Random Pukul 00.00

Surat Pertama

Kepada kamu, Tembakau,

Apa kabar? Bagaimana bibit-bibit yang kamu tanam di depan jendela kamarmu? Sepertinya tanpa kamu jawab, aku tahu mereka telah mengembang seinci demi se-inci. Aku dan kamu juga tahu saat ini bulan Ramadan, isu daging mencuat kembali. Lagi-lagi bicara harga. Untungnya aku tidak suka daging tapi aku suka makan daging wagyu mentah. Apa pun yang mentah kulahap, biar kutahu bagaimana rasanya sesuatu itu bila tidak ditambahkan ‘bumbu-bumbu penyedap’. Dan itu nikmat sekali rasanya. 

Daging wagyu memang mahal harganya. Alasannya, sapi wagyu dirawat dengan cara memijat dan diberikan sentuhan kasih layaknya seorang Ibu kepada bayinya. Makanannya pun berupa gandum dan kacang-kacangan dan meminum air putih bukan sake. Dan sebisa mungkin mereka terhindar dari stress. Persis manusia. Tapi melihat cara perawatannya seharusnya mereka bisa dijual murah. Mungkin. Realitanya bicara lain. Karena apa yang diberikan pada mereka menjadikan mereka suatu daging yang berkualitas tinggi.

Jelas berbeda cara merawat daging siapa biasa dengan daging wagyu. Jelas aku sangat sangat menyukai wagyu padahal aku tidak makan daging, apalagi sapi perahan.

Saat menulis surat ini aku mendengarkan “Fly me to the moon” yang dinyanyikan oleh penyanyi jalanan yang tidak kukenal namanya di Paris sana. Sebab itu lagu kesukaanku. Apa aku pernah mengatakannya kepadamu, Tembakau?

Social Media Random

Jari-jari itu tidak bergerak. Tapi telapak tangan yang melaju. Bukan kabar kabar karangan cantik tapi yang kucari adalah sebuah otak yang tumpah ruah. Yang berada di taman rumahmu. Yang seolah-olah itu semua berada di taman rumahku. Dari segala tanaman kusiram agar tumbuh di kepalaku. Dari seluruh yang telah tercipta, aku rindu.

Angin lewat di antara gelombang-gelombang yang sebelumnya tidak pernah kupelajari. Tapi angin senang mengangguku. Maka kuganggu manusia-manusia di layar bisu namun berisik. Berisik-berisik yang terkadang ingin kulempar jauh. Dan terkadang membuat kurindu. Sebab, seringnya lelucon mereka membuat aku tertawa hebat.

Langit yang memecah dua

Senja. Kamu tahu aku pernah bertikai dengan Seno Gumira soal senja? Dan dia menantangku. Tantangan yang tak pernah kuselesaikan. Karena senja memang akan datang terus. Cantik tapi muncul hanya sebentar-sebentar. Meski senja yang ditemani pelangi atau berwarna merah muda seperti di langit sana yang membuatku menunduk.

Maka, kubuat langit menjadi dua. Dua yang sama namun bila diperhatikan ada sirkuit-sirkuit yang berbeda. Dan ada dua senja yang memanah setiap pandangan. Yang sama-sama membuat manusia yang memiliki rasa menjadi dalam. Dalam dan dalam.

Selanjutnya,

Yang pecah akan berkumpul. Karena udara tidak bakal tega membuangnya.

Maka, kubuat sebuah visualisasi yang justru banyak disukai orang-orang. Padahal mereka tidak mengerti langit senja yang kubelah tubuhnya. Kamu pun belum tentu mengerti. Sebab semua datang secara acak, gaduh,  dan muncul tiba-tiba.

00.00

Antara pikiran-pikiran yang mungkin saja sedang salah orbit.

Simbol Sialan

Masa bodoh dengan fungsinya sebagai alat komunikasi. Komunikasi? Bah. Lalu, aku tak tahan dan merabahkan tubuh di padang rumput. Kemudian, pukul 02.45 jantungku berdetak dan darahku mengalir cepat. Persis lirik Dewa 19. Hahaha.

Random. Randum. Randem. Randam. Randim. Damn. Dumn. Demn. Dimn. Domn. Dor. Der. Dur. Dar. Dir. Tes. Tus. Tis. Tas. Tos. Duar. Duir. Duor. Lalu bibir menjadi duer.

Dari kepala yang dodol. Tapi banyak dodol yang enak. Meski tidak sedikit yang tak enak. Lalu dodol seperti apa yang kamu suka?

Lagi-lagi aku gagal belajar fiksi

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s