Photo Sari Novita

Ratusan Bunyi

Pada suatu pagi aku menjadi batu. Batu yang baru saja diletakkan di antara batu-batu zaman. Batu-batu bergambar dengan bahasa yang tak kumengerti. Aku hanya melongoh. BIsa apa aku? Bicara pun tak bisa. Bergerak juga tak bisa. Berekespresi ini sangat sulit. Jadi aku mau apa di sini?

Menjelang siang, gerombolan merpati beterbangan di atas kami. Sepertinya mereka berpasang-pasangan. Kulihat di kaki mereka ada lipatan kertas. Yang tiba-tiba saja, semua merpati itu melepaskan lipatan kertas di kakinya. Aku ingin sekali menangkap dan membaca puluhan kertas itu, setidaknya selembar saja. Tapi aku tak bisa. Sebuah lipatan kertas berada tak jauh dari pandanganku namun aku tak bisa membacanya. Buat apa ya aku di sini jika aku tak bisa apa-apa?

15 menit selanjutnya, 2 manusia menghampiri kami. Eh, maksudku 3, satunya seorang guide. Salah satu di antara pengunjung itu mengenakan headset di telinganya. Aneh! Satunya asyik mendengarkan si pemandu. Ia memerhatikan tubuh teman-teman baruku yang penuh bahasa dan gambar. Ia sepertinya senang mengetahui masa lalu yang dicelotehkan pemandu yang baru kulihat sosoknya. Aku, kan juga baru, wajar saja belum pernah melihatnya.

Kemudian, mereka meninggalkan lantai pertama (kami), dan berjalan ke lantai dua, dan sampai ke lantai atas. Hebat juga, penasaran dengan kitab teman-temanku itu. Dan, ini sudah sore. Aku belum juga tahu mengapa aku jadi batu. Apa aku tadi salah berdoa?

O, iya sepanjang pagi sampai sore itu, aku terus kedatangan manusia-manusia yang ingin tahu soal peradaban. Aku pun terus deras mendengar cerita-cerita sama yang dilontarkan oleh para pemandu.

Pada malamnya, batu-batu itu mengerubungiku. Ya, terkejutlah aku. Batu-batu itu bisa bergerak! Dan, Hah, bisa bicara juga.

“Siapa namamu?”

Nama? Nama ketika menjadi manusia?

“Iya. Siapa namamu?”

Hermis.

“Hah? Hermes?”

Hermis. Her -mis.

Mereka saling memandang. Ekspresi penuh tanya dan heran. Aku tak peduli.

“Tahu nggak kamu, apa yang mereka ceritakan sebagian ngarang. Tiga perempatnya sepotong-sepotong kebenaran. Sisanya diambil dari suara seorang peneliti asing yang mereka rekam.”

Apa peduliku? Ratusan tahun ataupun puluhan abad lalu tidak begitu menarik perhatianku. Paling juga pengulangan-pengulangan sejarah yang terjadi!

“Ho ho ho. Batu yang sok tahu.”

“Apakah aku yang dulu berperang di atas awan pernah terulang di masamu, sayang?” Batu yang lain tetiba mendekatkan wajahnya ke aku.

Ah, itu hanya folk, dongeng, mitos, dan terserah apa pun bentuknya itu. Maaf aku tak percaya.

“Batu yang bodoh!”

Maklum, belum sehari menjadi batu.

Dan seketika, batu-batu di candi ini ‘berbunyi’. Mereka mengeluarkan lidah, mata, hidung, telinga, tangan, kaki, rasa, pikiran, dan mimiknya bahkan air matanya. Mereka bergerak, berdialog, dan memainkan suara dari mulutnya. Mereka persis pertunjukan drama musikal yang selalu kusuka. Langit candi menjadi layarnya. Maka, aku berada di ruang mereka. Menyaksikkan riwayat mereka, satu per satu, tanpa jeda juga tanpa kedipan mata.

