SAMSUNG CAMERA PICTURES

Pulang (Aku Catat dan Aku Tulis)

Aku meninggalkan   kota itu dengan  kenangan. Kini aku kembali mengenangnya.
Jalan -jalan besar. Suara anjing-anjing yang menyalak. Kedai-kedai kopi langganan. Perpustakaan umum di mana aku melihat sepasang kekasih,  kakek dan nenek berciuman.
Bus panjang yang selalu tepat waktu. Tombol lampu penyeberang jalan  tempat jahilku.
Pemuda hitam yang selalu menyapa,”Good morning big eyes.”
Jembatan merah panjang yang terkenal . Pier 39, pelabuhan kapal  tempat aku  memandang laut biru sambil menyatap hidangan laut.

                                                                                ~*~
Kegiatan setiap pagi  berjalan melalui jalan-jalan besar, menunggu bus dengan ditemani pemuda berkulit hitam. Dia selalu mengucapkan,”Call me Nigel. Don’t call me negro,” dengan pengucapan yang sama dengan nama Nigelnya tanpa huruf ‘R’. Nigel selalu bercerita dia berasal dari keluarga yang biasa-biasa saja, tapi dia ingin sekali menjadi seorang dokter nantinya. Karena dia tidak kaya, dia harus mendapatkan beasiswa di universitas yang selalu diidamkannya. Lalu Bus datang dan kami berdua masuk, kemudian dia melanjutkan pembicaraan lagi mengapa dia tergila-gila dengan Muhammmad Ali dan tertarik sekali mempelajari islam.  Itu topik yang dibicarakannya saat terakhir aku bertemu dengannya.

Sebelumnya Nigel pernah  bercerita tentang teman-teman di lingkungan rumahnya, meja makan yang selalu menjadi tempat pertemuan keluarganya berkumpul, tentang wanita-wanita berwajah Asia yang selalu ia sukai, mengapa bapaknya selalu memukulnya sewaktu ia kecil dan cerita-cerita lainnya yang setiap hari  berbeda topik. Dan aku hanya tersenyum, terkadang terkejut, terkadang lagi merasa iba, ya terkadang mengikuti alur apa yang diceritakan. Semuanya yang keluar dari mulutnya, aku catat di kepalaku dan aku tidak banyak berbicara macam-macam dengan dirinya.

Setelah aku melambaikan tangan ke arah Nigel, aku turun menyeberang jalan menuju Restaurant cepat saji yang selalu buka 24 jam. Ini yang paling kusuka memencet tombol tanda ingin menyeberang dan hari itu aku berkali-kali memencetnya. Hurray…kemudian aku segera bergegas pergi sebelum polisi mengetahui kejahilanku.

Seperti biasa Sam, kakek yang sudah berusia 75 tahun itu menghampiri mejaku dan memeluk aku. Aku memesan secangkir kopi cream dan wafel yang rasanya enak sekali . Dia memegang cangkir kopi pahitnya dan menyeruputnya. Lalu kami berdua mengempulkan asap rokok dan tertawa. Entah apa yang ditertawakan, intinya kami bahagia bisa merokok bebas di luar ruangan restaurant ditambah fasilitas meja bundar yang orang lain tidak pernah menepatinya kecuali kami di saat pagi.

Aku senang mendengarkan ceritanya tentang Airport yang dibangunnya di kota itu, Sam tidak pernah bosan menceritakannya padaku, begitu juga aku tidak pernah bosan mendengar kisah-kisahnya . Apalagi di saat mencurahkan hidup seorang diri di hari tuanya dan perasan-perasaan Sam tentang kematian. Tentang anak-anaknya yang sudah sukses semua dan hati kecil Sam yang suka menangis melihat mereka. Menangis bahagia. Inipun Sam lebih banya berbicara daripada aku dan aku tetap mencatatnya.

Aku sering melewati jembatan cantik ini, menatap laut dari mobilku di hari sabtu. Aku selalu bersama Mei sahabatku bila bercinta dengan jembatan merah nun cantik ini. Kami berdua jarang mengobrol banyak di lokasi ini. Kami hanya berlari-lari kecil mengambil gambar. Dapat sudut pemandangan yang menawan..Langsung Klik…Klik..Klik..Ini sudah membuat kami senang bersama hembusan angin segar yang menampar tubuh kami.

Inilah serunya jika ke tempat ini di hari sabtu, banyak turis-turis itu pasti, tapi banyak juga pasangan-pasangan yang langsung berubah romantik karena efek magnetik jembatan ini. Lucunya pasangan-pasangan itu suka mengajak berbicara padaku. Berbicara tentang kapan mereka berjumpa, kejelekan-kejelekan pasangan mereka, tentang putus-sambung hubungan mereka, tentang melamar kekasih mereka di jembatan ini dan beraneka macam tentang cinta dibicarakan kepadaku. Dan seperti biasa aku tidak banyak berbicara dan mendengarkan mereka bercerita saja. Tapi jika di jembatan merah ini, pikiranku langsung melayang ke kekasihku yang berbeda kota dan itu membuatku kesal. Ha..ha..Ha..

