Djakarte

Mencari Papa di Jakarta Tempoe Doeloe

Selamat Datang di Jakarta. Di usianya yang menua, 488 tahun.  Ratusan tahun menyimpan cerita manis dan juga pahit. Menyelusuri Jakarta tidak mungkin diselesaikan dalam waktu 1 hari. Tapi, aku harus mencari Papa dalam 24 jam. Papa yang tidak ingin ditemukan. Melarikan diri karena dianggap sebagai pengkhianat partai komunis Cina. Maka, Bundaran Hotel Indonesia adalah titik nol untuk memulai perjalanan ini. Lalu, ke mana langkah selanjutnya? Ke arah Jalan Sudirman atau menuju Menteng atau Tanah Abang atau..terbang menembus Jakarta tempoe doeloe?

~*~

Gedung Filateli -by Sari Novita

Aku memandangi lama bendera Merah Putih yang berkibar. Dan angin meniup tubuhku kencang. Seketika, bayangan itu muncul.

“1912-1929,” ucap Gubernur Jenderal Daendels tentang  waktu pembangunan Gedung Filateli di hadapanku ini.

“Kau suka arsitektur bangunan ini, Ah Cy?”

“Ya. Lelaki londo itu, kan yang mendesainnya?” Aku langsung yakin saat melihat lelaki itu berdiri sambil mengisap cerutunya. Cara dia menyandarkan tubuhnya ke pilar yang kokoh pada muka Gedung Filateli, seperti Art Deco yang tampak jelas pada gedung ini. Modern, besar, anggun – ups, gagah maksudku.

“Modern di jamanku. Kuno di jamanmu. “

Aku terkejut mendengar ucapannya. Daendels bisa membaca pikiranku?!

“Mari kuperkenalkan.”

“John Van Hoytema,” jawabku sembari memandangi John dari jarak yang tidak dekat.

Mata Daendels membesar karena terkejut. “Bagaimana kau tahu?”

“Memori  gedung ini yang memberitahuku.” Aku menoleh ke sebelah kiri. Melangkah pelan dan meninggalkan Gubernur Londo itu yang masih terperangah.

Saat memasuki area samping Gedung Filateli, sinar matahari menyilaukan pandanganku. Sangat silau. Sampai aku tak mampu melihat apa yang di depanku. Gelap, ya sekitarku menjadi gelap.

Pejoeang 3
Di depan Museum Fatahillah

Tiba-tiba, refleksi syaraf menengadahkan kepalaku ke langit. Semuanya kembali putih dan bersih. Begitu pula di sekelilingku.  Dan, sekejap lelaki itu berdiri 45 sentimeter di depanku. “Saya Jenderal Sudirman. O, bukan, tapi pejoang’45 Setiap weekend, saya berada di sini untuk dipotret oleh para penggemar Kota Tua,” ujarnya mengagetkanku. “Kau lihat di sini begitu ramai warga Jakarta, bahkan warga dunia. Tujuan mereka untuk menikmati bangunan tua yang masih indah berdiri.”

“Di sini ada 3 kedai yang kau bisa nikmati seolah-olah berada di Jakarta tempo doeloe. Kita ngupi-ngupi, yuk seperti tuan dan nyonya Belande.”

“Atau kita bisa berlagak menjadi Panglima Fatahillah secara bergantian,” ucapnya tanpa berhenti dan selalu terkekeh.

“Tunggu. Aku ke sini untuk mencari masa lalu,” Pejoang’45 KW ini harus diputus pembicaraannya.

Dia sedikit terkejut, tapi tampaknya dia senang berbicara. Dan langsung menanggapiku.

“Masa lalu? Hmm, bisa!” katanya yakin seraya tangannya menunjukkan..

“Di sana ada museum Wayang, di depan museum seni dan keramik, museum Bank Mandiri, Bank Indonesia, dan Stasiun Kota, ketiganya ada di belakang. Ada Gedung Arsip Nasional di belakang juga. O, maaf tapi tidak mungkin ke sana dengan berjalan kaki. Masalahnya, jauhh.”

“Kau lihat di depan sana, ada sebuah cafe bernama cafe Batavia. Sayang ingatannya sudah lemah. Percuma kau mencari masa lalu di sana,” dia tergelak cuek.

“Bagaimana jika kita masuk ke dalam gedung yang dulu pernah menjadi balai kota?”

“Di dalam banyak masa lalu. Kau bisa bertemu keramik, lukisan Gubernur VOC Hindia Belanda, prasasti, senjata, sketsel, patung Hermes, kristal, pedang eksekusi, batu, logam, kapak batu, dan banyak lagi. Tuh, kurang masa lalu apa lagi nih museum Fatahillah.”

Museum Fatahillah
Museum Fatahillah

Dia memerhatikan raut wajahku. Lalu bentuk tubuhku sambil menggerakkkan kedua telapak tangannya ke kanan dan ke kiri bagaikan memegang kamera.

“Kau tampaknya suka seni. Bagaimana kalau kita ke Gedung Kesenian Jakarta saja. Tapi naik busway ya. ”
“Di sana kita bisa main teater komedi dan bertemu Mister Daendels, sang pencetus ide serta Mister Thomas Stamford Raffles, sang pendiri.”

