20160409_153514

Olahan Secret

Secret. Bukan nama asli. Dia paling senang menyebut dirinya ‘Secret’. Alasannya? Sedang kucari tahu. Gender? Seperti namanya, Rahasia. Apa yang membuatmu tertarik padanya? Masa lalunya. O, lagi, masa lalu. Tenang, bukan itu saja, itu yang utama. Lalu, apa yang lainnya? Khayalannya. Khayalan atau imajinasi? Terserah, apa pun itu pengertiannya. Apa yang menarik dari masa lalu bagimu? Jiwanya. Sebentar, sejak kapan kau bermain-main dengan jiwa orang lain? Sejak pertama aku membaca tulisannya. Berarti tulisannya bagus? Amburadul!

Bagaimana bisa kau penasaran dengan tulisan amburadul?

Aku jawab  dengan mengedipkan mata.

Jadi, bukan begini atau begitu ceritanya. Sama halnya ketika aku menulis status ataupun fiksi yang orang kira adalah nyata. Itu memang nyata  aku ambil dari kisah fantasi. Kau tahu, walau fantasi tapi semua itu karena penulis fantasi kurang kerjaan saja. Haha. Pada intinya semua berasal dari kehidupan realita. Tapi banyak imajinasi di tulisan fantasi? Sudah aku katakan, itu karena mereka kurang kerjaan!

Untung aku bukan penulis fantasi, jika iya sudah kudamprat wajahmu!

Sayang, aku banyak mengenal penulis, fiksi maupun non-fiksi, jurnalis, kurator, naskah, komik, kritikus..

Ya..ya, aku tahu. Aku juga tahu, kau akan berucap,”Jangan percaya penulis!”

Termasuk kamu..

Hei, aku bukan penulis. Aku tidak pernah menulis buku, di media, di website, di mana pun!

Ya, tapi foldermu penuh tulisan tentang apa saja. Kau pun baru saja mengaku sebagai penulis fiksi.

Dan itu cuma fiksi, kan, semua yang kutulis tidak bakal dipublikasikan. Jika iya, maka itu fiksi!

Dan aku tidak suka kau sering membelokkan arah pembicaraan. Kau ini senang sekali melompat-lompat.

Sebab, celotehmu kerap membuatku mengeryitkan dahi, sinting! (Sepertinya aku mulai gerah dengan makhluk di hadapanku ini. Ya, selalu bikin panas padahal obrolan baru dimulai)

Jangan pasang kekesalan dalam pikiranmu, sayang. Masih mau nggak, mendengarkan penulis bernama Secret?

Aku khusus beli kopi dari perkebunan di Flores sana hanya untuk mendengarkan kisah si Secret. Dari mulutmu. Yang semoga bukan kisah bualan atau karanganmu saja atau delusi.

(Aku tersenyum. Bukan karena kalimatnya melainkan mimiknya) Sebelumnya kau harus baca tulisannya terlebih dahulu.

Kepada Ratu-ratu yang bersemburan di pagi, di siang, di sore, dan di malam.

Aku tumpahkan  sederas-derasnya sperma sampai ke ujung paling dalam

Setelah itu memelas kepada Tuhan, “menjadi bayi.”

Selepasnya, aku berpikir, apa yang sebenarnya kuinginkan, sebuah peta atau Samana yang berwujud apa saja? 

Sudah? 4 Baris saja?

Ya. Karena aku malas menuliskan selanjutnya. Hahaha. Aku tahu kamu pasti berpikir tulisannya tidak termasuk amburadul. Betul, kan?

Tidak. 4 baris kalimat tulisan belum dapat menunjukan hal itu. Tapi 4 baris sudah cukup bagiku memahami penyebab kamu tergila-gila kepadanya. Setiap kosakatanya bermetafora. Dan kamu sangat menyukai metafora.

Metafora? Kamu tahu, sesungguhnya aku tidak pernah mengerti tulisannya, entah itu dipoles metafora atau apa pun. Secara psikologis itulah aku membacanya, tidak berbeda dengan tulisan lain yang terkadang menyiratkan. Dari sana aku mencoba membaca berasal dari mana makanan yang dikunyahnya, minuman jenis apa yang masuk ke tenggorokannya, bau apa yang selalu menganggu juga yang membuatnya senang, dan melodi-melodi seperti apa yang meningkatkan ingatannya. Itu saja. Tapi dari sana, aku melihat dirinya memakan semua aneka tanaman yang ada di sekitarnya.

