#Merapi Pic by commons.wikimedia,org

Sri dan Merapi

 

Deru angin datang rambat-merambat ringkihkan tubuh Sri. Suara liuk-meliuk menghampiri lubang pendengaran Sri, membuat rambut-rambut di tangan Sri bangun desir. Bagai kecupan dingin, udara  malam memaksa masuk ke celah-celah kulit tubuh Sri, dan menggapai jiwa Sri dalam puncak beku.

Sri berdiri menatap arca Durga.   Teteskan air mata dan mengadu tentang seorang pria berbaju Pangeran kerajaan. Pria yang baru saja menjelajahi keindahan raga Sri , seperti penuh keliaran angin malam menerpa Sri.

Di atas tebaran bulu-bulu angsa , pria itu memperkosa Sri. Tidak ada manusia satu pun mendengar lolongan Sri, kecuali pria itu. Teriakan disisipi raungan nafsu pria itu dan rintih perih menjebol dinding dinding rahim. Setelah semua terjadi…

Pria itu telah pergi melalui kedua kakinya tanpa dosa. Tidak melewati tangga-tangga candi, tapi pergi terbang melayang bersama sang kabut malam.

Durga tidak mampu berbuat apa-apa. Durga pun baru terbangun dari tidurnya karena mendengar isak tangis Sri. Durga heran, mengapa dirinya dan arca-arca lainnya tertidur seperti terhipnotis. Semula Durga mengira suaminya telah menodai Sri, tapi Batara Siwa biasanya bersemedi bersama Batara Brahma dan Batara Wisnu di saat bulan meninggi purnamanya. Namun, ketika Durga membuka mata, mereka bertiga masih apik terpulas dalam kelambunya. Dan mana mungkin Batara melakukannya.

Sri mulai berdiri menutupi kebaya compang-camping dengan kedua tangannya. Langkah lunglai  Sri mundur sembari menunduk pamit pada Durga. Wajah Sri penuh pelekat air mata dan melekat.

“Tunggu,” Durga menghentikan Sri.

“Ini  Jubah merah tebal pemberian Wishnu  saat hari baruku 100 tahun lalu. Wishnu  menyusun sendiri bulu demi bulu angsa ini terpaut rapi menjadi sulaman  jubah panjang. Dia membuat ini agar aku selalu tampak cantik dan tidak mengigil di saat musin hujan membasahi raga batuku,” ucap Durga seraya menaruh jubah di pundak Sri. “Sekarang pulanglah dan lakukan hal semestinya,” lanjut Durga.

“Terima kasih,” Sri lemas membalas dari dalam hati. Bibirnya tidak bisa terbuka. Tertahan oleh bayangan yang baru saja menerjang dirinya.

Sri berlari di cuaca dingin menusuk menuruni kaki-kaki Prambanan. Dia semakin jauh dari Durga. Lalu, Semakin sirna dari pandangan Prambanan. Sri tertatih di atas kerikil jalanan menuju gubuk tempat perisitrahatannya. Nafas Sri mulai setengah megap, suaranya sengau dan hidungnya berlendir. Dia sudah sampai di halaman rumah kecil. Berjingkat-jingkat mendorong pintu masuk. Sri segera hempaskan tubuhnya di ranjang tanpa  membersihkan badan terlebih dulu. Demam sudah tertular oleh  virus cercaan udara di atmosfir. Sri tidak bisa mencium aroma apapun, dia hanya sembunyi di balik jubah pemberian Durga.

Sri mencoba memejamkan mata. Tidak beberapa lama Sri pun berjalan ke alam tanpa sadar. Matanya kini tertutup rapat. Dari ruang dapur, sebuah cangkir dan piring melayang keluarkan tarian asap. Kepulan para penari asap masuk tanpa diundang oleh Sri, sang pemilik kamar. Mereka duduk di meja reyot samping Sri terpulas. Aroma kental jahe semakin memenuhi ruangan ini. Dengan mata terkatup, hidung Sri terbangun akan rayuan membahana. Hidung Sri mengendus-endus asal wangi tersebut. Kepala Sri bergerak ke kanan dan ke kiri meresapi gumpalan yang menyegarkan rongga-rongga dadanya. Pelan, Sri menghirup teh jahe itu.

Sri terlelap kembali.