Aku batu. Yang awalnya sunyi. Kini menjadi ramai oleh bunyi. Maka, aku mulai menuliskan aku di tubuhku sendiri dengan bahasa not-not. Alasannya: Tidak mau kalah dengan mereka. Maka, di hari selanjutnya, manusia membacaku seolah-olah mereka sedang mendengarkan seseorang bernyanyi. Mereka memang tidak semua mengerti tangga nada, tapi kesedihan dan kebahagiaan dari mereka, aku peluk begitu eratnya. Lalu aku buat batu-batu lainnya meriang dan pikirannya kacau balau. Karena semrawut adalah sama di zamanmu malah kini lebih gila. Apa iya lebih gila? Bisa saja aku salah, kawan!

Mereka meriang? Siapa tahu itu pengaruh cuaca. Salah jika batu mengalami demam?

~*~

Kira-kira satu bulan aku terperangkap di sini. Ritinitasku hanya membuat batu-batu lainnya iri. Aku batu ratusan instrumen dengan lirik-lirik yang membuat semua makhluk hidup dan benda mati, terpana. Jejak rekamanku lebih modern daripada batu-batu masa lalu itu. Aku pun diletakan di depan mereka. Menyendiri dengan kesuksesannya meraih perhatian manusia-manusia.

Sampai pemuda itu memandangiku lama setelah menyentuh lekuk tubuhku. Sentuhannya itu..Ah..Mengapa tidak kau sentuh aku yang lama?

“Ini batu muncul begitu saja. Mungkin turun dari langit. Di malam hari ia begitu sunyi, tapi pernah pada satu malam, ia bertingkah. Suara-suara melodi yang keluar dari tubuhnya berdenting memesona. Not-not nada di tubuhnya seperti beterbangan mengelilingi candi dan bergema menggoda apa pun,” seorang pria yang biasa bercerita ngarang kepada pengunjung menjelaskan aku tanpa ditanya pemuda itu.

“Bertingkah?” Pemuda itu heran.

“Iya, karena setelah itu terjadi kebisingan kota di masa lalu. Orang-orang berlari dan berteriak. Lalu, terjadi pertempuran antar suku yang melibatkan deru debu. Berakhir badai debu yang menggulung-gulung menelan nyawa dan..”

“Dan melenyapkan satu masa,” ucap guide itu pelan.

“Jadi pernah ada satu masa yang hilang?” Pemuda itu tampak serius.

Haha. Aku tertawa tanpa bunyi. Si pencerita dari dunia cerita yang tidak  punya kepandaian ilmu cerita. Buruk sekali! Bukan begitu ceritanya, juga bukan begini ceritanya. Maksudku..

Pemuda itu menyentuhku lagi. Bukan pemuda berwajah tampan. Sangat biasa. Tapi jari-jarinya mengingatkanku tentang seorang yang gemar kisah-kisah masa lalu. Seorang penulis dengan tulisan yang amburadul, tapi menyulap kalimatnya dengan suntingan yang rapi. Zandhi selalu senang menyentuh pinggangku. Mengecupku, lalu memainkan biolanya. Permainan biolanya lebih membuat aku jatuh hati daripada tulisannya. Hanya saja komplekstitas batinnya membuat aku kesal. Sumpah aku malas mengisahkannya.

“Batu ini punya kekuatan,” Aku ingin ketawa mendengar kalimat pemuda itu. Meski begitu, aku senang.  Setahuku, aku tidak punya punya kekuatan apa-apa, kecuali menjadi batu seperti sekarang ini. Menjadi diam agar pemuda itu semakin penasaran. Batu pun punya rasa.

Rasa-rasa itu terkumpul penuh hingga malam hari. Dan pemuda kurus itu masih berada di bangunan candi ini. Kelelahannya memutari candi, membuatnya dia terduduk di sampingku.

Ratusan bunyi meledak dari tubuhku. Memecah malam. Orkestra simfoni keluar dari  pikiran-pikiran dan rasa-rasaku. Meluap karena aku tak tahan  melihat matanya. Satu mata yang tidak mampu kulihat bola putihnya saat dirinya mencium hidungku.

Aku pun runtuh perlahan. Menjadi serpihan yang terkejut. Yang mati dan yang hidup menatapku dengan menganggah.

Beberapa detik lalu, aku adalah batu, saat ini hanya serpihan. Kutukan apa lagi ini. Atau cara berdoa yang salah?

Hanya serpihan, sayang…dari ratusan bunyi …

Lalu kepalaku pusing. Tubuhku menggigil. Suhuku panas tinggi. Aku demam!

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s