Aku kira aku salah, nyatanya dia mengakuinya secara terang-terangan. Dan itu tentu membuatku terkejut. Saking kagetnya, aku mengajaknya meminum air hujan  untuk menetralisasi, apakah ini ilusi atau realita? Pikiranku semakin zig-zag saat kutahu, akulah satu-satunya manusia yang tahu soal ini.

Apa yang salah memakan tanaman? Dia makan daging juga, kah?

Dia makan daging sapi, domba, ayam, dan ikan. Tak ada pantangan.

Hmm, dia juga makan pepohonan?

Ya. Dia paling suka mengunyah dedaunan sehabis gerimis hujan. Lalu, dia menyantap dedaunan kering untuk menuliskan rasa-rasa yang dikulumnya. Terakhir, dia melahap batang pohon satu per satu hingga habis agar kobaran api di dadanya tetap terjaga ketika dia menulis.

Siapa dia sebenarnya? Apakah kamu pernah bercinta dengannya?

Dia adalah Secret. Dan kami tidak pernah bercinta. Mungkin suatu hari nanti. Tapi rasanya..

Rasanya apa?

Jika kami bercinta, maka itu tidak mungkin.

Bukankah bersetubuh membuat kamu senang tahu segalanya? Kamu bisa tahu kental atau cair air maninya, tinggi atau rendah engahannya, deru atau tidak bisikan-bisikannya, lembut atau nakal liukkan lidahnya. Jika  kamu bisa tahu  berapa kali orgasme saat bersamanya. Kamu pun bakal mengingat berapa kali kalian orgasme secara bersamaan. 

Kamu benar. Tapi aku koreksi, tubuh yang menyatu tindih belum tentu bercerita semua. Suatu hari kamu harus mencobanya, sayangku.

Bila aku mengetahui seluruhnya dia,  aku bakal mencintainya berlipat-lipat atau membencinya bertingkat-tingkat. Bila aku berada di kawasan itu, aku tidak ingin apa-apa dan apa-apa bisa jadi tak menginginkan aku. Aku pun kuasa menginginkan segala darinya atau segala darinya menginginkan aku. Memang bagai melempar bola kasti yang memantul kembali kepada kita. Bolak-balik antara aku dan dia. Dan aku akan melupa tentang Secret, meski kutahu ada misteri yang mendasarinya.

I see. Apalagi cerita tentangnya?

~*~

Suatu malam aku berperan ganda. Tidak. Tidak ganda melainkan banyak. Banyak sekali. Sekalian saja semuanya. Semuanya aku mainkan biar aku puas. Puas menjadi dia, mereka, kamu, aku, kita, ayo sebutkan siapa lagi. Lagi tiap kalinya tiap bersama, aku jatuh cinta. Cinta yang penuh kutukan di atas kertas. Kutukan dari kekasih-kekasih penuh dusta. Dusta, apa kata yang baik dari dusta? Dusta atau kejujuran yang dirangkai sangat baik agar semua tertipu. Tipuan itu permainan para pesulap. Pesulap yang bertujuan menghibur orang. Orang-orang tidak tahu diri merebut bukan hak milik. Milik semesta yang pasti milik Tuhan. Tuhan, apakah Dia pernah ada saat aku meluntur dan mengering seperti daun ganja yang dihisap oleh pematung di pasar kesenian. Seni timbul dari penjuru  angin yang bernyawa. Nyawa, nyawa, barangkali aku memang bernyawa namun aku membeku minus 100. 100 kali kukatakan, aku cinta kau..

Malah lebih dari 100 kali. Barangkali..

Aku sedikit lupa ingatan. Sebetulnya, aku sengaja melupa. Supaya aku tahu seberapa pintar dan cerdas dirimu? Kamu pasti tahu perbedaan antara pintar dan cerdas. Aku bukan keduanya. Tapi aku salah satu darinya. Pilih yang kamu suka!

Sebab, kali ini kubiarkan berjalan dengan tanda-tanda alam atau petunjuk getaran dari tubuhmu. Wahai, kamu pemain terpuji.

Aku tersenyum lepas. Tubuhku ringan. Aku nyanyikan lirik-lirik lagu yang kita puja. Aku tanpa ketakutan. Mengandeng tanganmu ke mana pun berjalan. Sampai pada akhirnya, aku tahu kamu berasal dari sekumpulan orang-orang terpuji. Yang mendapatkan piala dan gelas sampanye pada malam anugerah.