*****

Sinar Matahari lurus memanjang ke arah bumi. Sudah waktunya ayam berkokok bangunkan para manusia di bumi, termasuk ranah Jawa bagian tengah. Merapi sedang merana kesakitan. Perut Merapi bak di aduk-aduk berbagai bakteri. Gundukan racun telah bermukim lama di sarang pencernaanya. Merapi tidak mampu menahan rasa sakitnya lagi. Rasanya ia ingin muntahkan segala di dalam jaringan tubuhnya. Bibir Merapi sudah pucat. Ia mulai terbatuk-batuk. Beberapa pengawal Merapi tersentak mendengar rintihan nyeri Merapi. Mereka menghampiri singgasana Merapi. Bermaksud memberi penawar sakit pada Merapi, tetapi ia menolaknya.

Kemudian di pagi-pagi, dari kerongkongannya keluar bulir-bulir besar berisi kuman. Merapi menyemburkan ke atas langit, tapi isi-isi perutnya terjatuh di atas pijakan. Kaki-kaki besar Merapi bergoyang getarkan ranah. Jasmani Merapi mengelempar di lantai. Kali ini Merapi yang menari-nari geliat. Matanya menampakan otot-otot merah. Tubuhnya bergerak liuk-liuk. Tangan-tangannya gesit ikuti alunan irama gamelan. Panggung berdetak menopang kerasukan Merapi. Merapi tidak terpikir untuk berhenti, malah ia semakin hanyut dalam simfoni yang tercipta dari irama irama buatan manusia.

*****

Ranjang Sri bergetar kejut. Sri terjaga dari tidurnya. Bias-bias sinar mentari masuk dari sendi-sendi jendela. Cahayanya tidak berkilau. Tersandingi letusan Merapi. Sri tersentak memegangi jubah barunya.

“Suara apa ini?”

Sri kaget bukan main dan dia turun dari ranjang kebesarannya. Menapaki tanah yang bergetar.

“Apakah Sri bermimpi?” tanya Sri dalam hati.

“Tidak. Ini bukan mimpi. Tapi mimpi yang dibangunkan tiba-tiba,” pelan suara Sri.

Sri merasakan gelinjang-gelinjang denyut nadi Merapi. Tajam sekali indera perasa Sri mengecap muntahan darinya. Rambut-rambut di kulit Sri semakin berdiri. Dia tetap di kamarnya. Tidak berpindah atau bergerak. Hanya meresapi hawa bising luapan Merapi. Mungkin bangunan tua rumah ini segera rontok, Sri berpikir.

Tidak lama kemudian, Sri mendengar suara-suara langkah sepatu mengetuk gerbang kerajaan udara. Sri mengintip dari balik jendela. Bala pengawal Merapi bergulung-gulung turun membawa pundi-pundi darah api. Sri mundur tiga langkah. Dia baru melihat pemandangan penuh kengerian ini. Sri merapatkan lubang-lubang jendela dengan kain kebaya yang Sri belah secara paksa. Keresahannya semakin memuncak. Dia berlari keluar kamar dan menutup semua pintu tanpa celah.

Di ruang tamu berukuran 3 x 4, Sri bersujud. Memanggil-manggil nama Sang Kuasa. Ruangan menjadi gelap seketika. Sri mencoba bernyanyi lagu keagungan, untuk mengusir ketakutannya. Atmosfir panas mendekati kulit Sri dan dia lepaskan jubah merahnya. Dia tutupi sekujur kepalanya dengan jubah itu. Agar Sri tak dapat melihat dan mendengar terjangan dari Merapi. Lutut Sri pun masih bersentuhan dengan ubin-ubin kuno di rumahnya.

****

Dari pagi menjelang siang. Siang berburu sore. Sore terkibas senja. Setengah hari terlewati sudah. Ketika Merapi mencoba untuk menenangkan dirinya, Sri keluar dari rumah menyandangi kandang ternaknya. Warna tanah hilang diduduki debu-debu. Sri terperanjat memandanginya dan segera menghamburkan diri ke makhluk-makhluk kesayangannya. Sri memeluk kedua kambingnya dan membelai kelima ayamnya.

“Syukurlah kalian tidak mati oleh serangan itu,” ujar Sri pada ternak peliharaannya. Sri segera membimbing gerombolan ternaknya masuk ke rumahnya.

‘Aku memberi mereka makan. Mereka memberi aku makan. Suatu lingkaran yang tak dapat dipatahkan’, ini prinsip Sri.

“Suatu hari nanti mereka akan anak-beranak, begitu juga aku yang bakal anak-beranak. Anak-anakku menyuapi mereka. Mereka membalas menyuapi anak-anakku. Itu-itu saja, tiada berubah. Karena memang begitulah takdirku tergariskan,” benak Sri berbicara memandang mereka.

