Terbaring di Atas Bantal

I.

Aku adalah bantal dekil

Penuh noda-noda coklat

dan di atasku

Sesuatu telah terlentang lama

 

II.

Mereka merangkai diksi

Di sepotong lembar kertas

dan merantai sepasang kaki

Untuk disembunyikan permanen

 

III.

Kami punya kesamaan

Suara bergelombang

Yang menghantui

Kami punya perbedaan

“Pram”

(aku membacanya setelah melihatmu menulis)

IV.

Dar

Tung

Gak

Plak

Nging

Nyong

Aku tak tahu sedang apa

V.

Aku

Adalah

Puisi yang terbaring di atas bantal

Yang belum selesai.  .

 

Enam.

Cemburu

Mengapa?

Kamu pasti tahu jawabannya

 

Tujuh.

Tak dicuci berbulan-bulan

Masih wangi

Empuk

Selalu bikin nyenyak

Majas, O Majas

 

Delapan.

Bantal dan guling

Bukan sepasang kekasih

Tapi selalu berdekatan

Dan saling memandang

Amboi..

Seputarnya tutup mata

9.

Dia ucapkan di udara

“I love you. Yes,you.”

Aku bisikan di telingamu

Sebuah kisah mesin peramu detak

Setiap detiknya berubah atau tetap sama

Dikonspirasi oleh semesta begitu nakalnya

Dengan Mengacaukan segalanya

Dia hanyalah keberuntungan

Sadar secara tukas

~ apakah kamu pernah merasakan kekacauan yang indah, walau hanya sebentar saja? ~

10.

Aku terlentang di atas ranjang

Bersama bantal tanpa guling

Menutup dingin dengan selimutmu

Menjadi puisi yang terbaring

Menyisihkan prosa ketinggian

Apalagi kosakata ‘nyentrik’

Sesederhana itu..

Selamat malam segalanya

Sampai pagi turut menjadi segalanya

 

2014,  when the first time I saw you..

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s