Aku tak  bisa lagi menulis di meja tapi di lantai paling atas. Tanpa meja. Tanpa kursi. Tanpa mesin ketik, laptop, dan komputer. Aku menuliskan semua di layar langit di mana aku bisa melompat ke tebing-tebing tinggi dan gunung-gunug besar. Dan aku bisa  menghentakkan kakiku di tanah pijakan sekencang-kencangnya. Sekeras-kerasnya. Di atas kepalamu yang botak! Aku benci dirimu. Mengkhianati keyakinanku yang bertahun-tahun kulekatkan dalam pikiran dan hatimu.

Terpuji. Sudah tidak berarti lagi buatku. Kau pendosa, aku pun sama. Yang membedakan adalah apakah kamu masih mengingat jalan-jalan penuh rempah seusai hujan yang memeluk kita? Aku tahu itu hal biasa. Tapi kamu tahu itu hal yang paling dalam yang pernah dimiliki oleh salah satu ingatan kita.

Dan semakin lama kau terkulai oleh desakan-desakkan yang memburumu dan tak bisa kau tolak. Jadi, sekian!

Kau penulis. Aku pun penulis. Penulis yang sama-sama membutuhkan waktu lama menyelesaikan tulisannya.

Di suatu malam, aku berjingkat-jingkat masuk ke rumahmu. Untuk apa? Mencium keningmu sekaligus membunuhmu. Dengan pisau yang bersilau-silau kutancapkan pada jantung hatimu. Kau mati. Mati!

Lalu, aku menguburkan kau bersama batu nisan berbahasa sangsekerta.  Menjadi puluhan ribu tahun silam. Tahun-tahun masa lalu yang juga ukir di bebatuan agar kau ditemukan di masa yang akan datang. Masa yang jauh sekali dari masa kini. Kau mati, mati yang terus hidup. Hidup karena prasasti dan candi.

Hanya saja, mengapa di hari minggu, tanggal 16 Oktober 2016, aku melihat dirimu di antara kerumunan pengunjung Kota Tua. Kau berlari kecil mengejarku yang menghindar dan menjauh darimu. Tapi tanganku tertangkap olehmu.

Anehnya, kau malah bernyanyi, kemudian memberikan aku bola kaca berisi kumpulan musik. Tak lama, not-not nada menyebar ke segala Kota Tua sampai ke Gunung Krakatau. Dan aku terperangkap ke dalam bola kaca. Menjadi lirik dan lagu-lagu.

Siapa yang mati sekarang ini? Aku atau kau? Atau keduanya? Atau kita malah hidup meriah?

1 jam selanjutnya, seorang perempuan tua menyapaku. Sebelumnya dia menemukanku tidak sengaja di bawah kursi busway. Suara teriakan dan ketukan keras aku pada dinding kaca telah mengusiknya. Akhirnya, kami berkomunikasi yang membuahkan kesimpulan bahwa aku dan bola kaca harus melakukan perjalanan.

Maka, aku berjalan dari gurun ke gurun, sungai ke sungai, pantai ke pantai, gunung ke gunung, sawah ke sawah, rumah ke rumah, seraya menggelinding. Dan aku menemukan seseorang dengan kelamin berbeda tapi dirinya menyerupai aku. Perbedaan lainnya, ia polos tentang orang-orang terpuji. Terpuji yang berantakan. Yang menghisap sel sel darah dan menipu orang-orang se-nusantara. Aku jadi teringat penulis terpuji. Kau..

Dan polos puji, yaitu kamu melepaskan aku dari bola kaca penuh lirik dan musik. Aku pun normal kembali. Hanya saja kamu meminta syarat untuk aku menuliskan tokoh-tokoh novel yang tidak pernah kamu mampu selesaikan. Juga menjadi mereka.

Untuk menjadi mereka, aku harus mencukur bulu-bulu di seluruh tubuhku, mengubah selera makan, pakaian dan musikku, berganti-ganti kekasih, mengubah cara bicara dan berjalanku, hidup di rumah yang tak pernah aku kenal, dan harus selalu membawa  bolam lampu di tanganku. Bolam lampu dan bola kaca..Ah..

Setidaknya masih berkontur kaca. Kaca yang memantul dan membuatku berdandan. Jadi aku tak perlu total berubah. Cuma aku sedikit naik darah karena karakter tokoh dalam novelmu adalah semua yang berserakan berantakan dan sendiri.

~*~

Namaku Reader. Aku pembaca segala. Buku, koran, majalah, media online, angin, cuaca, badai, raut, bisa jadi aku mampu membaca nasib burukmu. Seburuk tokoh-tokoh buruk di cerita dongeng. Ingat, itu baru prediksiku.