Penuh kasih Sri membersihkan debu melekat di tubuh mereka. Satu persatu dihapus serpihan-serpihan asal perut Merapi itu. Sehingga mereka tidak menjadi boneka hewan kembali dengan bulu penuh abu. Tak lama, Sri mulai kelaparan, sama seperti halnya makhluk kesayangannya. Sri merujuk mereka ke ruang dapur. Mencari makanan, tetapi hanya butir-butir nasi yang bersisa. Rumput-rumput lupa Sri ambil dari kandang kambing.

Tatapan Sri mengarah ke mereka. Rupa-rupa menampakan eksepresi berserah diri pada tuannya. Nasib mereka berada di tangan Sri dan mereka pun tak segan menyerahkannya. Ada garis sendu di wajah mereka, juga di wajah Sri. Sri hampir saja menjatuhkan air matanya, hal ini tidak boleh terlihat oleh mereka. “Aku harus kembali ke kandang,” berkali-kali kalimat ini terucap di hati Sri. Tanpa keraguan, Sri meluruskan badan tegak, lalu menguping langkah-langkah sepatu  pengawal awan panas dari dinding kayu dapurnya.

Sekali lagi Sri mendekatkan telinganya merapat di dinding. Sri tidak mendengar suara sepatu mereka. Sri masih belum yakin, dia pun pertajam indera penciumannya. Hidungnya telah menjadi tinggi dan Sri juga tidak mencium pekat badan para pengawal itu. Sri membuka pintu perlahan. Dia menengok ke kanan di mana Merapi berdiri jauh dibelakang. Sri hanya melihat abu-abu bertebaran. Sepi. Tidak ada siapa-siapa. Bahkan tetangga Sri pun entah berada di mana. Sri jalan berjinjit-jinjit, berjaga jika mereka datang tiba-tiba. Setelah 5  meter dari kandang, Sri berjalan gegas. Sri mengambil tumpukan rumput dan sekantong gabah. Baru selangkah Sri keluar dari kandang, tiba-tiba Merapi berteriak gemakan lahar. Sri segera berlari ke dalam rumah, tanpa memedulikan hamparan abu-abu menempel di mukanya.

Nafas Sri semakin naik-turun tak teralur. Mimiknya kian ketakutan. Giginya terkatup-katup. Rumput dan gabah dalam genggamannya terjatuh. Dengan tubuh gemetar Sri memeluk salah satu kambingnya. Mereka berkumpul di satu sudut ruangan. Aroma kental belerang masuk layang-melayang.

Sekujur Sri penuh debu. Entah abu-abu. Entah putih. Wajah Sri bak wayang Hanoman putih. Sunyi bergulir cekam. Hanyut dalam gelap. Sri tuturkan puja-puji Sang Gusti. Bumi kembali bergetar. Kalbu terbang tanpa arah. Seketika, pintu bersuara ketukan.

 ..Dag..Dig..Dug..Jantung degup kencang. Denyut lari kejar-mengejar.

Tidak tahu mengapa, tangan terjulur sentuh gagang pintu. Kayu pintu sambut tamu istimewa.

“Ijinkanlah aku masuk,” mohon Merapi dari luar gubuk.

Pintu pun terbuka. Sri  menjauh ketakutan. Dia Tundukan kepala. Tak berani menatap. Mata  merah Merapi.

“Jangan takut, aku hanya ingin membersihkan debu-debu di tubuhmu,” ucap Merapi.

Kedua kambing memeking. Kelima ayam mengumam. Mereka kocar kacir. Lari ke dapur. Sri duduk jongkok di sudut pejamkan mata. Merapi menghampirinya bersama Jubah kebesarannya. Jubah yang berjuntai-juntai panjang menggelar di tanah. Merapi melangkah tegap. Tinggi besar-berdiri bidang. Dan Merapi membungkuk berhadapan dengan wajah Sri. Merapi lekat menatap Sri. Merapi meraba bentuk tiap indera. Lembut  Merapi meniup debu-debu itu. Dengan tangan kekar Merapi, ia menghapus butir demi butir debu yang melekat di wajah Sri. Hingga muka Sri licin tak berbekas debu. Setelah itu Merapi membelai rambut Sri. Dan ia luruskan rambut semerawut itu dengan jemarinya. Satu-satu Merapi untai helaian rambut panjang Sri tergerai kembali. Kelopak mata Sri tetap tak membuka.

“Bukalah matamu. Aku ingin lihat cahaya itu di kedalaman matamu,” tutur suara Merapi tenang.

