Langit Teras Rumahku

sebelumnya aku tidak pernah suka duduk di depan teras rumahku sendiri. sebelumnya teras itu begitu gelap dan hanya ada suara-suara tikus kecil . sebelumnya, aku  tidak pernah membayangkan munculnya “atraksi-atraksi” yang berasal dari lokasi teras rumahku. sebelumnya, tidak pernah ada siapa pun, pembuat draft, skenario, ide atau apa pun itu, bahkan riwayat. semuanya bergulir begitu saja, dan semuanya berjalan  tanpa alam bawah kesadaranku.

sengaja semuanya kukumpulkan, sebelum nostalgia jadi lamunan senja yang datang sekejap tapi setiap hari.

Aku lupa menyebutkan, bahwa bukan hanya suara tikus kecil di teras rumahku, tetapi ada taman kecil, langit, bulan purnama, kursi kayu, bintang, nyamuk-nyamuk  dan kaca jendela di rumah besar-depan rumahku. Mereka semua selalu ada di lokasi dan segala situasi. dan aku menaruh perhatian besar pada kaca jendela rumah depanku. jendela itu bagai sedang menyaksikan fragmen demi fragmen seluruh penggalan-penggalan kisah. Dan aku jatuh cinta pada langit di atas sana, dia seperti mendukung aku menjalankan peran-peranku. . meski banyak tumpahan dialog tanpa tema.

 

meski begitu, aku sering diperlihatkan bayangan-bayangan bermunculan di teras itu, sebelum semua kisah ini terjadi. apakah itu sebagai tanda? tapi tanda untuk apa? untuk peringatankah atau suatu….Apa?….aku tidak tahu jawabannya. semakin ku berada di tiap scene, semakin ku teringat bayang-bayangan itu. karena bayangan itulah, awal dari semua keberadaan peristiwa di langit teras rumahku.

 

Mulanya, aku dapat menghitung tokoh-tokoh di judul cerita ini, kemudian aku kian tak mampu berhitung. Kesalnya, tiap persona terbangun cerita yang terus berkembang tapi tidak seperti bunga yang tiba-tiba melayu. Mereka terus bangkit menghidupkan kisahnya dan aku kewalahan. Selalu saja ada yang baru atau yang salah atau yang tak terpikirkan manusia normal. 

 

Halaman pertamanya  masih gundah. Sebab jendela depan emoh dibersihkan, jadi orang yang ingin melihat ke dalam rumahku, harus memicingkan matanya agar  bisa terlihat. Dan nyata berkata lain, mata mereka jadi rabun.

Bukan tentang pagi dan paginya maupun malam dan malamnya melainkan siang dengan malam atau pagi bersama pelangi sore.

 

Dan hendaknya biru tak menjadi murung, hingga langit membendung.

Dan sekiranya hujan tak berkepanjangan, hingga kelopak langit tak membengkak.

Dan setidaknya matahari tak mangkir, hingga langit tak selalu menambah terik.

Dan harapnya, hati semakin luas, mengikuti langit berjinjit pelan melebarkan angkasa putih.

Dan inginnya, biarkan putih tetap ada di balik langit, biar langit bersuka ria memadukan warna sesuka alur hatinya. Dan putih akan selalu putih, karena Ia bersih 

 

***

“Bukan Perangkai Fakta”

Krisis pola pikir membuat ambruk ketahanan waras.

Siang itu dia membuka pintu pagar dan masuk. Dia berdiri tak jauh dari jendela rumah, kemudian menundukan kepalanya seolah-seolah kepada seseorang yang kuyakini adalah pria bersorban bertubuh tinggi. Aku berada di dalam, melihatnya dari balik jendela. Aku tersenyum, nyaris meloncat dan langsung membuka pintu.

Pintu terbuka.

Tapi dia tidak ada. Kucari-cari dia di semak, di pot tanaman, di selang air, di rerumputan, di bolongnya tanah tempat keluarnya tikus tak tahu diri, bahkan dalam serat-serat kayu bangku teras rumahku. Dia tetap tidak ada.

Hantu yang datang di siang hari. Udah itu saja kesimpulanku!

Setengah jam kemudian dia datang mengenakan pakaian yang sama seperti yang aku lihat tadi. Turun dari mobil tak langsung menyapa, tetapi menundukan kepalanya kepadaku. Tentu diiringi senyumannya yang selalu kusuka itu.

Dia adalah lelaki yang mencintai biru. Sepertinya hampir semua pria menyukai warna biru. Dia berbeda, karena menyukai biru yang lebih tajam menguak daripada langit dan lebih berkilau dibanding gradasi warna laut yang birunya begtu cantik dipandang dari pesawat.

Dia punya asma yang untungnya tidak hobi kambuh, kecuali saat dia mengalami stress. Hidupnya tampak enteng sekali, seolah-olah tidak ada masalah berat yang meninjunya. Itu menurutku.

