Suggestion-bunga ungu

Identitas

Sinar matamu menari-nari, masuk menembus ke dalam jantung kalbu, aku terpikat, masuk perangkap, apa daya asmara sudah melekat..

Juwita malam dan lampu-lampu kuning menyala di tubuh gedung-gedung tua berarsitektur Eropa. Jendela mobil sengaja diturunkan, rambut hitam disambut angin, beterbangan.  Mobil berhenti di samping taman dekat Stasiun Kota. Aku di bawa  sang bulan. Bulan yang terkadang setengah penuh, terkadang penuh bulat. Malam yang terasa Batavia. 

Tiba-tiba lamunanku buyar. Ketukan keras berkali-kali di kaca mobil. Dan kumelihat matanya yang menukik ke arahku.

“Biarkan aku masuk, please..

“E..e..

“Aku butuh pertolonganmu”

Pintu terbuka.

“Ada apa denganmu? Katakan dulu, siapa namamu?”

“Namaku Marlena”

“Apa?” aku terkejut memerhatikan sekujur tubuh pria kekar itu.

“Bu, tolong cepat nyalakan mobil ini. Bawa saya pergi jauh.”

“Pergi? Pergi kemana?” tapi entah kenapa kujalankan permintaannya.

Mobil pun melaju melesat. Di tengah kecepatan tinggi, Marlena menjawab pertanyaanku tadi.

“Aku telah mencuri tubuh seorang pria”

Mobil yang kusetir ini langsung berputar 180 derajat.

*-*

Anthony memerhatikan ratusan wajah di depannya. Kusut. Lelah. Sendu. Kelaparan. Mengantuk. Susut. Semua mengariskan bentuk penat. Tak Anthony temukan satu pasangan pun dalam keremangan ruang bawah tanah ini. Kereta pun kilat menyambut dan membawa mereka pergi. Anthony mematung di bangku kereta. Dingin. Udara terasa berat.  Lamunan kosong.

Memandangi manusia-manusia yang sepertinya senasib dengan dirinya.  Mungkin saja. garis lekuk paras mereka sama semua. Sama dengan rupa dirinya.  Huff, welcome to the big city.

*-*

Mulan tak pernah tahu siapa orangtuanya. Sejak bayi, Mulan sudah hadir di depan pintu panti asuhan, di kala hujan deras menghajar malam. Mulan hanya tahu Ibu Sureta dan Ibu Lastih sebagai kedua orangtuanya. Mulan tak mengenal seorang ayah sekalipun. Jika anak-anak lain diijinkan diadopsi oleh orang lain, maka hanya Mulan yang dipertahankan oleh kedua perempuan itu. Ada suatu rasa tersendiri. lain dari lain, dan begitu kuat, saat Ibu Sureta dan Ibu Lastih menggendong Mulan. Apalagi kedua bola mata besar Mulan, memancarkan cahaya teduh serasa terangnya tak bisa terpecah di udara. Mata Mulan indah sekali. Mata kanan berwarna tosca, mata kiri berwarna hitam.

Mungkin hanya Pak Seno, figur ayah yang dianggap oleh Mulan. Si tukang kebun panti.

Menanjak remaja Mulan mulai mengenal sosok pria idamannya. Yaitu; guru muda, pengajar bahasa Inggris, dan bernama Satria. Ketika itu Mulan baru berusia 16 tahun dan Mulan jatuh cinta kepada pak guru muda itu. Mulan mendapatkan angka tertinggi pada bahasa inggris di kelasnya, sedangkan mata pelajaran lainnya, angka yang diraih Mulan tak lebih dari angka tujuh. Satria tahu betul Mulan bukan tertarik pada pelajaran bahasa Inggris, melainkan pada dirinya. Kesempatan ini digunakan Satria untuk mengenali sosok Mulan.

Dan Satria tak heran, mengapa Ibu Sureta dan Ibu Lastih menyayangi Mulan dibandingkan anak-anak lain di panti asuhan itu. Mulan-seorang gadis menarik, cantik, dan berkulit mulus.  Rambutnya hitam mengkilat dan tebal. Tinggi badannya pun, bukan ukuran biasa orang Indonesia, 175 cm, di usia 16 tahun. Fisik memang bisa memengaruhi hati dan mengambil keputusan.

