Penulis-penulis

Akan kuceritakan banyak penulis dalam satu nafas
Alasannya sederhana,,,

Satu,

Wanita yang suka memakai high heel itu adalah penulis fantasi. Hanya dia tidak pernah menggunakan sepatu tinggi dan tidak pernah menjadi penulis fantasi. Alasannya, tuntutan permintaan pasar. Terbunuhlah JK. Rowling di pantai tak berombak.

Dua,

Kusnadi,  penulis sialan yang mengumpulkan tulisannya hanya dalam dropbox – tidak pernah disebar atau dipublish  di mana pun dan dalam bentuk apa pun.  Lebih parahnya lagi, foldernya itu hanya di-share dengan kekasihnya yang sudah tidak menjadi kekasih pada era digital. Sampai sekarang, kekasihnya masih gemas sekali, Ups, maksudku mantan kekasihnya. Kusnadi,   menulis riwayat, sastra,  budaya, politik, musik, dan kegagalan dunia berikut manusia yang paling dibencinya, yaitu mantan kekasihnya yang berhasil dipolesnya hingga ‘terabaikan’. Sang mantan adalah penulis berparas ayu dengan buku-buku best seller. Ya, pada suatu malam, Kusnadi menceritakan semuanya kepadaku dan aku harus berjanji untuk menyimpan rapi apa yang diutarakannya. Malam ini, aku menuliskannya, karena sumpah mati aku tidak tahan menyimpan rahasia. Lalu, kutemukan alasan Kusnadi menceritakan tentang ini. Kau pasti mudah menerkanya…

Tiga,

Entah mengapa sejak dulu sampai detik ini, Iliana enggan menyebut nama penulis itu. Mungkin karena terlalu sering tersebut namanya di pikiran dan hati Iliana. Selama bersama si penulis, mata ganjil Iliana tak berfungsi sempurna. Berbeda dengan sekarang, mata ganjilnya mampu melihat jernih dan luas tentang seluruhnya si penulis. Termasuk hasil pertapaan selama ekspedisi. Iliana tahu pasti kosakata ini dicurinya dari timeline social media. Tapi bukan itu yang menempel di dada dan mata Iliana. Adalah kegagalan  yang persis ratusan batu menggelinding yang terus terjadi, terjadi, dan terjadi sampai hitungan tak lagi sanggup berakumulasi. Pada akhirnya, karena kematian tidak mati-mati , si penulis berupaya menyelamatkan yang tersisa, yang belum ada kata gagal di ruhnya. Dan entah kenapa, Iliana lebih senang mengucapkan pesan terakhir untuk sampul bertajuk Cinta: “Jika cinta berbagi itu indah, mengapa tidak kau ceritakan milikmu sendiri secara barbar? Atau kau takut?”

Empat,

Dia memamerkan lukisan tangannya di atas 300 halaman yang menurutku cukup seksi, tapi Marlyn Monroe masih lebih seksi. Beruntungnya, namanya terkenal hingga barang jualannya ludes dalam 4 minggu. Pada saat bersamaan, penulis pemula muncul dengan karya baru yang jauh lebih bahenol dibanding artis dunia yang melegenda itu. Sayangnya namanya belum terkenal. Tiga tahun kemudian ketika tulisan baru harus terbit, kumpulan tulisan sang pemula tak kunjung ludes, tidak juga dibicarakan apalagi didiskusikan, dan sudah dipastikan hanya teman-teman dan keluarganya yang tahu bahwa ia adalah seorang penulis berbakat. Penulis yang tulisannya memesona abad saat ini dan mungkin abad selanjutnya. Kisah lain di tempat yang berbeda, sang penulis terkenal itu membuka kerisauannya padaku, “Saya bosan dengan tulisan saya. Ingin sesuatu yang baru, makanya saya menemuimu..”

“Kenapa?”

“Karena kamu selalu bilang tulisanku cantik padahal itu artinya buruk rupa.  Kutahu jika kamu tersenyum menunjukan bahwa karya itu cantik dan aku tidak pernah melihatnya.”

