Double Six Bali by Sari Novita

Langit Oranye dan Pesta Pora

Nyawamu masih membaca pejalan-pejalan yang menyerbu kota-kota wisata. Tanpa mengendus, apalagi banyak sapa, satu jam selanjutnya, “How are you, my love?” tertera di langit oranye. Kamu tak bisa menyembunyikan telah mengoresnya. Meski tetap merahasiakan kepada siapa pertanyaan itu dibuat.

Sebelum senja, pejalan-pejalan itu bersiap merias wajah dan mengenakan pakaian ala bangsawan. Sebetulnya jarang mereka berpesta dengan tema kostum seperti itu.

“Kali ini kita semua harus tampil beda.”

“Bergaya bangsawan yang tidak rapi, tapi berantakan.”

“Berantakan dan elegan.”

“Rok panjang mengembang, tapi  minim ke atas.”

“Jika perlu telanjang  dada.”

“Kalau aku ingin memperlihatkan payudara indahku, sedikit saja.  Biar mereka penasaran.”

“Aku tak perlu telanjang atau bikin orang penasaran. Cukup jas tanpa kemeja atau kaos. Malam nanti bulan purnama, wajahku akan terlihat lebih tampan. Aku ingin para wanita merayuku.”

Obrolan mereka, aku dengar  melalui angin yang kesasar di depan laptop. Di pantai yang tidak lagi perawan.Aku terkesima dan merencanakan hadir di pesta itu. Kostum bangsawan? Tidak masalah!

Karena aku mendengar suara tawa kerasmu di antara perbincangan mereka. Mereka yang mencintai perjalanan dan menganggapnya sebagai sebuah pesta pora.

Satu Jam Kemudian

Botol-botol wine meletup ke atas udara. Wajah-wajah sumringah di mana-mana. Bangsawan-bangsawan gila. Yang mendengarkan musik rock n roll di antara piano simfoni. Yang selanjutnya musik elektrik berdentum kencang. Dan yang kucari sedang berjalan sembrono bersama anjing kesayangannya. Yang dikenakan dasi kupu-kupu warna merah hati di lehernya.

Kamu tidak mabuk. Tapi kamu berjalan goyang hilang keseimbangan. Karena berdesakan-di antara para pejalan yang ramai sekali di pesta itu. Lagi-lagi kamu hanya tertawa melihat itu dan tetap bersenang-senang dengan caramu sendiri.

Kamu mencari tempat untuk bersandar atau hanya duduk seadanya. Tidak mudah mendapatkannya karena kamu harus menjauh dari mereka. Tidak jauh benar sesungguhnya. Tapi kamu bisa duduk dan membuka buku sialan itu. Dan kamu mulai menulis..

“Dia tidak terlihat, tapi detik  ini dia sedang duduk di sampingku. Memerhatikan apa yang kutulis. Tak apa. Aku biarkan dia tidak terlihat. Karena dengan cara seperti ini langit oranye dapat menyampaikan pesan dua orang brutal yang tidak bisa mengutarakan perasaanya.

Dan secepat kilat itu juga langit oranye menoreh, “I’m happy because you’re here

Salah satu wanita pejalan menghampirimu dengan gelas wine di tangan kidalnya. “Where is she?”

“Somewhere but nowhere,” jawabmu tersenyum.

*****

Itu sebabnya aku suka membenci pesta yang sulit kuhindari. Karena di suatu pesta aku dan siapa pun dapat saling melihat siapa dan apa sebenarnya yang sedang kita cari.

Jika kalian mengerti maksudku.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s