Topengmu, Menarilah

  • Aku si tangan kidal…

Matahari  tinggi  menembus bumi. Pancaran sinarnya mengeryitkan mata . Yang menjadi musuh Jaka. Sebab terik membuat kerongkongannya kering dan otot emosinya menggumpal. Sebatang rokok dihisap dalam lalu asapnya mengepul ke udara.  gatal menyerang tenggorokannya, hanya beberapa isapan. Jaka buang batang rokok yang masih panjang itu. Dia kehausan. Dilirknya kios minuman di samping kiri dia berdiri. Jaka harus meneguk air untuk menyegarkan kerongkongan dan kepalanya. Tangan Jaka mulai mencari lembaran rupiah di saku kanan celananya. Jaka garuk-garuk, kosong. Kemudian tanganya berpindah ke saku kiri dan Jaka garuk lagi, tetap kosong. Jaka langsung meraba saku kemejanya. Jaka menemukan beberapa koin logam. Jaka hitung koin itu. Ada dua ribu rupiah saja.

Nyonya muda itu baru saja turun dari mobil mewahnya. Pakaiannya rapi dan  elegan. Dia melenggang santai sambil menenteng tas kulit coklat yang  terlihat mahal harganya.Sepasang bola mata Jaka tergoda. Dia terus melirik ke arah tas nyonya muda. Jaka ikuti langkah Nyonya muda, bersembunyi di balik tubuh-tubuh manusia yang berjalan. Nyonya muda itu berhenti di depan sebuah toko buah segar, dia melepaskan kaca mata hitamnya dan masuk ke dalam toko itu. “Wanita yang cantik,” bisik hati Jaka .

45 menit kemudian.

Nyonya muda  keluar dari toko membawa sekeranjang buah. Jaka mulai khawatir nyonya muda akan segera pulang dan menuju kembali ke mobilnya. Berarti Jaka sulit mendapatkan kesempatan. Ternyata nyonya muda berjalan berlawanan arah dari letak mobilnya. Nyonya muda melihat-lihat deretan toko seraya terus berjalan. Entah mau kemana nyonya muda itu selanjutnya. Jaka terus membuntuti nyonya muda dan melihat keadaan sekelilingnya. Tampaknya nyonya muda begitu asyik memandangi toko-toko yang berjejer di jalan itu. Jaka menunggu cela yang baik sambil bersiap-siap . Nyonya muda menatap satu toko baju dari luar toko sambil menaikan posisi kacamatanya ke kepala.

 Jaka  menghampirinya. Lalu sengaja menabrak tubuh nyonya muda, pisau kecil di tangan Jaka yang sudah dipersiapkan , menyayat tas nyonya muda. Buah-buah di keranjang jatuh ke aspal trotoar, tubuh nyonya muda hampir terjatuh. Dengan hitungan detik harta nyonya muda sudah di tangan Jaka. Harta itu langsung dimasukan ke dalam kantong celana Jaka. Dan Jaka menyempati meraih tubuh nyonya muda agar tidak terjatuh. Kemudian, Jaka bergegas pergi. Beberapa meter dari posisi tadi, Jaka berlari kencang. Kencang. Kaki-kakinya sudah hafal dengan seluk beluk gang-gang yang terdapat di jalan Merauke ini. Ketika Jaka memasuki salah satu gang, nyonya muda mulai menyadari hal yang menimpa dirinya dan dia berteriak,”Copeeeeeetttt….”


  • Aku peramu kata 

Kepala Jaka seperti pecah. Dia memang berhasil melarikan diri. Sekarang, dia berpenampilan rapi, segar, wangi, dan tampan. Nafasnya tak lagi ngos-ngos-an. Keringatnya mengering. Ketakutannya sirna.

 

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s