P1020884

Paranoia

Aku sudah lama tidak minum obat. Apakah harus kembali ke psikiater perempuan itu? Bagaimana nanti bila obatnya bertambah banyak? Aku capek minum obat!

Bagaimana jika nanti aku harus diobservasi?

Aku tidak suka diperhatikan dan dipantau perilakuku setiap hari. Aku, kan tidak membahayakan?

Aku tidak mau kembali ke rumah besar itu. Rumah yang justru membuatku semakin gila.

Ssst, jangan berisik. Kau dengar ada yang memanjat pagar malam-malam begini?

Dia masuk. Kenapa pintu tidak dikunci? Sudah. Tapi kenapa dia bisa masuk? Nggak tahu, mungkin kau lupa tadi sempat membukanya. Aku tidak pernah lupa mengunci pintu. Lalu siapa yang membuka, di rumah ini hanya ada dirimu? Aku lupa? Masa, sih?

Ssst diam. Orang itu melihatmu. Lariii..Ke mana? Ke belakang rumah, lalu naik ke atas, bersembunyi di ruang atas. Baiklah, aku lari.

Nafasku berat. Naik turun. Berat sekali. Dan Mencekam. Orang itu bisa saja mencium bauku. Lalu dia ke atas dan membunuhku. Aku tidak mau mati. Tidak sekarang. Lagi pula aku sudah berkali-kali mati. Aku mati lagi?! Jantungku bermelodi penuh buru.

Ah, suara langkahnya semakin kencang di telinga. Sepertinya dia berada dekat. O, tidak , langkah sepatunya terdengar jelas sekali menapaki tangga-tangga. Di mana? Di mana aku harus bersembunyi. Loncat ke rumah tetangga? Itu satu-satunya jalan.

Aku sudah di rumah Om Faris. Di ruang makannya. Sepi. Tidak ada siapa-siapa. Tapi setahuku rumah ini tidak pernah tidak ada orang. Lagi pula ini sudah malam, jelas saja tidak terlihat pemiliknya. O, itu dia Om Faris.

Aku berusaha tersenyum. Maaf om, saya tidur dan nggak tahu kenapa sudah  ada di sini. Ups, itu bohong yang sangat buruk.

“Tidurlah lagi. Tidur di kamar Ranti saja. Ranti tidak pulang malam ini.”

Aku berjalan ke lantai dua diikuti oleh Om Faris. Ketika pintu kamar Ranti telah terbuka, aku melihat orang itu sedang duduk di kursi tersenyum kece memandangku.

“Terima kasih untuk pujiannya” Ah dia  tahu pikirannku. Tapi aneh, aku sekarang malah tidak takut.

“Yakin kamu tidak takut lagi? Aku lelaki kelima dari langit Barat. Aku sama dengan empat sebelumnya yang mencintaimu dan ingin menikahimu” Dia tersenyum tampan sekali.

Tapi, tubuhku semakin lemas. Tulang-tulangku satu per satu copot. Aku mencari Om faris, tapi dia tidak ada.

Aku lunglai, terjatuh di hamparan rumput-rumput hijau. Aku tertidur. Nyenyak sekali.

Nyenyak yang dihantarkan makhluk-makhluk planet pluto.

Pluto?

“Hi, selamat datang Tara di rumah Pluto. Lagi,” aku tahu betul senyuman dan suaranya. Lagi? Menyebalkan. Lelucon atau sindiran yang tidak lucu dan standar.

Aku kembali ke rumah besar ini lagi. Rumah Pluto yang selalu rajin mengingatkanku untuk minum obat.

Setahun kemudian.

Aku operasi plastik di Korea karena kualitasnya lebih bagus daripada di Thailand. Rambut aku potong cepak dan aku membuat otot-otot cantik yang keluar memesona di tubuhku. Kulitku semakin putih tapi wajahku dingin. Mata bulatku menjadi sipit. Hidungku tak lagi mancung. Tak apa. Aku tak lagi memakai rok. Lagi pula apa pentingnya pakai rok?

 Aku ikuti latihan militer dan suatu prestasi besar aku mendapatkan pekerjaan rahasia di Bali. Namaku kini May Lang, dan jangan harap menemukan kepribadian Tara karena itu telah selesai!  Mampus diserap antipsikosis atipikal, antipsikosis konvesional,  dan antidepresan. Paling mampus disapu bersih oleh ingatan. Jadilah aku May Lang.

Sewaktu di Ubud, aku tak sengaja berkenalan dengan seorang pria yang wajahnya biasa-biasa saja. Tapi dia cerdas, spritual, tahu ilmu 12 langkah, suka olahraga, baik, halus, penyuka seni, suka baca apa pun, tenang, dan tidak nakal tepatnya tidak suka mengucapkan “I Love You”. Tunggu, kenapa, ya, dia harus mengatakan I Love You? Hehe, masa tidak bisa menebak? Kami pacaran. Pacaran? Congratulation, May.

Di suatu pagi yang selalu kami suka, kami berlari-lari mengelilingi pedesaan dan sawah. Tiba-tiba dia menyuruhku berhenti. Menatapku tajam dan berlutut melamarku.

“Aku tidak pernah mengucapkannya, tapi aku ingin kamu mendengar, ‘I Love you, May Lang”

I Love You. Hmm, I Love You yang menyenangkan. Yang membuat dag dig dug. I Love you yang berbeda, yang mengejutkan dan membuat batang-batang padi bergoyang menghirupkan angin kehangatan. I Love you yang membuat atmosfir Ubud sangat menenangkan dan damai.

“Kamu mau, kan, nikah denganku?”

“Of course. Aku  jatuh cinta denganmu.”

Kemudian aku ceritakan siapa diriku sebenarnya. Termasuk trauma-traumaku.

“Dear, kamu selalu tampak tidak peduli. Entah itu tidak dengar atau tidak peduli. Kamu suka nanya dari mana aku berasal dan aku selalu jawab dari ‘Langit Barat'”

Langit Barat.

Dua kata itu berpacu tinggi berlarian memutari kepalaku. Aku terdiam menjadi patung. Karena tidak mungkin untuk berlari. Karena kecepatan larinya melebihi aku.

Tak lama, Kekasihku menyekapku dan mengendongku – membawaku masuk ke mobil yang entah dari mana datangnya.

Jantungku tak lagi berdebar seperti masa-masa itu. AKU HANYA TERDIAM.  Datar dan datar. Kosong.

Aku tetap dipanggil May Lang dengan jiwa Tara Suryo. Nama, bentuk wajah dan tubuh, dan kepribadian, sudah tidak penting bagiku.

Begitulah ceritaku sampai di Rumah Bangli, Bali. Ada kisah yang tak bisa kujelaskan detil, tapi bila kau lihat aku sekarang dan membaca riwayatku, kau pasti mengerti mengapa mentalku terganggu. Awalnya hanya Paranoia, selanjutnya ia   menyebar ke mana-mana dan bertambah-tambah.

Ada kisah historis keluarga yang juga tak perlu kuceritakan. Aku pun tidak begitu pandai berkisah. Ceritaku mungikn masih datar, tak berdetak dan belum mampu mencuri kau masuk ke dalamnya. Tapi perempuan-perempuan itu tak henti-henti mengajarkanku  terapi bertutur katakata melalui tinta dan lembaran-lembaran kertas yang setiap harinya dikumpulkan.

Sekian.

One thought on “Paranoia

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s