*-*

Siapa menyangka, Mulan menjadi seorang jurnalis di kota  Big Apel itu.  Usianya tak lagi 16, tapi 25 tahun. Muda, cantik, berbakat dan satu mata hijau-tosca-nya. Satu mata hijau yang membuat Anthonny jatuh cinta sekalinya dalam seumur hidup. Namun cinta Anthony terganggu oleh pernikahan Satria dan Mulan. Pernikahan yang sebenarnya tak dikehendaki oleh Satria sendiri. Mulan dan Satria tinggal di kota berbeda. Satria mengambil gelar Phd  di Harvard University, Boston. Mulan mendapatkan pekerjaan di kota Manhattan, New York. Dua kota yang menyibukkan pekerjaan, sekolah dan kehidupan mereka masing-masing. Sesekali dalam sebulan mereka bertemu, itu pun kalau mereka tak sibuk. Seringnya mereka membiarkan satu bulan itu lewat begitu saja, tanpa kerinduan. Bagaimana bisa tanpa kerinduan sedangkan semua orang tahu Mulan sangat mencintai Satria. Bayangkan saja..

Lain lagi pendapat Marlena. Marlena bilang Satria menikahi Mulan hanya untuk status sosial dan keluarganya.

“Maksudnya?” tanyaku waktu itu. “ Satria punya kekasih lain. Dia lelaki!” ujar Marlena menjelaskan keadaan Satria. O.. Semakin aku mendengarkan ocehan Marlena, semakin rumit-kompleks masalah di antara mereka. Sempat aku berpikir Marlena hanya mengarang cerita. Aku perhatikan rona ekspresi wajahnya. Tak ada kepura-puraan. Marlena begitu lancar berbicara. Semua untaian kalimatnya keluar mulus tanpa dibuat-buat. Aku bingung, ceritanya tak masuk logikaku namun aku masih mendengarkannya. Kemungkinan besar karena aku suka fiksi.

*-*

“Awalnya aku tak percaya sampai aku merasakan sendiri. Satria bilang pintu kereta itu menyimpan magik . Apa yang kau benar-benar inginkan dan yang tidak benar-benar kau inginkan, pintu kereta bisa mewujudkannya. Tapi hanya terdapat dua gerbong kereta yang memiliki pintu ajaib itu di Jakarta. Aku periksa jadwal kedua gerbong kereta itu. Di waktu yang bersamaan kedua kereta harus bertemu berlawanan arah. Aku menaiki salah satu dari kereta itu. Satria selalu menekankan untuk selalu berdiri dengan mata tertutup di depan pintu, karena pada satu titik tertentu dalam rute, kedua pintu kereta itu akan terbuka sekian detik. Dan tanpa diketahui mata manusia. Saat kedua kereta bertemu di satu titik, ada bisikan halus yang menyuruhku membuka mata dan melompat. Ya, aku terjun sekilat cahaya ke kereta satunya dan aku sudah berada di tubuh Anthony di mana saat kerumunan penumpang dan Akfariz berdiri bersebelahan dengan Mulan  menghadap pintu kereta.”

“Aku penuh konsentrasi  melakukan hal itu, karena memang sangat dibutuhkan untuk menyatakan apa keinginan kita sesungguhnya. Fisikku sekarang memang asli punya Anthony, tetapi segala rasa, pikiran dan tindakan, seluruhnya milikku. Dengan begitu aku bisa mencegah Anthony dan Mulan menjadi sepasang kekasih.”

Ceritanya semakin gila. Aku yang lebih gila. Marlena atau aku yang harus dibedah terlebih dahulu?

*-*

Usia suatu tempat bisa jadi telah tua, seperti stasiun Subway di Eight Avenue ini. Tua dimakan waktu. Tua berprofesi sebagai alat transportasi. Tua menyaksikan sejarah. Tua kedatangan manusia-manusia yang selalu berbeda. Ya, tua hidup dalam dunia dan tua mati sebagai benda tak bernyawa. Hari selalu bertambah. Tiap detik bermunculan bayi -bayi baru lahir. Tiap saat manusia pun bisa berubah. Manusia tetap akan datang dan pergi. Hidup kemudian mati. Selalu berputar begitu saja, hingga jaman menelan waktu dan alam berevolusi. Dan Anthony masih saja setia pada kereta malam dan kota yang tak pernah mati itu.

