Rangkaian Waktu

Aku

Berdiri dari zaman yang jauh sekali. Dibangunkan oleh debu-debu berkapas yang menyentuh pipi dan menganggu pandanganku. Yang kemudian Mengeryitkan mataku untuk melihat apa yang ada di depan. Tapi hanya padangan kabur. Aku merogoh saku celana jeans yang terasa kumal untuk mengambil sebuah sapu tangan. Kuusap pada kedua mataku. Dan aku melihat jalan yang panjang sekali, tanpa ada ujung.

Aku

“Tidak. Tidak mungkin aku pergi tanpa Endah!”

Pernyataan kerasku dirampas  entah ke mana. Di bawa ego dan kekuasaan. Lalu, aku pergi. yang selanjutnya aku tidak tahu ke mana dan di mana.

Aku

Mengapa agama, tingkat sosial, dan tahta menjadi amukan di kepala mereka. Tak tahukah kalian betapa aku mencintai semua yang pernah ada. Semua yang sepertinya tidak boleh dicintai. Lalu, hanya untuk dikenang? Tiba-tiba otaku erupsi.

Aku

Makanan-makanan itu aku masak dengan keringat cinta yang kubangun sejak aku di titik nol. Jadilah rumah besar itu. Rumah yang aku khawatirkan akan berpindahtangan pada satu bank. lalu aku harus tinggal di mana, karma?

Aku

Selamat malam menjelang pagi. Selamat menikmati perbincangan-perbincangan dengan jaringan. Selamat mencari. Selamat menemukan sanaran dan lubang yang pas. Selamat kembali gegar otak. Selamat mengisi ulang peluru-peluru untuk masa depan. . Masa yang selama-lamanya. Di mana jaringan sudah tidak lagi jadi masalah. Namun, SPOK-SPOK yang kau punya kemungkinan basah dan luntur oleh masa yang telah kau baca takdirnya. Pada kenyataannya, namamu masih tetap ada. Coretan-coretanmu malah terpampang luas dan megah di suatu jalan bernama…

Aku

AKhir-akhir ini aku sangat ingin menari lagi. Menari bersama dengan penari-penari yang sesungguhnya. Agar aku dapat mengerakkan kaki kananku yang sempat tak berdetak karena kecelakaan yang berentet dan kamu yang menetap di kepalaku.

Tapi kali ini aku menari bukan karena itu semua, melainkan karena seorang yang mampu membinasakan salah satu karya Sapardi. Seseorang yang tidak mengantikan kamu, tapi dia berhasil merecoki kesadaran dan kenanganku.

Aku menari, maka aku bebas. Terima Kasih Juli yang datang dengan cepat.

Aku

Aku terjatuh di panggung. Entah apa yang menyabut sendi-sendi tulangku. Aku lemas. Aku tak berdaya. Tak lama, aku sunyi. melihat kamu terbang di udara lalu menghilang. Maka, aku menikahi waktu waktu yang berjalan dengan kelinglungan.

Siapa namamu, penari? tanya mereka

Aku

Hahaha.

Terima Kasih, Tuhan. Terima Kasih.

Aku kembali di Jakarta. Jakarta. Hahaha.

Aku meringgis. Aku menangis. Tubuhku bergetar hebat. Aku sudah tak mengenalmu, Jakarta. Hahaha. Aku mencari cermin. Ah, wajahku masih seperti yang dulu. Tapi Jakarta sekarang sungguh berbeda.

Kucari orang -orang yang kukenal dan pergi menemui mereka. Tapi mereka bilang aku hantu.

“Tidak mungkin. Kau telah mati!”

Hantu mana yang datang menemui kawan lama hanya untuk memastikan, apakah ini benar Jakarta?

Aku

Akhirnya kami berada dalam satu kamar. Di mana ada dua meja bermain dan layar-layar berkepanjangan. Dia bergelora. Aku bergelora. Dalam ruang masing-masing. Ruang-ruang yang tidak boleh dijamah oleh siapa pun, kecuali dia dengan ruangnya dan aku dengan ruangku. Pada kenyataannya, aku kelimpungan menahan kegairahan yang aku tulis sendiri. Seluruhnya bangun dan memuncak.

Aku mengelepar di atas ranjang. Rangkaian-rangkaian itu memicu terlalu binatang. Merongrong aku yang tidak tahan. Tapi dia diam saja seolah-olah aku tidak ada. Dia jauh tenggelam dalam rangkaiannya.

Maka, aku berteriak merayu merdu meronta.

Pletakkk

Dilemparnya pensil itu jatuh tepat di kepalaku. Sialan! Aku sebentar lagi selesai. Aku sudah akan merangkai kembali. dan sekejap  semuanya hilang. Aku sengaja tubuhku tak terkendali. Agar ia polllll

Kembalikan, rangkaianku! teriak otakku kepada dia yang memberi nomor pada sesuatu dalam seluruh rangkaiannya.

Kamu tidak akan pernah mengerti isi kepalaku. Dia bisa saja tahu. Tapi sekarang sudah tidak ada gunanya lagi.

Para fotografer selalu bilang, “jangan hilang kesempatan menangkap momen.”

Aku

Aku Membohongimu. Mengalihkan-mengalihkan bungkusan usang yang kukira membuat kau terpesona. Agar kamu tetap aman. Terpelihara  di pundak malam. Lalu kamu berteriak,

“Ini sudah biasa. Aku bosan. Dan sekarang aku butuh yang luar biasa!”

Aku

Kesombonganku meruntuhkan aku. Traumaku. Karmaku. Dramaku. Aku tidak bisa mengulang yang pernah ada meski sehelai saja. Ah, aku tidak berarti apa-apa. Semoga untuk kelima anakku, mereka masih mau mengenalkanku kepada orang lain bahwa aku adalah ibunya.

Aku

Daun-daun kering itu membawa aku menciummu sampai di pinggir pantai. Pantai dengan pasir merah muda. Dengan gulungan ombak yang malah meningkatkan adrenalinku. Aku menciummu berkali-kali. Berulang-ulang dan tidak pernah kehabisan slot.

Kepada perempuan yang gemar meminta ciuman, aku tak perlu diminta.

Aku

24 Jam menjadi kumpulan ketak-ketik-ketuk yang tersimpan di folder yang setia. Tapi aku tidak setia. Tidak juga kamu. Tidak juga kalian. Karena 24 jam terus berganti, terus berubah, terus ada baru, terus ada peristiwa, terus ada manusia-manusia memesona, terus ada badai, terus ada keajaiban, terus ada pergolakan, terus ada pergantian, dan terus terus terus..

Aku

Tubuhku berat sekali. Tapi aku harus bangun. Untuk melihat apa yang ada di sekitarku dan yang ada di depanku. Dan aku melihat petunjuk yang akan membawaku ke kamu. Suatu jalan di mana aku harus meloncat ke tahun 2016. 30 Tahun, kamu pasti masih mengenaliku karena wajah dan segala fisik juga pakaianku tidak berubah. Masih sama seperti sewaktu kita berpisah. Tapi jaket pemberianmu yang kukenakan sudah lebih berat karena ia telah melewati berbagai udara di lorong waktu.

*Tulisan Iseng. Bukan tulisan yang benar.Lagi pula, apa peduli kalian…

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s