Photo by SAri NOvita

Maka Aku Menikahinya

 

sebuah botol kosong

diisi air olehnya

tuk diteguk

kekasihnya

yang

malang

melintang

menantang

pandang

—- o —-

dia

kekasihku

mencintai

peristiwa

bertahuntahun

setia

pada

kepingan

yang telah

pecah

pecah

pecah

—– 0 —–

dia

dia

dia

lagi

dia

dia

dia

di setiap ruang

di setiap waktu

di setiap tubuh

di setiap interaksi

berkali-kali bercumbu

berkali-kali jatuh cinta

berkali-kali rindu

berkali-kali berdetak

lalu mati

lalu patah

lalu diam

lalu sunyi

mencaricari

dia di mana

di mana

di mana

dia kekasihku

apa iya?

apa benar?

apa ini nyata?

 apa ilusi?

(dia yang pernah bercerita dari malam ke malam dan mencopot bulu matanya yang basah)

—– 0 —–

gunting ini kau gunakan tuk merobek aku

dan kau lempar ke atas panggung,

muncullah dialog senyumanku

dalam dua dimensi

tanpa visualisasi

cahaya pun redup

bertepuk tangan

tanpa bunyi

maka mereka menangisi aku…

di balik layar

gunting dan atapatap gedung

bercakapcakap bersama partikel alam

merencanakan “sementara”

serupa

bunga mawar

yang dipetik

dari kebun

depan kamarmu

(jika kau masih mengingatnya)

—– 0 —–

 

kekasihku menyulap gizi di atas andaliman yang diamdiam ditaruhnya untuk menggoda lambungku agar ia dan tubuhnya yang dihiasi kelingai bisa mendekapku tanpa lepas disertai jari jemari yang merayap luas ke setiap inderaku organku sendiku jantungku bahkan monologku supaya kepedasan itu hilang supaya kram di kakiku mencair supaya semuanya membentuk piramida

“di sudut hatimu, ” begitu lanjutnya waktu itu

kekasihku meramu rempahrempah nusantara tuk merayuku menyantap hidangan pembuka yang kronik di puncak menu utama lalu diakhiri dengan taburan gula-gula yang manis dengan mesin pelumat dengan ucapan selamat tinggal

“aku tak mampu lagi memasak untukmu, sayang,” itu kalimat akhirnya sebelum bumi memporakporandakan masingmasing dari kami

—– 0 —–

2010

puisipuisi itu meledak di kepalaku

2011

puisipuisi itu menjahit kenangannya

2012

puisipuisi itu membedah sulamannya

2013

puisipuisi itu diam berdebu di rak buku

2014

katakata darimu dicuri masa yang lihai memintal teknologi

dan aku tak mampu lagi mengurut perasaanperasaanku yang telah mengacak

2015

aku melupa

2016

tubuhmu  penuh kulit labirin

bergoyang di mana mana dan ke mana mana

menculik kelinglungan

mengusik narsisme

mengulik nemesis

…untuk adiksiadiksi yang berbincangbincang kepada seluruhseluruh gurunya

merekamereka berucap,

Tuhan, berikanlah kami kedamaian

tuk dapat menerima apa yang tidak dapat kuubah

keberanian tuk mengubah apa yang dapat kuubah

dan kebijaksanaan untuk mengetahui perbedaannya.

…kepada yang berkalikali menjadi tokoh(tokoh) dalam bukubukunya, aku terjun bebas…

—– 0 —–

 

kekasihku padam setelah  purnama

sebelum aku bercerita

tentang

lelakilelaki               heterochromia iridium

yang sumpah mati           sampai sekarang

aku tak  pernah bisa          berhenti     mencintainya

,

aku tak pernah mampu

mengelak dari semburan cahaya di kedua matanya

yang banyak berceloteh perihal Papua

yang diabadikan di tubuhnya

yang masih diumbar

melalui jaringan

telefon

maka, aku pasang  ruang terkunci

yang selalu bisa dibukanya

yang disengaja

oleh

?

—– 0 —–

lelakilelaki           dan

sepasang kaki yang cemerlang

menerobos keterbatasannya

,

di bawah pepohonan cemara           kami berpelukan          lama sekali

mengabaikan para para          yang sedang berantakan          meminta keinginan

,

namun mendung saat itu

lebih

memicu tangisan kami

berurai senja yang berserakan

yang tak kuasa disusun

dan

malam menjadi lebih panjang

dari kilatan siang

hingga sore

tak lagi

berkunjung

ke kota penuh ring dinamik

hingga hari

bertambah ratusan

ke kota yang kurang pandai mengalihkan

kerinduan

hingga waktu

menemukan  kami kembali

di jalan jalan besar

penuh telapak kaki

yang bernyanyi

“A …M…menunggumu”

(jarak hanya sekelumit ujung jempol kaki)

—– 0 —–

lelakilelaki          hypomania

memintaku mendengarkan perjalanan

yang suka berubah haluan

,

dia pernah bertanya,

“apakah kamu juga jatuh cinta pada kerusakankerusakan di otakku?”

lalu dia meracau histeris

dan

aku hening di balik karang Uluwatu

di malam harinya

dia bersuara lagi

“aku sering meWhatsapp kamu, sesering itu pula aku merindukanmu”

dan

aku tersenyum menatap langit Kerobokan

esok hari

“seminggu jadi sebulan. mengapa tidak sekalian tahunan saja, beib?”

dan

aku membisu menahan amarah Jakarta

harihari selanjutnya

dia datang tanpa jeda

berjingkatjingkat

membawa kabur aku

(ada drama, ada trauma,  ada karma, dan ada kita berdua – what doesn’t kill us makes us stronger, beib)

—– 0 —–

kekasihku melukis mural di wajah yang tak sempurna

berdiri di atas kubus agar bisa dinikmati dari berbagai sudut

“karena ku tahu kamu selalu keranjingan bagian lekuk tubuhku saat melukis”

—– 0 —–

Karena kekasihku,

Maka aku menikahinya 

Menikahi yang mana?

Semuanya

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s