Truly

“There are things known, and there are things unknown, and in between are the doors.”
~ Jim Morrison, Letters From Joe~
  1. Gina menerawang jauh setelah berbicara di pagi buta.
  2. Berbicara  sekaligus membaca karya seseorang yang seminggu ini menggoda seluruh C9H13NO3-nya.
  3. 2 hari berikutnya, Gina tidak tahan untuk tidak menjumpainya secepatnya.
  4. 2 hari yang tidak lagi ada kemunculannya.
  5. Pada hari ketiga, rindu itu berada di puncak tinggi.
  6. Ketika hujan deras silih berganti dengan petir yang menyambar denyut jantungnya begitu kencang.
  7. “Dum, aku kangen,” isaknya memandang layar yang kini hitam. 
  8. Suaranya menyatu bersama kumulonimbus. Lenyap ditelan presipitasi
  9. Titik air mata menetes lagi. 
  10. Banjir! Jadi mau apa sekarang?

San Diego bukan Chicago. Juga Bukan New York. Tapi mirip Paris dan Los Angeles. dia lahir di San Diego, sekolah di Los Angeles, San Fransisco hanya menemui para penggila, pernah tinggal di New York sebentar dan tak sengaja menyusun kenangan. Paris? Siapa bilang dia pernah ke Paris?

Truly tidak paham hubungan Gina dan Dum. Hanya mengerti benar soal kota yang mirip Paris dan LA. Karena apartmen mungilnya satu lantai dengan mereka. Sering berpas-pas-an, lalu kenalan, terakhir menjadi teman dan hampir gila mengikuti gaya hidup mereka. Seburuk-buruknya pandangan orang pada Gina dan Dum tidak seperti kenyataannya. Minum alkohol,  menghisap kokain dan ganja,  dan menyuntik morfin bukan hal aneh, bisa dikatakan sebagian penduduk kota melakukannya. O, ya, satu hal lagi yang Truly lupa: SEKS BEBAS. Semua orang mencandu drugs dan seks, termasuk Truly.  Sayangnya, Presiden  Nixon mendeklarasikan “war on drugs”. Selamat, Nixon. Enjoy the show, Mr. President..

Tidak ada perang yang memenangkan atau dimenangkan. Namanya juga perang, segalanya runtuh dan mampus. Truly sempat juga perang dengan kecanduannya, termasuk candu Galaxi yang ditemukannya di Subway 18th street, NYC. Ups, maksudnya subway yang mirip di 18th street kota New York.  Mural yang dibuat Galaxi di dinding ruang bawah tanah menjadi lukisan yang setiap harinya ingin dilempar batu berukuran besar. Jangan batu kecil, nanggung! Sekalian yang besar.

Suatu tempat awal pertemuan harus dihabisi jika ingin menghancurkan peristiwa di dalamnya.

Sebentar, Truly menyedot kembali kokain di atas meja kaca dengan gulungan lembar kertas 1 dollar. Lalu pandangannya mengarah ke sofa di depannya. Sofa berwarna merah yang menjalar ke meja makan, lantai, dapur, toilet, pintu masuk dan kamar. Taman, toilet umum, bangku subway, pesta-pesta udangan di apartmen, mobil , semuanya memuat kegiatan nge-drugs dan seksnya. Sebelum episode berikutnya, hanya bersama Galaxi tingkat orgasme tercapai. Di babak lain, tidak hanya lagi Galaxi, tidak juga satu, entah berapa, malas Truly menghitungnya. Katanya,”Bodoh Amat!”.

*~*

Sudah tidak penting lagi bicara cinta!

  1. Gina menyalakan rekaman video pernikahannya.
  2. Tersenyum dan menangis lagi.
  3. Tambah menjerit melihat wajah Truly ada di dalam video itu. Ingatan pada sebuah dialog melintas.
  4. “Aku selalu suka dengan wajah Asiamu, Truly”
  5. “Terima kasih, Dum.”
  6. “Kamu, satu-satunya perempuan yang tidak pernah menggodaku.”
  7. “Pernah terlintas, sih.”
  8. Gina mematikan rekaman video pernikahannya.

