#Putih

Tanpa Gambar

Tapi hari ini aku ingin mati saja, Tuhan. Terserah apa pun caranya. Aku mau hidup yang mati. Tidak  seperti sekarang ini, Tuhan.

Tapi, aku juga ingin pergi ke pusat belanja membeli sepatu high heels berwarna merah. Aku ingin mengisi papan putih dengan coretan-coretan amburadul. Aku ingin membeli buku dari penulis yang dianggap nabi oleh penulis-penulis kemudian merobeknya. Aku ingin mencaci maki dinding kamarku yang bisanya hanya mematung saja. Aku ingin berteriak karena spidol-spidol di meja belajarku semakin sedikit padahal aku jarang memakainya. Aku ingin menghapus e-book dari penulis-penulis klasik di folderku yang kerap menganggu pikiranku. Ternyata dari semua keinginan itu hanya high heels yang sempurna.

Tapi, apa iya sepatu tinggi 9 cm itu bisa membuatku berjalan tanpa terjatuh atau kepleset. Jika diingat aku memang tidak pernah jatuh gegara sepatu tinggi bahkan saat menari. Lalu, mengapa aku berpikiran seperti itu? Hmm, pertanyaan muncul kembali.

Tapi pertanyaan bisa membuatku sedikit berpikir. Setidaknya sedikit. Itu sudah bagus, kan? Betapa ceteknya aku. Ya, beginilah aku. Aku sudah lelah berpikir keras atau berpikir kebanyakan. 5 tahun ini aku melepaskan semuanya sampai aku menjadi batu yang tak terlihat bentuknya.

Tapi, batu itu kalau tidak berbentuk bulat pasti persegi. Bentuk batuku ini tak mau disamakan dengan batu-batu lain apalagi disamakan dengan batu akik. Batu cincin? Batu cincin berlian,  aku bisa mempertimbangkannya.

Tapi aku adalah lain, pertimbangan malah membuatku mabuk minum arak. Terkadang bukan pertimbangan dari jawaban-jawaban pertanyaan melainkan ..Apa, ya?

Tapi apa merupakan 1 kata pertanyaan dari orang yang tidak tahu sama sekali tentang sesuatu. Bisa juga orang itu telat menangkap apa yang dimaksud. Memahami sesuatu memang tidak mudah bagi sebagian orang.

Tapi, sebagian orang tersebut justru mengerti sesuatu hal yang tidak dimengerti oleh orang-orang yang banyak mengerti paham. Contohnya? O, maaf aku tidak memberikan contoh. Karena aku letih mengambar. Semua board putih di rumahku masih tetap putih. Bersih. Tak berdebu. Tak bertitik pula.

Bagian ini aku hapus awal dengan kata “tapi” agar kau tak mengira aku hanya punya satu kata untuk pembukaan. Kata “tapi” tidak sesuai meneruskan paragraf sebelumnya tentang board kosong. Itu memang pendapatku saja.

Sebuah papan putih yang biasa digunakan untuk mengambar alias disebut kanvas cukup setia menanti. Entah setia pada debu, atau juga si penggambarnya. Dan aku bukanlah setia. Namaku peloncat tebing di cerita fantasi. Barangkali aku pernah hidup di realita. Tapi aku tak mau memecahkan misteri itu. Biarlah kijang-kijang berjubah putih yang tahu, karena mereka bisa mengintip realitas.

Mereka sering juga muncul di cerita-cerita fiksi yang sebenarnya tidak ada fiksi di sana. Lagi-lagi itu cuma pemandanganku saja. Pemandanganku yang gagal membuat gambar. Adalah kreativitas berpagar yang menghalang kematian.

Jadi, aku ingin mati, Tuhan. Satu hari saja. Agar aku bisa menggambar meski nafas aku pernah ngos-ngosan.

Bukan tanpa gambar!

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s