#Merah

Merah

Tanggal 8 Juni. Pukul 20.00. Tahun 2016

Aku kembali ke bangku taman. Menemuimu bersama udara dedaunan hijau yang selalu di sekeliling kita. Lembar-lembar daun yang tak pernah ketinggalan pada pertemuan-pertemuan kita. Daun-daun kering yang berkhianat memberitahukan rahasia-rahasia kita kepada seorang purba yang pernah hidup di dadamu. 

Aku seperti berada di waktu lalu, tepatnya hari minggu, pukul. 17.00, tahun 1996. Bangku taman ini tidak berubah. Masih sama. Warna kecoklatan di tubuhnya tidak luntur oleh cuaca, dialog, ekstase, bintang-bintang yang muncul di pagi hari, semut-semut merah yang mencoba menggerogoti, para pecinta yang menetaskan ingatan, dan para jompo yang menghadap masa depan.

Aku masih mampu mendengarkan percakapan pohon beringin yang bertengger selamanya di sini. Beringin paling besar bertanya, “Kurang satu. Mana dia?” Aku hanya tersenyum tanpa menjawab satu kata pun.

“O, ok. Paru-parumu kurang satu,” Si beringin yang sekarang tersenyum. Tapi aku tak memedulikannya.

Aku masih mencium wangi mawar putih yang tak pernah mati juga layu yang tumbuh di sini. Harumnya selalu sama malah makin semerbak. “Pakai mantra apa, mawar putih?”

 “Air sungai dari pelangi  keabadian,” jawabnya bersama nyanyian paling sunyi yang indah.

“Dunia dongeng,” balasku dalam hati. Aku bosan dunia fiksi!.

Batu-batu kerikil masih pekat abu-abu. Berkilau dan tahan banting. Para manusia yang duduk di sini pasti menginjaknya kemudian melemparkan mereka keras dari atas sampai ke tanah. Aku menggengamnya dan tetiba satu kerikil itu mengubah dirinya menjadi montage yang berpindah ke aku lalu ke kamu, berulang-ulang. Sinting! Aku lempar dirinya ke danau kecil buatan si pak tua yang bisu.

Ah, apakah pak tua itu masih hidup?

“Hei, dia tidak bisu. Ingat, dia cuma berhenti bicara.”  Aha, mawar putih menyambarku.

“Maaf memoriku sedikit bergeser. Dia masih hidup?”

“Dia bersembunyi dari terang.”

Tanggal 1 Agustus. Pukul 07.00. Masih tahun 2016

Aku bukan di bangku taman, tapi duduk di atas kursi plastik yang dibeli dengan harga diskon dari supermarket keparat. Aku memandang sinar matahari pagi dengan tersenyum dan menyerahkan tubuh juga jiwaku untuk diserapnya. Seharusnya aku yang menyerapnya, tapi matahari tak pernah melakukan itu. Katanya, “Aku pinjam sebentar. Nanti aku kembalikan bila kau memerlukannya.” Anehnya, aku tidak pernah melarangnya dan tidak pernah meminta dikembalikan. Ambil. Ambil saja. Ambil yang banyak semaumu, matahari!

Aku tahu dia bahagia. Dan aku biasa-biasa saja. Karena sudah biasa. Kau tahu, kan, bintang-bintang yang muncul malam hari pernah memohon kepadaku agar mereka bisa berada di pagi hari. Bintang-bintang dan kerlap-kerlipnya menyarapku secara perlahan – tidak seperti matahari yang terlihat sekali rakus. Tapi apa bedanya?

Aku dan kau juga tahu bahwa tiada manusia yang mengetahui hal ini. Semesta menyingkir, takut berhadapan langsung denganku. Karena khawatir aku bakal bertanya banyak. Aku memang banyak pertanyaan. Aku juga bingung mengapa setiap peristiwa dan kejadian ganjil aku bisa berada di sana. Tapi semesta tidak pernah menjelaskannya kepadaku. Seingatku, semesta pernah bilang, “Matamu ganjil.”

Aku jadi teringat pak tua bisu. Aku adalah orang  satu-satunya yang ia ajak bicara. Melalui buku kertas yang selalu kubawa dan setiap ke bangku taman aku menuliskan butir-butir sebelum kau datang.

“Kau ada dua. Satunya bahaya karena bisa meledak kapan saja. Dia mampu masuk ke rumah-rumah manusia dan menyaksikan mimpi mereka.” Begitu yang ditulisnya dalam selembar kertas.

Tanggal 9 September . Pukul 24.00. Aku lupa tahunnya. 

Aku terbang jauh sekali. Melintasi benua. Menyeberangi jembatan-jembatan berdimensi. Memasuki ruang-ruang di mana manusia berkulit putih, hitam, kuning, dan sawo matang sedang tertidur pulas. Aku petik satu mimpi dari tiap kepala mereka. Aku kumpulkan dan memasukannya ke botol mineral yang selalu siap sedia dekat ranjangku.

Aku melirik ke dua bangunan tinggi. Aku hampiri. Aku masuk ke dalam. Dan aku menangis seraya membuka tutup botol air mineralku.