*~*

Bagai resonansi menutup  badan gitar

Aku sengaja sulit untuk dinikmati, didengarkan atau dimainkan oleh manusia-manusia yang setiap hari kerjanya hanya mengutuk, mendendam, dan salah pemahaman pada suatu konsep. Aku bikin mereka tuli. Aku juga ingin membuat mereka buta, tapi instrumen lain telah menjadikan mereka buta. Aku kalah cepat. Pun, aku ingin memplester mulut mereka. Lagi, aku lebih lamban dari lainnya yang tidak aku tahu persis apa namanya. Dan, aku benci kata yang aku comot dari entah siapa, yaitu “Perang”.

Itu tidak berfungsi bagi orang-orang yang sedang melawan dirinya sendiri. Dengan masih percaya dan yakin bahwa trik-triknya bisa mengatasi problema mereka. Membiarkan penyakit itu terlena di pikiran dan tubuhnya. Katanya mereka lelah, tapi masih keukeuh dengan caranya sendiri yang salah. Contohnya seorang manusia yang terpenjara di dunia “Eer”. FYI, nama dunia ini aku dapat dari mimpi burukku semalam. Seperti mimpi yang suka menjadi pertanda, sama halnya letak aku berdiri.

Aku hanya tergeletak di samping meja panjang berisi buku-buku koleksinya.Dari sudut ini, aku bisa melihat segala ruang dunianya. Yang penuh ketakutan oleh jalannya sendiri yang dia pilih. Harusnya dia punya tabulasi ‘akustik’ untuk membaca. Aku yakin dia punya, tapi diabaikannya, padahal berada dekat di sekitarnya.

Melalui not-not balok yang ramai, aku coba memahaminya. Meski analisaku tidak sempurna.

Malam ini aku hanya ingin wanita itu. Truly yang menangis dan jadi sering tertawa di dunia belahan lain. Itu alasanku menelusuri babak demi babak sampai segala hal yang terkait dengannya. Termasuk bintang-bintang yang dirindukan dan purnama yang kini menjadi jeritannya. Beserta pemilik dunia Eer.

Selamat malam, Eer. Selamat terbangun..

Truli, Truliiii, di mana kamu, sekarang…

*~*

Lirik-lirik  melirih

306. Jhn.1.29 : “Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia.”

Dum. Hanya nama panggilan, karena dia memang dumb. Dia lahir dari rahim semesta. Wajar saja makhluk hidup sangat mencintainya, juga sangat membencinya. Bingung? Jangan!

Sebab, ada makhluk yang seperti itu yang dibiarkan oleh Tuhan untuk hidup di muka bumi. Paradoks itu memang diciptakan, jadi bermain gitar sajalah..

Bip Bip Bip

Loncat ke sana, loncat ke sini

Bersama gerombolan domba

yang menjadi teman

yang bertemu di ‘satelit’ tersembunyi

Dum berhenti menulis. Apa yang ada di kepalanya sulit sekali dikeluarkan. Seolah-olah mampat. Dicarinya sebotol wine yang awalnya ada di atas meja laptopnya. Ternyata, ada di atas meja tempat dia melukis. Tapi, tiba-tiba saja Dum kehilangan selera untuk minum. Seketika itu juga, dia teringat perempuan-perempuan pintar dan perempuan-perempuan merana yang ditinggalkan atau diabaikan oleh kekasihnya…

“Aku merasakan rasa sakit mereka. Aku harus membantunya agar tidak ada lagi dosa-dosa,” begitu jawabannya ketika kutanyakan mengapa mereka.

“Hah?”

“Suatu hari nanti kamu akan mengerti.”

“Kamu Tuhan?”

Dum tersenyum sambil menggelengkan kepala.

“Kalau begitu kamu Nabi?”

Dia tersenyum lagi, juga sembari menggelengkan kepala.

“Bukankah yang tidak pintar juga bisa berbuah dosa?” Ditekankan cerdas bukanlah pintar.

“Ah, kamu banyak bertanya,” Lalu Dum kembali mengambil buku yang berisi lirik-lirik lagu yang diciptakannya.

Dum menemukan  gambar kotak di dalam buku yang tidak disengaja keluar nama Galaxi.

  1. Lelaki yang kekasih
  2. Mengambil pisau untuk bermain-main nadi
  3. Darah muncrat ke mana-mana
  4. Suara ambulans semakin nging-nging-nging
  5. Dia tidak mati
  6. Dum lari kencang di antara lorong-lorong hari
  7. Sumpah keluar dari mulut Dum, mengejutkan Merapi. Merapi? Di mana sebenarnya dirinya sekarang ini?
  8. Sang domba memutuskan menyendiri
  9. Selamat Nyepi, Kawan

*Bersambung

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s