Pastinya aku membaca si pencerita dengan mengikuti lonjakan dan gegar kisah yang butuh memeras otak. Terkadang tidak perlu berpikir. Tapi semua dari setiap diksi yang terlontar adalah suatu kota. Yang semua penduduknya tak tahan kesepian. Setiap detiknya mereka bekerja mengolah rasa yang tak juga mampu ditahan. Akhirnya pecah tak beraturan.

Lucunya mereka semua adalah penulis yang bahagia. Kesepian tapi bahagia. Ya, bahagia, kawan! Tak terkecuali penulis rahasia yang kini membuatku jatuh cinta. 

Aku mengerti apa yang penulis tersebut tuliskan, tidak seperti lawan bicaraku tadi. Yang menjadi pertanyaannya, yaitu Apa alasannya aku bertemu yang selalu berkaitan rahasia? Yang tentu membuatku tidak mengerti.. 

Seperti ini contohnya…”Semalam aku berzina dengan ember berisi 3/4 air.”

 ~*~

Tetaplah berada di folder komputerku. Setiap detil penulis rahasia dari setiap bagian belum tumpah dan memang tidak untuk di sini.

Kamu masih bicara denganku?  Sudahlah matikan racauan dan amburadulmu.

Berhenti! Aku dan kamu saling mengembangkan imajinasi yang berlanjut lewat dari garis batas.

Imajinasi itu tanpa batas.

Iya, tapi orang akan membaca penulis rahasia dengan intreprestasi imajinasi kita.

Dari mana imajinasi itu?

(Aku terdiam)

~*~

Dia sengaja menyebarluaskan draft-draft melalui 2 cara: yang standar dan yang unik. Internet itu barang standar. Membagikan ke pasar, ke penjual sayuran, ikan, dan tukang jegal, juga orang-orang Jakarta yang doyan kesibukan dan yang ogah bangun pagi, dan…silahkan isi sendiri sesuai terka yang unik..

Agar tulisannya menyebar luas, tidak hanya satu komunitas atau hobi atau mantan-mantan saja. Dia menerima masukan dari pembacanya. Hal ini baru saja dikatakannya tadi pagi. Tanpa dia mengatakannya, aku sudah menebak hal itu. Tebakan atau perkiraan bisa saja jadi bahan sebuah observasi. Yang nantinya  perlu dilandasi bukti-bukti hasil wawancara, riwayat/history, perilaku masa periode, dan data-data pendukung lainnya. Tapi aku tidak pernah mewawancarainya apalagi menyelusuri riwayatnya. Meski aku pernah bekerja hal terkait. Semuanya itu mengalir bagai air tenang yang bisa kapan saja berubah deras.

Apa yang kudapat berusaha aku olah. Butuh berkali-kali aku membaca tulisannya, mencerna spektrum kata-kata di baliknya, penulis-penulis berjasa dalam proses pemikiran dan tulisannya, perasaan-perasaannya yang tidak digembok, dan apa yang sebenarnya yang ingin dia kisahkan. Terakhir aku menyimpulkan, seluruh itu merupakan kisah sepanjang hidupnya. Dan entah dia lupa atau tidak sadar bahwa dia pernah tidak mengakui itu bukan ceritanya.

Siapa pun yang membacanya, pasti akan mengira hal yang sama dengan aku. Kemudian, kamu mematikan aku.

Hmm, non-fiction, again?

(Rasanya aku ingin sekali mencubit wajahnya. Gemas! Lalu aku teringat musik-musik yang kamu nyalakan)

Mendengar musik memang bukan kegiatan fiksi. Lucunya dari situ imajinasi kamu makin meluas ke mana-mana. Aku tidak peduli imajinasimu, kecuali lagu-lagu yang kamu dan dia suka. Seleranya mengempulkan masa.

Aku punya pandangan sendiri terhadap ini. Suatu lagu bisa menjadi simbol atau tanda tentang peristiwa. Silahkan dibantah! Tapi riset kecil-kecilan ini (jadinya) menghubungkan jenis dan masa lagu dengan tulisan-tulisannya. Wajar isi tulisannya menyuguhkan orang masa lalu. Dan lagu terus berinovasi. Nama-nama genre-nya semakin asing di telingaku. Aku tidak tahu besok bakal ada genre apa lagi. Sampai di sini, perlukah aku menjelaskannya lagi?

(Lagi-lagi dahiku berkerut).

Dari banyaknya playlist-playlist yang dimainkan, adalah dia dan episode-episodenya. Yang terdahulu dan yang terbaru.

Jadi personal personifikasinya?

