Flymetothemoon

Fly Me To The Moon

Namaku Nina. Manusia tanpa usia. Hobiku melompat seraya menari. Sehari tanpa keduanya adalah ketidakmungkinan. Suatu hari aku tidak sengaja berjalan-jalan di sebidang tanah yang kebetulan milik manusia. Seorang manusia yang seolah-olah pernah ada di kehidupan laluku. Bisa jadi dia tidak pernah ada di sebelumnya namun banyak kutemukan benang-benang yang saling menyambung. Dan saat itu juga aku menghentikan aktivitas melompat apalagi menari. 

Sekejap, spektrum-spektrum itu mengelilingku. Memperlihatkan  ribuan lembar berisi jutaan kosakata yang mengeryitkan dahiku. Sekaligus merebahkan tubuhku di atas kasur air. Yang tak lama membuat hidupku semakin berwarna dan berwarna. Aku seperti melompat dan menari di bulan, bersamanya. Padahal semesta tahu aku sedang apa.

Kedua

Namaku Nina. Manusia yang sulit berkomunikasi kecuali dengan katakata yang kujabarkan dalam sebuah tulisan. Aku di kelilingi oleh para sastrawan dan penulis segala rupa. Komunikasi mereka secara lisan cukup baik dan ini tidak menular ke aku. Sebetulnya jugaketika aku membaca tulisan mereka aku kerap cepat cepat membacanya. Itulah salah satu alasanya, aku tidak begitu mengenal seseorang penulis yang memiliki perasaan sangat mendalam.

Penulis yang tulisannya pernah kusimpulkan pada sebuah observasi. Observasi yang kapan saja harus siap kuhadapi. Cengkok-cengkok perilaku yang awalnya menantang, dan diakhiri sirnanya tantangan itu sendiri.

Saat aku kembali membaca tulisannya, aku memejamkan mata. O, Tuhan ini seperti kitab rentetan masa lalu, masa kini, dan masa sekarang. Bahkan, aku melihat, di masa anak-anak, aku dan dirinya pernah melompat dan menari di atas bulan.

Ketiga

Namaku Nina. Profesiku adalah make up artist. Yang pernah mengkritik habis-habisan penampilan seorang penyanyi ternama, dari ujung rambut sampai ujung kakinya. TIdak usah diprediksi, setelah itu hubungan aku dan dia menjadi buruk. Buruk seburuk buruknya kiamat di kepala kalian.

Saat itu aku hanya ingin terbang ke bulan. Karena aku selalu menyukainya. Bulan itu cantik dan manusia bisa memandangnya dalam waktu yang cukup lama. Tidak seperti senja, meski lebih cantik, ia hanya datang sebentar, dan mengelabui sepasang kekasih ataupun manusia yang sedang kesepian.

Entah sudah hari ke berapa ratus, aku berhenti melukis wajah. Tapi hari ini aku ingin melukis wajah seseorang yang menyukai Senandika. Dengan gaya dan pikiranku sendiri. Dengan latar belakang Bulan purnama. Dengan ..Ah, biarkan ini untuk imajinasi kepalaku saja.

Keempat

Namaku Nina. Itu nama samaranku. Aku bukan siapa-siapa. Pastinya aku wanita yang saat ini dilanda perasaan-perasaan yang bertumpuk-tumpuk sedikit kocar kacir tapi tidak lari ke mana mana hanya menetap di satu kerinduan yang amat hebat yang sensual dan mematik sendi sendi darah darah syaraf syaraf tubuhku tengkorakku pikiranku hatiku ketidakterbatasanku kewarasanku dan segala aku yang aku sendiri bingung disebut apa namanya ini.

Kepada pemilik intuisi, aku rindu. Rindu yang tak sekadar rangkaian kata kata karena huruf huruf tersebut tidak mampu menghitung kerinduan yang aku miliki dan tidak senilai. Rindu yang tidak dapat kucegah. Rindu yang bablas datang begitu saja. Rindu yang indah. Seindah sepasang manusia yang dibawa lari oleh semesta untuk melompat dan menari di bulan. Untuk berbahagia.

Kelima

Namaku bukan Nina. Dan tulisan ini belum selesai

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s