#PIc

Ruang Jendela Kursi Meja

Gadis cilik itu melemparku ke Andromeda. Sebelumnya dia berjanji akan mengubahku menjadi manusia. Sejak  awal dia memunggutku dari reruntuhan gedung yang sengaja ditabrakan oleh pesawat kertas, dia telah mengucapkannya. Dan selama 14,5 tahun, gadis itu selalu membawaku ke mana dia pergi, bahkan dia juga mengajariku menyontek dan membuat topeng monyet. Topeng yang katanya berasal dari Asia Tenggara. Di usianya yang masih 12 tahun, Rosellia mampu mengerjakan berbagai bentuk patung berbahan gelas kaca. Dia juga memiliki energi besar yang jarang dimiliki orang: mengubah benda mati menjadi bernyawa dan yang bisu menjadi bising. 

2 Detik aku tiba di galaksi ini, tubuhku telah bisa berselonjor layaknya manusia.

Lihat. LIhat. Aku menjadi bayi.

Lihat. Lihat aku menjadi anak-anak.

Lihat. Lihat aku menjadi remaja.

Lihat. Lihat aku menjadi wanita dewasa.

Rosellia menepati janjinya. Dan aku menjadi bising di kesunyian. Ramai bertingkah memainkan bumi. Di kursi nyaman ini, di depan sebuah layar transparan, di huruf huruf angka angka simbol simbol yang berjajar, aku menggerakkan manusia. Di saat aku menjadi manusia. Di saat semua butuh pergerakan. Di saat semua butuh ulasan dan alasan. Di saat keriuhan adalah figura. Di saat kebahagiaan adalah topeng yang dimainkan monyet-monyet yang katanya waras yang tidak sadar dirinya telah dipreteli oleh sang mangsa.

Manusia begitu tragis!

Aku adalah manusia yang asal mulanya adalah toilet.

Jendela

Mana ada jendela di sini? Tirai itu hanya hiasan. Di sini semuanya terbuka dengan luas nan megah. Sengaja dipasang jendela untuk membentuk sekat. Agar aku tidak terlalu melalang jauh. Tapi aku malah melewatinya.

Kursi

Dari dulu aku adalah kursi. Karena setiap harinya manusia duduk di atasku. Maka, aku bernama Toiletta, si kursi toilet. Semua kotoran dibuang ke aku. Rasanya? Macam-macam namun aku tak berasa. Apalagi hanya berat tubuh manusia, kurus maupun gemuk.

Di kursi Andromeda, aku menemukan indikasi-indikasi bahwa selfie merupakan kepunahan identitas. Selfie yang berbahagia.

Jangan percaya gambar!

Meja

Meja kayu. Tapi bukan kayu jati. Tidak seperti Tablerining yang berasal dari tanah Jawa sana. Berwajah ayu, sintal, tinggi, dan rambut panjang bergelombang. Jika aku seorang lelaki sudah dipastikan aku akan jatuh cinta kepadanya. Aku ingat sekali ketika ia kali pertama datang ke Manhattan,  New York. Tidak bisa berbahasa Inggris. 6 bulan kemudian ia jago berbahasa Inggris yang diucapkannya tanpa melepas aksen Jawa.

Entah mengapa Rosellia mengirim meja kayu yang lemah ini bersamaku. Katanya agar aku tetap mengingatnya. Dari mana asal pikiran Rosellia yang dirinya pun jauh dari lemah.Bah, aku terbiasa melihat meja yang kokoh bukan yang lemah!

Kuat seperti Tablerining. O, apa kabar dia? Menurut gelas-gelas kaca hasil jarahan Rosellia, Tablerining telah berbaur menjadi monumen. Semoga dia tetap hidup di sana.

Dan meja di depanku ini, rasanya ingin kutendang sejauh mungkin. Sebab begitu nyaman aku melakukan tugasku: memandang dan mengerjakan tindakan-tindakan manusia.

Ruang

Rosellia. Seminggu di sini terasa sejuta tahun. Mengapa hanya aku sendiri yang kaulempar ke Andromeda? Mengapa tak kau sertakan Mirrales (ingat bukan mirrorless), Lightna, dan Doorina bersamaku? Mengapa harus manusia manusia seperti itu yang kuamati sekaligus kulakukan? Manusia-manusia yang ..ah, aku lelah memaparkannya. Karena aku pun telah menjadi mereka.

Maka aku kirimkan surat kepada seorang pria yang mempunyai 2 warna mata yang berbeda. Yang sama dengan matamu. Biru dan hitam pekat. Karena kau telah berusia 26 tahun, maka kau sedang jatuh cinta kepadanya. Aku pun jatuh hati memandangnya dari jauh. Jauh yang tak terbatas jarak dan waktu.

Tunggu. Sebentar 5 menit.

Untuk momen aku sedang di depan layar tembus pandang yang berada di Andromeda.

Klik.

Segera kusebarkan ke seantero bumi.

Lihat Rosellia. Gambarku diulang ratusan ribu kali. Dahsyat!

Pengulangan-pengulangan yang brengsek!

Ssst, pejabat itu akhirnya menghubungiku melalui radar dari sebuah channel musik. Katanya jangan bilang siapa-siapa perusahaan dunia keempatnya adalah miliknya. Kreasikan untaian-untaian yang gemilang yang kuasa membius mata mata yang tiada hari tanpa digital.

Termasuk kau, Rosellia. Gadis yang telah tumbuh dewasa. Yang menjual karya-karyanya dan kegiatan sosialnya melalui lintas layar berkembang dan terus berkembang. Yang mempunyai otak kiri. Kekiri-kirian.

Terkadang, situasi pengulangan-pengulangan tetap terulang dengan sendirinya sampai kamu benar benar belajar.

Menjadi manusia. Itu yang terus berulang-ulang  kupinta dari Rosellia. Karena geliat nasib dan takdir para perempuan di satu ruang toilet lantai 19 yang ambruk karena serangan 9/11.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s