Photo: SAri Novita

Sang Laut dan Impiannya

Tiba-tiba aku teringat laut

Yang suka memanggil seekor lumba-lumba

Sekarang sudah bulan Mei

Sebentar lagi aku akan menghirup udaramu

Dan berada di antara kalian

Satu Minggu Lalu

Aku menyentuh anginmu yang dingin

Melalui diksi-diksi penyair digital, yaitu kamu

Di Kala bulan sedikit sekali terlihat munculnya

Jakarta memang bukan tempat para bintang-bintang dan bulan berpendar melukis diri mereka seperti di langit Labuan Bajo

Kamu tahu hal itu, tapi tetap membiarkan pisau kebisingan kota besar menggorokku

Dua Hari Lalu

Mermaid,

Muncul lagi, lagi, dan lagi di lembaran kertas yang aku benci itu

Unsur-unsur aljabar yang telanjang bebas di sana

Dan suatu komposisi yang masih sulit terbaca oleh aku

Mermaid,

Apakah ia sebuah impian

Berjubah perempuan

Yang ada di mana-mana tapi ia tidak ada

Mermaid,

Sebuah kail? Perahu? Harta yang terpendam di bawah laut?

Gelang? Kacamata? Topi? Smartphone?

Atau masa depan para pemilik laut?

Mermaid,

Mengapa harus mermaid?

“Karena ia bisa menemaniku berlayar mencari harta karun,” itu jawabanmu.

Hari Ini, Pagi Ini

Musik gamelanmu masih berdenting di telingaku

Penari-penari Legong masih menggodaku untuk kembali

Aku akan kembali

Sebentar lagi

Untuk seorang gadis dan seorang dewasa berkelamin wanita

Mungkin saja kita akan berjumpa, Mungkin juga tidak

Tapi mana mungkin Pulau Dewata setega itu…

Tanah itu penuh impian menumpuk dari orang-orang yang..

Ah aku tak perlu menuliskannya, kan, sayang?

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s