~

Lima,

“Buatlah cerita tragedi yang tragis!”
“Tapi hidupku tidak pernah tragis.”
“Berarti yang gila. Masa kamu tidak pernah menggila?”
Ralat ucapanmu, Anda sedang berbicara dengan orang yang sudah lama gila.”
[Lebih tepatnya, mentalku yang terganggu akibat dunia ciptaanku]
~
Enam,
Si politikus itu juga seorang penulis yang cerdas. “Dalam hal ini, saya tidak bisa menggunakan nama sendiri, bantulah sekali ini saja, cantik.” Dijawab oleh si cantik,”Aku tidak tahu soal politik dan tidak mau tahu.” Si politikus tersenyum tipis,”Kamu memang pandai berkelit!”
~
Tujuh,
Di kolam renang dia mewawancarai sang tokoh yang sangat membumi. “Apa arti sukses bagi Ibu?”
“Sukses itu bisa duduk dan makan bersama dengan orang-orang yang kita cintai. Sukses bukan keberhasilan karir dan harta yang berlimpah, karena semua itu tidak berarti ketika usia malu berhitung.”
~
Delapan,
Lelaki itu ialah penulis skenario film yang datang di suatu kedai kopi untuk menemui Mayang. Dia mengeluarkan suatu ide cerita dan meminta Mayang tuk menuliskannya. Mayang tertarik, tapi harus menghapus gaya penulisannya. Awalnya, Mayang keberatan. Akhirnya,  dituliskan juga oleh Mayang dan sudah tiga tahun ini, ia menjadi takut  bila berada dalam  pesawat. Mayang yang ketiban entah, tapi tetap menuliskannya sampai selesai. Walaupun saat penulisan tersebut, Mayang hancur berkali-kali ketika merancang peristiwa, menduga beratus-ratus sekian apakah tiap paragrafnya ‘cemerlang’, jatuh cinta berpuluh-puluh jumlahnya dengan ‘adegan dan dialog’ termasuk membenci, menangis berjuta-juta tetesan air mata terhadap tokoh utama, dan terakhir tertawa sekali saja. Jawab dengan jujur, cerita siapa dalam novel itu, si penulis skenario atau si Mayang?
~
Sembilan,
Lulusan jurusan penulisan dari universitas terkenal luar negeri dan segala buku sastra diraupnya, kemudian dibagikan kepada kepala-kepala yang setengah dan seperempat dan bulat kosong. Entah kapan, ia jatuh cinta membuat kisah visual. Layar demi layar, Shantika saksikan. Indah sekali. Itu baru babak pertama, lalu datar. Babak kedua kembali indah, kemudian hambar. Sampai ke babak ketiga, masih indah, dan diakhiri tawar. Shantika menarik nafas panjang, tanpa terduga, Ia menegur Shantika,”Hai. Gimana menurut kamu?” Di kepala Shantika  langsung menyusun 1000 jawaban yang dirinya tahu tidak pernah tepat kalimatnya.. kadang, berbohong itu baik, tergantung ekspresi dan melodi suara.
~
Sepuluh,
Di langit  penuh bintang yang tersaji sangat cantik, wanita timur itu bersorak gembira, “Tuhan, aku tidak pernah bisa menuliskan keindahan ini. Apakah ada manusia lain yang tahu caranya?”
“Kita tidak sedang melihat bintang dengan ekornya yang cantik, melainkan Tsunami.”
Wanita itu terbahak, “Ah, bahkan kau pun tidak bisa mengucapkannya dengan sebenar-benarnya dan utuh.”
“Barangkali, apa yang sesungguhnya dari setiap pikiran, rasa dan keindahan maupun kepedihannya hanya milik kita sendiri, orang lain cukup menikmati setengah saja malah sepuluh persen .”
+
+
+
+
+
+
+
Aku pun tidak bisa menyampaikan maksud percakapan mereka dengan baik. Apalah aku…Dan nafasku malam ini cuma sampai di sepuluh saja yang berangkap.
Alasannya tidak sesederhana itu…
Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s