Tak berapa lama, Anthony sampai di apartemennya yang berada di jalan William Street, Manhattan. Anthony masuk ke kamarnya dan menemukan Electra yang sedang telanjang, entah bersama siapa.

*-*

Abdi dalem merangkap body guard, karena tangan kiri Saskia ditarik kuat sehingga Saskia terjatuh ke tanah. Saskia tidak menyerah, dia langsung bangun. Sayangnya lagi, tubuh Saskia didorong, sampai dia terjatuh lagi. Dan hingga Satria terlihat semakin mengecil di mata Saskia.

Mereka tidak mengucapkan terima kasih sedikit pun?

Tidak.

Keterlaluan!

Ya begitulah mereka, tetapi Satria tidak pernah lupa wanita itu, Saskia. Sampai dewasa sekarang ini Satria rajin mengunjungi Saskia. Dan ketika Satria menikah, Saskia ada di antara mereka yang hadir. Tidak ada yang ingat wajahnya, mungkin karena usia membuat perubahan di fisik dan wajah seseorang. Sewaktu bertemu Satria, usia Saskia memang tidak muda lagi.

Kasihan Saskia. Wanita yang baik hati. Yang tidak pernah lagi pulang ke kampung halaman.

Apakah dia sudah mati?

Belum. Dia tinggal di Jogya. Ingat Jogya bukan Yogya atau Jogja.

*-*

Jogya. Dalam satu hari. Akan kutarik matanya. Menari. Melukis. Memahat. Memainkan wayang. Menyanyi. Membatik. Menyinden. Membaca sastra. Menyantap gudeg. Ya, satu Jogya. Tidak pernah ada Jogya yang lain. Ingat, semua tumbuh dari mata. Mata turun ke hati. Hati menyebarkan pola ke tiap organ; tangan, kaki, mata, hidung, mulut, telinga dan rasa. Maka bergeraklah semua. Maka terjadilah hasil. Maka meriahlah hidup. Dan maka semua rasa itu ada. Dan maka telanlah rasa itu satu per satu. Dan maka dirimu tak bisa memilihnya. Dan maka Jogya, hanyalah satu. Satu yang hidup 24 jam. 24 jam itu bisa jadipanjang, bisa juga jadi pendek. Tiap jamnya ada lakon. Tiap jamnya ada alasan. Tiap jamnya ada akibat. Tiap jamnya itu bernyawa kehidupan. Kehidupan?

Aku. Endah, begitu orang memanggilku.

In my dreams I’m dying all the time,  as I wake this kaleidoscopic mind.”

Itu satu-satunya lirik lagu yang kuingat. Aku mendengarkannya sekitar 6 bulan lalu. Masih fresh. Seperti kepala baruku. Tapi tidak mata kananku yang tosca. Menurut KTP-ku yang diurus si mbok, usiaku 48 tahun. Ingatanku banyak yang hilang. Kemungkinan banyak lagi yang hilang dariku selain ingatan. Jika tahun ini 2011, seharusnya aku sedang mendengarkan rekaman suara Richard yang menyusut menjadi debu. Aku lihat lagi kalendar. Tertera 2011. Apa yang salah? Aku yang salah mengingat? Sebentar..Kepalaku pening. Boleh berhenti? Aku ingin tidur.

*-*

Hanyalah random dari sebuah, apa ya kata yang tepat untuk ini. 2011, semuanya kacau di kepalaku, maka aku menuliskannya. Tentang suatu hal yang bukan saja berupa nama, usia, jenis kelamin, tempat dan tanggal kelahiran, alamat, tahun berlaku, pekerjaan, dan tandatangan keturunan dari pejabat daerah. Tapi kamu jangan percaya denganku..Sebab, semua orang-orang yang kutemui saat itu tidak punya logika berpikir, dan bodohnya aku terhanyut. Ini bukan pula cerita pendek.

“Ingat Jogya, bukan Yogya atau Jogja.”

2011, ssstt..bantalku basah air matanya. Lihat alis bantalku. Gundul !

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s