Aku tidak tahu apa alasan mereka-mereka itu senang terbuka berbicara denganku. Di setiap tempat, pasti aku selalu diajak  bicara. Tidak di kantin kampus, di bus, di kereta, di café, diantrian teater, di mall, di swalayan, di gereja, di mesjid, di parkiran, di apartemen, di tempat bekerja, semuanya berbicara padaku. Berbicara tentang segala hal. Hal yang tidak pernah aku dengar sebelumnya dan juga hal yang sering aku dengar. Tapi mimik dan ekspresi  saat menceritakan kisah kehidupan mereka membuatku bersemangat mendengarkannya. Mendengarkan, juga sok memahami pengalaman-pengalaman mereka. Setelah mereka berbicara, aku mencatatnya.

Seperti hari ini aku mencatat sebuah pesan tertulis,”Pulanglah”. Bagaimana sayang? Kau menyuruh aku untuk pulang. Untuk apa? Untuk menulis lagi katanya. Menulis? Hem, apakah sudah saatnya aku kembali? Ya, mereka rindu kepadamu. Mereka? Ya, apa kau lupa orang-orang yang kau kenal itu, kisah mereka kau jadikan tulisan, kau ketik, kau print, kau copy,  dan kau kirimkan kepada mereka. Tidak ingat? Dan sampai saat ini, 10-10-10, mereka banyak menanyakan kabar darimu. Kata mereka,”Tidak cukupkah waktu sepuluh tahun mengubur tumpukan tanah-tanah yang sebenarnya subur itu? Dan untuk apalagi mencari di sana jika sebenarnya lahan yang lama itu telah menganggap jiwa pemiliknya tertanam dengan rapi.

Apa kau masih mencintaku? Ha..Ha..Ha..Sepuluh tahun sayang. Sepuluh tahun tanpa dirimu. Aku sudah berkali-kali berganti kekasih, begitu juga dengan kau. Tidak ada yang seperti aku, kan pacar-pacarmu itu? Dan tidak ada juga pacar-pacarku yang seperti kau. Dan aku sangat yakin sekali, kau pasti sudah tak terhitung lagi beraksara di file pribadimu tentang kisah kita, bukan?..Hayoo, ngaku saja!

Kali ini aku ingin kau pulang. Pulang untuk diriku, pulang untuk tanahmu, dan pulang untuk berbicara kepada mereka lalu kau tulis. Menulis hal-hal yang membosankan. Menulis hal-hal yang mengharukan. Menulis hal-hal yang menegangkan. Menulis hal-hal yang kau benci. Menulis hal-hal yang kau putarbalikan. Menulis hal-hal yang orang belum pernah baca. Menulis hal-hal yang menyenangkan. Menulis tentang daun, si kembar tetanggamu yang tuna runggu, tentang Janet Jackson yang kau temui di butik, tentang boneka, tentang pajangan tentara Jepang yang sering kau ajak bicara, tentang sisilahmu, pokoknya tentang semua hal . Barangkali Indonesia adalah ceritamu selanjutnya.

Hem. Oke..Oke..Tapi jika aku pulang, tidak ada perempuan di sampingmu, kan? Argh, masih tidak berubah. Selalu bertanya soal itu-itu saja. Membosankan tapi aku rindu. Jangan keras hati dan keras kepala, sayang. Jangan takut. Dan pulanglah karena aku masih di sini. Menunggumu. Apa kau tidak rindu dengan Nigel yang sudah menjadi dokter sekarang? Apa kau tidak mau menjenguk Sam yang sering mengigau namamu di rumah sakit saat ini? Apa kau tidak rindu dengan sahabatmu Mei yang sudah beranak tiga? Apa kau tidak rindu dengan gaya ciumanku yang selalu kau bilang “Aku mau lagi dunk, masih kurang puas nih”. Apa kau tidak rindu dengan pemandangan di dunia ini yang banyak sekali diambil butir-butir nilainya. Tidak perlu kata-kata yang berhias-hias. Cukup sederhana. Tapi mampu membuat orang tuk terus membacanya

Jika kau sudah tidak merasa lagi itu bukan tempatmu. Pulanglah atau hijrahlah. Tapi aku ingin kau pulang, kita hijrah bersama ke kota yang selalu kita impikan. Kota yang berdinamik karena detaknya tak pernah berhenti.
Baiklah, aku pulang. Tunggu aku, aku akan pulang. Kapan? Tunggu saja. Surprise …

10-10-10. ..Aku catat…Aku tulis…

6 thoughts on “Pulang (Aku Catat dan Aku Tulis)

          1. tenang, kau tak perlu pindah, tapi kan kukenalkan pada pujangga dan sastrawan bali, hanya sebagai bumbu bumbu saja, tapi bisa membuatmu makan dengan sedapnya..

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s