Huff, Aku lupa tanggal dan tahunnya. Yang aku ingat saat itu adalah malam

Pangeran merapi berbisik di telingaku, “Bangun, Durga. Bantu aku. Aku sakit.”

Mata purba, mata kini, dan mata masa depanku yang berada di kanan wajahku terbuka.

“Merapi. Aku rindu, ” aku menangis di pelukannya.

“Aku pun merindumu. Tapi aku tak tahan bersembunyi dari perselingkuhan kita.”

“Tidak ada yang akan mengetahuinya, Merapi. Kita saling mencintai. Kau tahu itu.”

“Tapi cinta membuatku tetralogi. Yang belum memasuki jilid ketiga.”

Aku hening. Membaca jutaan halaman di rupanya. Aku menitikan air mata. Lalu, aku bangun dari ranjangku. “Jika itu permintaanmu,” ucapku sambil membuka jendela kamar. Pangeran memelukku dari belakang. Erat sekali.

Aku terbang dan sampai di puncaknya. Aku berdiri menatap rumah-rumah dan penduduk kawasan itu. Tanpa perlu mendatangi mereka satu per satu, aku hirup  petikan mimpi dari tiap mereka. Kemudian aku mengecup bibir pangeran. Lama sekali.

Aku di pagi berjalan di antara abu-abu yang bergulung-gulung. Turun dari puncaknya melalui segalanya yang memang waktunya untuk dihancurkan. Aku berkeping-keping. Menjadi serpihan cinta yang berdebu. Debu. Meninggalkanya untuk bebas. Agar warga bumi tahu yang dianggapnya diam bagai batu tidak pernah benar-benar menjadi diam.

Tanggal 13 Agustus. Pukul 04.37. Tahun 2016. Aku tentu ingat karena saat ini aku menuliskannya

Aku duduk di bangku taman sambil menengadah kepala ke senja yang merah warnanya. Senja merah yang datang dini hari. Ditemani pak tua yang tidak berhenti bernyanyi untukku.

“Merah yang indah,” ucapku.

“Tapi sangat marah,” ujarnya dalam lirik-lirik lagu jazz. “Apa tujuanmu?”

“Sudah aku kumpulkan semuanya. Yang marah kembali berteman dengan yang marah. Yang aman bermain dengan yang tidak aman. Yang punya langit bertingkat-tingkat duduk bersama dengan yang berlangit-langit berlipatan. Yang hitam jatuh cinta kepada yang putih. Yang kanan, tengah, dan kiri melebur. Yang miskin dan yang kaya berteman dengan yang sangat miskin dan yang sangat kaya. Semua bentuk, Pak tua.”

Aku tidak tahu mengapa. Jangan pernah bertanya alasannya mereka menjadi batu. Meski batu namun itu kejujuran di taman ini. Kejujuran yang terkepung dinding-dinging mata, telinga, lidah, hidung, kulit, otak, dan rasa. Lihat, aku torehkan cat berwarna merah yang kuambil dari senja merah di atas ke tubuh batu. Cantik, bukan? Lihat, sebentar lagi bebatuan ini akan meledakan dirinya. Tanpa perlu kupetik mimpi-mimpinya. Sebentar lagi. Semuanya akan Shut down!

Aku pun akan menjadi merah. Batu merah seperti mereka.

“Tapi tidak semua dari mereka batu,” pak tua protes.

“Siapa bilang?”

Aku pilih warna merah karena  merah tidak pernah lepas dari putih. Maka, jadilah mereka batu semuanya. Dan pada suatu saat nanti akan datang seseorang purba yang kekuatannya lebih besar dariku. Seseorang itu pula yang akan menyelesaikan Tetralogi Merapi. “Kekasihku Merapi tidak pernah mampu menyelesaikannya, pak tua,” suaraku pelan. Aku menarik napas dalam.

“Lalu, apa kabarnya paru-parumu yang satunya?” pertanyaan ketiga dari pak tua.

Aku masih duduk di bangku taman. Aku menepuk-nepuk tubuhnya. “Di sini, pak tua. Untuk menemaniku ketika aku bangkit. Yang mati akan hidup kembali, pak tua.”

“Batu-batu itu hanya meledak dan menempel di udara pekat?”

Aku tersenyum saja kepada pak tua.

“Tetralogi belum sampai pada bumi ketiga, pak tua,” kataku dalam hati.

Tanggal 88. Pukul 77.00. Tahun 40778899

Aku di bangku taman. Montage berpindah-pindah ke aku lalu ke kamu, secara bergantian.

“Siapa namumu?” tanya pria bersorban yang kepalanya seksi.

“Sukesi,” jawabku mencium bunga mawar putih yang baunya berkelana.

“Aku suka wajahmu yang merah.”

“Aku juga suka matamu yang merah. Boleh aku sentuh?” tanyaku dan diam-diam ternyata pepohonan beringin mengelengkan kepalanya.

“Dengan senang hati tapi ada syaratnya,” dia melirik kerikil-kerikil batu di atas kakinya.

“Syarat yang mudah. Satu saja, kan?”

“Satu tapi dibelah merah ganjil,” dia tersenyum.

#nggak Cihuy

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s