Huff. Bagian personifikasi ini tidak lagi perlu dipertanyakan dan dipermasalahkan. Persis fiksi dan non-fiksi di kepalamu yang kerap kamu ributkan.

~*~

Aku reader. Yang gagal membaca. Suatu malam, purnama muncul sangat terang dan bersih. Lalu, aku berlari ke tempat yang lebih luas agar aku bisa menyaksikannya dengan puas. Puas, tapi aku belum puas membacanya. Lawan bicaraku bilang, “secret bisa saja si penulis populer yang dikenal binal dalam tulisannya.” Aku tersenyum saja, mengiyakan ucapannya. 

Sudah kuceritakan, aku membaca segalanya, setiap harinya, sejak aku duduk di bangku kelas 4 SD. Sebentar aku mendengar simfoni berputar-putar di aku. Apakah kamu juga mendengarnya?

Baiklah aku selesaikan tentang aku yang gagal membaca padahal tulisan apa pun dan dalam bentuk apa pun itu rutinitasku. 

Aku hanya ingin menikmati simfoni..simfoni..simfoni

Selamat malam, kekasihku…

~*~

Penulis rahasia. Nama apa itu? Istilah apa itu? Profesi apa itu?

Semua orang memiliki rahasia, termasuk aku. Rahasia tetaplah rahasia, kecuali terbongkar. Ibarat, orang ketiga yang datang dalam suatu hubungan. Ia tidak akan datang bila salah satu dari kami berdua tidak ada yang mengundangnya.

Dan kamu, tanpa sengaja aku undang.

~*~

hari sudah pagi

tapi aku belum bisa tidur

mencemaskan seseorang

dari selatan ke timur

absurd, itu tanda mata dariku

maka menangislah

untuk masa depan?

rahasia..

tapi…boleh aku bertemu empat mata dengan penulisku?

janji tetap kembali ke dalam novel?

~*~

Aku dan kamu, dan, AKU dan KAMU, adalah satu. Aku hanya sebuah lampu. Yang menemani kamu menulis tulisan dalam folder. Kisah-kisah yang menceritakan persona aku dan kamu. Aku, aku, kamu, dan kamu memang sering disebut penipu. Maka, lampu sekadar bisa menyala.  Yang tertipu dan yang menipu, siapa lagi yang bakal mau ditipu.

Lalu, aku dimatikan…

Alasannya, secret sedang mengamuk, tokoh-tokohnya menuliskan kisahnya sendiri secara amburadul. Halaman-halaman terus bertambah, hingga secret kelimpungan menghentikannya.

~*~

Namaku Shantih. Yang berarti “terang” dalam bahasa India. Nama lengkapku, Tara Shantih. Artinya Bulan yang terang.

Sebentar lagi merayakan angka 4 dan nol. Di saat hari itu, aku akan membebaskan cangkir, lampu, pulpen, minyak wangi, kalendar, notes, cermin, rak, meja, bangku, pigura, dan cincin.

Tunggu, ke mana tulisan-tulisanku. Mereka tidak lama lagi bakal berada di tangan penerbit. Mereka? Mengapa sekarang ada mereka? Bukankah hanya ada aku dan kamu, dan, AKU dan KAMU.

hari sudah pagi

tapi aku belum bisa tidur

mencemaskan hasil karyaku

yang katanya absurd

maka tertawalah

untuk masa kapan?

masih pentingkah bicara masa…


Secret. Bukan nama asli. Dia paling senang menyebut dirinya ‘Secret’. Tidak, dia sama sekali tak suka menyebut Secret. Ah, membingungkan!

 Diam! Moodku sedang tidak bagus. Apalagi pecahan kaca di lantaiku menjadi kamu yang sulit aku tuliskan.

Kamu masih sayang, kan dengan aku?

~*~

Awal 2017.

Terjadilah pernikahan. Antara pemegang rahasia dan pembuat rahasia. Misteri. Ini bukan lagi masalah misteri. Tapi…

Selesai atau tidaknya sebuah tulisan yang panjang dan melelahkan. Termasuk takdir dan nasib tokoh-tokoh novel fiksi yang sebenarnya telah hidup secara diam-diam.

Sang penulis akhirnya memilih menikah. Bodoh amat dengan mereka!

hari sudah pagi

mataku mulai lelah

rokokku habis

aku masih saja terus

berimajinasi

dan berealita

antara satu sampai sembilan

di mana tingkat imajinasiku

di mana tingkat realitas

…aku hanya bisa mabuk kepayang..

Pagi hari, semua lampu dipadamkan. Kecuali yang satu itu, sukar dimatikan, tapi pura-pura padam.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s