Derajat tiap derajat kelopak mata itu terbuka. Bibir Merapi mengecup bias cahaya Sri yang bertebaran di udara. Merapi tersenyum mesra. Rasa takut Sri pun sirna. Nuansa cekam pun pudar. Hanya gelombang hening kedamaian berpautan.

“Bangunlah. Aku bersihkan ragamu,” ajak Merapi. Sri berdiri perlahan. Merapi tuntun Sri menuju permandian. Merapi guyur jasmani Sri dengan air-air suci. Merapi ciptakan busa-busa wangi kesturi. Dan Tubuh langsing Sri berkemilau sinar terang. Merapi terpukau melihat kecantikan yang keluar dari tubuh Sri. Badan Sri basah dan Merapi keringkan dengan kain wol tebal. Merapi tutupi fisik Sri kenakan kain batik sutra. Batik yang memancarkan warna-warni pelangi. Jadilah Sri, perempuan tak lagi berdebu vulkanik, melainkan seorang putri yang lahir di bumi.

“Tidak heran Pangeran Bandung Bondowoso memperkosamu. Karena rupamu persis Loro Jonggrang. Dial ah si Durga-putri kerajaan yang Pangeran cintai ketika mereka menjadi manusia.,” kata Merapi seraya memuja Sri.

“Roh Pangeran masih penasaran dan dia masih mencari-cari sosok Jonggrang tuk dijadikan satu arca. Karena bila Pangeran melengkapi menjadi 1000 candi, maka dia akan memiliki Loro Jonggrang seutuhnya. Untungnya sinar kesetiaanmu begitu kokoh, sehingga dia tidak bisa mewujudkan keinginannya itu. Namun, dia telah menanamkan benih-benih di rahimmu, yang sebentar lagi akan keluar ke dunia tiga hari lagi,” Merapi bercerita.

Sri tersentak mendengar cerita Merapi. Sri pandangi perutnya yang telah membesar tanpa dia sadari. Risau mulai menapaki Sri.

“Maafkan aku tidak kuasa membantumu di malam itu. Kekuatan Pangeran Bandung Bondowoso begitu besar, hingga kami semua terlelap. Aku pun diganyang penyakit-penyakit oleh dirinya. Sosok Pangeran tidak berbeda dengan sosok kaum-kaummu di negeri ini. Itulah asal-muasal magmaku hadir. Kau pun tidak perlu risau, karena anakmu akan lahir menyebarkan kekuatan kepada manusia-manusia yang terkena imbas dariku. Kekuatan anakmu mengalahkan kekuatan ayahnya. Bibit di tubuhmu menjadikan anak itu setia pada seluruh alam, makhluk hidup dan Gusti Allah tentunya.”

“Sekarang turunlah dariku. Aku mohon,” Merapi berlutut di kaki Sri.

Merapi sedikit terisak dan berkata,”Biarkan aku di sini meletus-letus bebas.. jangan tunggu kapan aku akan mengakhirinya, karena aku pun tidak tahu. Aku semburkan materialku beraroma cinta. Sebab cinta akan bertebaran dan manusia terulur membuka hati untuk cinta yang penuh. Aku kenakan Liontin bermutiara cinta di lehermu. Untuk menemani dirimu dan anakmu. Agar kau dan manusia-manusia itu selalu ingat nestapa kehilangan cinta akibat angkara murka. Sekali lagi lepaskan aku muntahkan semua zat-zat dari perutku. Dan ajaklah mereka berjanji tuk bersabar, karena semua akan menjadi baik.”

“Tapi…” Sri sambil melirik ternak-ternaknya.

“Ssstt.Jangan mengelak. Hewan-hewanmu akan ku bawa ke singgasanaku,” seru Merapi.

Suara keteduhan Merapi membuat Sri turuti perintah darinya.

*****

Di antara angin  terjang mengencang. Sri turun dari paha Merapi dikawal awan-awan panas, para pengawal Merapi. Sri tidak mati, apalagi terbakar. Karena Sri mengandung anak istimewa dan Liontin Cinta milik Merapi. Seorang anak lanang yang akan menumbuhkan kekuatan dan Liontin yang akan bersinar menyinari cinta kepada para penjuru negeri.

“Jangan pernah terpikir tuk melepaskan senjata perangmu, yaitu Liontin  dan anakmu,” bisik Merapi dari kejauhan di kedua pendengaran Sri.

*ditulis ketika kristal-kristal masuk ke dalam rongga 2010

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s