#FotoKopi

Kepada Aku, Hari Ini Aku Menulis Pagi

1)

Kepada Aku,

Maaf aku tidak menulis apa-apa di pagi ini.

II)

Aku yang berjumlah ratusan, berfluktuasi, seperti harga saham, kadang ditinggalkan, kadang dinanti, dibeli lalu dijual. Dan aku berada di taman-taman bersama penjual-penjual buku yang hanya ada di hari minggu. Tapi aku sedang tak ingin membaca apalagi membeli. Tapi ingin sekali membuat 2 kopi, satu panas dan satunya dingin. Untuk apa? Untuk tubuh yang sering hangat, juga yang sering menggigil. Aku memandang aku. Berputar-putar topik. Dari aku ke aku.

TigaTigaTiga

Ada satu kata yang kusuka :YOU, bukan tiga kata: I Love You yang belum ditemukan barang buktinya.

Papat-

Pukul 4 pagi, membuang nafas panjang. Pukul 4 sore aku bangun tidur. 4 sampai ke 4, aku tidak tahan pada kamuflase yang diciptakan oleh siapa dan untuk siapa. 4 menuju 4, aku dihantam pikiran-pikiran dari seorang yang barangkali akan menjadi pembunuh. membunuh aku

Five

kau tahu mengapa aku mencintai pagi? walaupun aku sudah tidak tidur selama 3 hari, aku tidak pernah mengambil kesempatan terlelap di pagi. Pagi adalah hal baru. Juga waktunya delusi dan halusinasi bergabung. Pengabungan antara imajiner dan yang nyata. nyata tapi aku bukanlah nomor satu realita. lalu di mana aku?

Seis

Aku rindu pada bintang-bintang yang membentuk tubuhnya seperti ekor yang dikelilingi semburan-semburan kristal bercahaya dipentaskan oleh langit malam yang memanipulasi dirinya menjadi biru terang yang terlihat oleh sepasang-sepasang mata yang gemar berkeliaran di jagat yang mencari cakrawala untuk menemukan kebahagiaannya yang sederhana

Sapta

Parfum, spidol, smartphone, kalendar, note, buku, dan laptop.

Ada lima merk parfum di tempat mainku. Fungsinya untuk mencium udara yang beredar di musim hujan belahan langit sana. tapi dia tidak pernah tahu karena sibuk mengatur tragedi dan komedi di masa ratusan ke depan.

Spidol, hanya puluhan. Itu pun pemberian dari brand terkenal yang tiba-tiba saja memberikannya lengkap dengan kertas gambarnya. Awalnya hanya pajangan, selanjutnya dinding-dinding kamar yang telah menjadi ruang pakaian, pasrah dirinya dikebiri.

Smartphone. Huh. Sebenarnya aku benci. Tapi darinya aku bisa memotret sekaligus merancang fantasi yang bercerita sambil menitipkan pesan terselubung. Bukan kepada kamu tapi kepada aku selalu di pagi

Kalendar. Ini paling pertama yang aku benci. Ada 3 kalendar di hadapanku, tapi tidak satu pun yang membantu. Tidak juga menolong ingatan pendek dan panjang, mereka malah kian sekarat. Dan bagaimana tulisan ber-tenggat..hahaha..Tenggat? Aku berapi-api.

Note. Hmm, setiap saat aku mengingatnya. Maka aku tidak tidur-tidur. Kamu adalah bagian darinya.

Buku, ah aku bosan. Tiap 3 lembar, aku tutup. Seperti kata Norman E. Pasaribu, “Tidak ada yang baru di bawah matahari.”

Laptop, setiap saat terbuka. Setiap saat itu pula semut-semut bergumul merayuku membuka layar-layar yang dipengaruhi gempita. Dan juga layar-layar yang tak terdeteksi oleh manusia – manusia yang tidak mau menemukan dan ditemukan.

~8~

Aku suka angka delapan. Dari atas bisa turun ke bawah, lalu ke tengah dan kembali ke atas dengan sesuka hati tanpa titik. Delapan, aku kira masih pukul 8 pagi, nyata aku telah lewat batas waktu. Tapi tidak untuk menerima sebuah katakatakatakatakatakatakatakata dan kata.

Huruf-huruf yang membuat aku berjalan di tubuh delapan, seperti itu rindu yang aku punya, kadang di atas, kadang di bawah, kadang di tengah, tapi tidak pernah keluar darinya.

99

Maaf tidak ada tulisan di pagi ini. Aku menipu

Aku adalah hanya dua secangkir kopi yang sudah habis.

Tapi tenang akan kubuat lagi cangkir cangkir kopi yang berpelangi saat diseruput.

Mungkin bersama kamu yang sekarang berperan menjadi aku.

Aku yang aku kupas bersama pisau-pisau yang sering dilalui oleh semut-semut yang  nakalnya bukan main

Semut-semut yang juga suka minum kopi, Kamu tak percaya? Datanglah. Buktikan sendiri. Jangan tersesat ke rumahku, ya

9, aku tidak pernah bisa menuliskannya. Mungkin rumit, mungkin jika tidak. apalah aku..

Nol

Perbincangan antara aku dan aku yang berada di titik nol penuh. Penuh yang belum tumpah. Karena belum tuntas! Tuntas yang mengeliding, entah berada di di garis khatulistiwa mana. Mana buktinya?

* selepas bongkahan-bongkahan. Suka-suka ‘aku’

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s