Aku pun sering dikira mempunyai hidup yang enak dan tanpa beban, ditambah aku yang kata mereka tidak pernah terlihat sedih, selalu ceria dan melempar humor. Pandangan mereka tentang hal ini jelas salah. Mereka tidak tahu aku punya trauma-trauma yang tak pernah tuntas aku ceritakan. Aku memang tidak punya keahlian pandai menemukan benang-benang kusut lalu diluruskan.

~~~

 kedua, “Sahabat tertidur pulas”

sahabat-sahabatku senang tidur di teras rumahku. mulai dari siang sampai jelang pagi. tahu,kan teras itu berlantai keras. bangku kayu juga keras. heran, mengapa mereka gemar berbaring di sini? Sempat-sempatnya mereka pula mengulam mimpi. yang tidak diketahui darimana asalnya. kadang buruk. kadang indah sekali.

pernah suatu hari aku menghitung mimpi buruk dan indah mereka. kebanyakan mimpi indah yang datang. sayang, mereka tidak pernah menceritakan isi mereka. berbeda denganku, yang doyan mengkisahkan mimpi-mimpiku, dari mimpi sekejap, tunggal, sampai mimpi berseri.

seringnya ditulis kembali, mereka pelan-pelan menjadi nyata yang mengerikan. seharusnya aku tertidur di teras rumah, bukan di ranjang empuk kamar ibuku. aku pasti banyak menghasilkan mimpi-mimpi indah. yang pada akhirnya muncul dengan nyata yang indah.

kembali pada sahabat-sahabatku.

yang sering berujar,”nying sep nyes tra la la li li galion endes sacraptos melingai malingi

Aku mulai dari Nobo yang tidak pernah sungkan minta ijin menginap pada mamaku bila matanya sudah bengkak bukan karena air mata, tapi….

Setidaknya, Nobo, satu-satunya makhluk pelopor curhat segala. Yang bisa memakan berjam-jam bicara di telepon maupun secara langsung dengan mamaku. Sedangkan aku sendiri tidak pernah bercerita macam-macam kepada Mama. Sebab omonganku belum selesai, dia sudah memotongnya dengan ucapan-ucapan pedasnya.

Kedua, Inez yang cerdas dan punya gaji di atas Rp. 50 juta ke atas. Saat itu penghasilanku dari kantor hanya Rp. 10 juta, ditambah hasil menulis sebagai content writer dan terkadang jadi ghost writer. Ya kira-kira saja pendapatanku saat itu. Bisa dikatakan nasib Inez selalu berbarengan denganku. Bukan nasib baik, tapi buruk. Yang pada akhirnya kami hanya tertawa jika mengingatnya, lalu menangisinya.

Ketiga, Andre, muncul pada tahun 2011.

Keempat, Revi, si tukang desain dan ngedit yang kurus. Dia yang memulai semuanya ada “Langit Teras Rumahku”. Di tahun yang sama, 2011. Tahun yang sebenarnya berasal dari tahun 1993. Sampai saat ini, aku masih berjuang memunggut yang pernah berserakan, termasuk ingatan yang hilang. Jadi setiap harinya ada kemungkinan-kemungkinan aku teringat sesuatu, seringnya tidak ingat apa-apa.

Kelima, dan seterusnya, nanti saja.

 

~~~

 ketiga,”Melamar Dini”

benar di bulan purnama. ternyata aku pernah punya bulan purnama. aku kira mengenal purnama dari seorang pelancong bertubuh kurus, setelah kubredel semua, purnama ada di dalam kotak lemari. mulanya, aku mengira kunci lemari tidak bakal hilang. nyatanya, lemarinya pun hilang. tapi tidak dengan yang ada di kepala.

waktu: malam, tahun 2011

lokasi: di depan pagar

Situasi langit: Bersih dan Bulan Purnama.

kepada lelaki yang mencintai biru

kamu bersenda gurau pada cinta

yang mulai berada di ujung jari kaki

…”…”….”…

kamu temukan kegagalan para sastrawan sekaligus para filosofis pada waktu lalu

hingga meriang di sudut kamar

sendiri

sendiri

sendiri

berjatuhan murka dan gemas

+-=_=-+

Kepada kamu yang ada dua

yang ada di sana hening

yang ada di sana ramai

dua yang mencintai purnama tapi tidak pernah menyentuhnya karena perawan

memperkosaku di teras rumahku

datang berjingkat-jingkat dengan frekuensi yang awalnya lembut di ‘telinga’ yang akhirnya berantakan,

terdengar sampai di langit teras rumahku

menghancurkan rahimku

lalu aku mengandung

(kata mereka aku halusinasi. sialan! aku jadi malas melanjutkan dialog lamar si dini)

~~~

 keempat,”Historis”

pelan-pelan kuceritakan satu per satu mereka. yang…hmm

Lorong kampus, 1994.

Siang mengerjakan fungsinya secara baik. Laras tidak pernah meminta Sukabumi pindah ke Jakarta. Pun, tak menginginkan namanya sama denganku. Dan muntah, lalu terpejam bersamaan denganku. Di lorong yang sama. Yang kemudian berubah jadi aspal penuh tumpahan peluru dan darah.

Laras keluar sebagai bayi pada tanggal yang sama denganku. Untungnya tahunnya tidak sama. Bisa-bisa orang menyebut kami kembar 2 perut.

~~~

kelima, “Dialek Negeri belasan tahun”

Dan seterusnya…

mau mulai dari cerita yang mana? Megawati? Duh, kenapa harus menyebut nama ini. padahal dia sepintas lewat namun membuat kami tertawa keras pada pagi yang kerap membuat pikiran terperosok mengelola keinginan.

Andrie lebih suka mulai dari Diponogoro. Revie dari Orhan. Daniel tetap perang sasak. Ginan seputar Kerajaan Pasundan. Cyntha masih Hawa.

Aku pendengar gurauan mereka yang panjang. aku bisu, lebih aman mendengar saja. ini terapiku.

Keenam, “Long Trip”

Laras temukan kembali sebuah pribadi yang penuh tapi tidak satu. Seorang yang meloncat satu masa ke masa lain. Semuanya berkaitan dengannya atau kebetulan saja? Atau disama-samakan oleh Laras? Sebab,  itu mungkin saja terjadi, kecuali bicara kebetulan. Banyak kesamaan, banyak juga perbedaaan. Anehnya, jika energi Laras melemah, seorang itu juga sama. Misalnya saja…Ehm, saat ini bukan waktu yang tepat…untuk….

 

marte,2011

starte 2017

seperti halnya zaman yang terus berubah dan teknologi yang berkembang, begitu pula yang ada di sini. 

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s