia mati dilahap peristiwa.


Pada zaman lahir generasi Z, aku teringat sebuah doa yang lupa kapan dan di mana aku panjatkan. Aku baru menyadarinya bahwa Aku telah bertemu pria yang berada di dalam doa. Dan dia menjadi candu.

Tahukah bahwa saat ini aku sedang berunding dengan Tuhan untuk menciptakan esok? Agar seluruh pribumi jujur dan terbuka tentang kebun candunya. Aku punya banyak pohon candu di sini. Kalian bisa mengunjunginya sesuka hati. Mencicipinya? Tunggu, iya, aku tahu, sabar. Jawab dulu pertanyaanku.

Apa candumu yang sebenarnya?

Aku tidak perlu tahu seberapa besar kemarahanmu maupun tingkat kesenanganmu, cukup kudengar jawaban dari pertanyaan yang sederhana itu.

Ada yang mau coba menjawabnya? Silahkan jika ingin berbisik saja di telingaku bukan di mataku agar aku tidak mengira-ngira.

Setelah itu, mari kita berbagi remedi. Apakah api bakal membakar parfum di tubuhmu. Atau air akan menjadi padat. Atau tanah menguap bau. Atau udara tak tak tak sepakat dengan arah angin.

Aku tunggu…

Sssttt, Tuhan memanggilku kembali. Saat ini Dia tidak ingin bicara kesepakatan, Dia sedang menggebu-gebu bercerita. Dia bilang, “tak kan lama, dengarkan saja cerita-Ku.”


Aku tertidur pulas

Sementara

Gendang itu bertalu-talu

Dan Tuhan masih bercerita

 

Aku terbangun

Akibat

Sebuah Mimpi

Bertubuh emosi

Tanpa gerak

Dan Tuhan masih bercerita


Tuhan bercerita tentang dua manusia bernama La dan Li. La adalah seorang lelaki yang sering bertanya kepada angin, “ke mana langkahku selanjutnya?” dan Li, seorang wanita yang gagal membaca arah angin.

Apakah hidup berurusan dengan mata angin?

Aku tak paham betul soal itu. Mungkin kamu yang mengerti, tapi kamu tidak pernah menyinggung hal itu. Tapi jika bicara jalan sunyi, aku bisa saja punya suara padahal angin dan sunyi terkadang satu terjemahan – jika kau tahu maksudku.

Tuhan bilang hanya sebentar waktu untuk ceritanya. Nyatanya, dia bohong. Semua orang berbicara halus dan pandai, persis Tuhan. Aku tahu mereka kiasan yang ribuan kali kudengar. Namun, mereka tetap yakin itulah cara bicara yang baik dan benar denganku. Tuhan boleh saja bohong soal waktu tapi tidak menipu perihal ceritanya dan tak ada yang disembunyikan. Meski Dia adalah Sang Pembuai yang asli.


“Kamu penipu!”

“Kamu yang goblok!”

Li kabur dari pandangan La. Li benar-benar lenyap. Diupayakan kepergiannya melalui rangkaian metode hilang yang diciptakan oleh La dengan kecerdikan yang licik sehalus kapas-kapas awan.

La berasal dari kotak jiwa yang terletak di lemari langit dan Li muncul dari kotak raga. Keduanya dipertemukan semesta melalui  kisah dalam kisah dalam kisah.

 


 

 

 

 

*Teruslah kamu bergulir

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s