Gimana? Mau?”

“Sebenarnya aku mencari Papaku.”

Pejoang’45 terkesiap. “Papa?”

“Kau Chinese, ya atau hanya mirip?” lanjutnya lagi dan baru sadar.

“Aku asli dari daratan Tiongkok,” jawabku.

“Hmm,” dia menampakkan wajah berpikir.

10 detik kemudian. “Pasar Baru. Ya, kau harus ke sana. Dulu tempat itu adalah pusat perdagangan karena dianggap strategis lokasinya. Banyak pedagangnya berdarah Tionghoa dan India.”

“Aha, saya punya cerita tentang seorang ca-bau-kan yang sedang berjalan-jalan dan menemukan cintanya. Lelaki Tionghoa kaya yang memiliki banyak selir.”

Pejoang’45 palsu meneruskan ceritanya. Dari soal ca-bau-kan, rumah paling megah milik Mayor Tio yang biasa dijadikan tempat pesta para Tionghoa, Vihara, warga Tionghoa menengah ke bawah dan pembunuhan di pinggir kali depan Pasar Baru, kali Ciliwung. Kepalaku berputar-putar cepat dan padat. Ocehan-ocehannya bagaikan ratusan batu yang menimpukku. Badanku  hilang keseimbangan. Sekelebat, aku sudah berdiri di  Pasar Baru tempoe doeloe.

Pasar Baru-Sari Novita

“300 tahun ke depan, bangunan ini akan tetap berdiri dan berganti nama tanpa ada perombakan satu pun,” tutur Tio Tek Ho, sang Mayor Batavia, pemilik rumah ini. Ya, aku yakin sekali dia adalah Mayor yang diceritakan Pejoang 45 imitasi.

“Kau melompat terlalu jauh. Sekarang, kau berdiri di abad 19 dan saat rumah ini berganti nama menjadi Toko Kompak, aku sudah mati.”

Mataku terbelalak. Abad ke-19?!  Wow, aku tak bisa menahan ketakjubanku. Otomatis kedua mataku mengitari orang-orang, benda-benda, dan bangunan-bangunan di sekitarku. Termasuk sebuah rumah paling megah,di antara rumah lainnya , bertingkat 2 dan berbau seni Eropa plus seni Tiongkok. Sebuah rumah yang menarik perhatianku karena artistiknya. Dan papan yang terpasang tepat di atas pintu masuk rumah bertuliskan “Sin Siong Wouw” bukan Toko Kompak.

Toko Kompak Pasar Baru-Sari Novita

“Eh, boleh aku masuk?”

Mayor Tio tersenyum simpul, “Buat apa?” Papamu tidak pernah masuk ke rumah ini. Hanya orang Tionghoa kaya yang masuk ke sini.”

“Mungkin kau bisa bertanya kepada Atek, si penjual cakue di dalam gang-gang Pasar Baru. Darinya, kau bisa melacak para pendatang dari Tiongkok di masa tahun 1940 sampai tahun 1960-an.”

~*~

Vihara Dharmajaya

Kakiku melangkah ke gang-gang sempit yang berada di Pasar Baru – mengikuti petunjuk orang-orang. Rumah-rumah petak berjejer sangat berdekatan. Lorong yang gelap. Gerobak sampah di sudut gang yang tak tertutup. Aku tercengang, ternyata masih ada perumahan dan jalan kecil seperti ini di tengah Pasar Baru.

Kakiku berhenti melihat tulisan di papan berwarna kuning Vihara Dharmajaya, 1698. Apakah aku berada di 1698? Ah, tidak. Keramaian tadi yang kulalui berasal dari masa sekarang. Hmm, berarti aku tak perlu tergagap seperti melihat Mayor Tyo dan Daendels. 3 langkah berikutnya kulihat Vihara kecil. Aku terdiam. Sudah lama sekali aku tak sembayang. Lalu, aku masuk. Untuk sembayang. Aku memerhatikan bangunan dalam Vihara yang terlihat tua. Tua tapi masih berenergi.

Lelaki tua muncul dan tersenyum. Aku membalasnya dan pamit sembayang. Setelah itu, dia sudah tidak tampak lagi. Aku pun keluar. Sekitar 2 sudut gang kulewati, akhirnya pria bernama Atek kutemukan.

“Pernah ada seorang pria berjualan perangko di kantor pos yang sekarang menjadi Gedung Filateli,” akhirnya Atek ingat setelah aku bercerita panjang dan menyebut Toko Kompak.

“Dia kenalan Papa saya dari Tiongkok. Dia juga bercerita terpaksa meninggalkan keluarganya untuk sementara,” lanjut pria penjual Cakue yang banyak diminati orang-orang.

Mendengar itu, aku segera pamit. Dan bergegas kembali ke Gedung Filateli.

~*~

P1010481

Perangko-perangko dari masa sebelum Sukarno dan sesudah, serta perangko lama dari luar negeri, menumpuk di bowl besar. Ada pula yang digantung dengan jaring. Selanjutnya, Bola mataku menangkap sosok Papa.

Senyumanku mengembang megah. Butiran halus berwarna-warni jatuh menghujaniku. Pelangi  muncul, melatarbelakangi momen ini.

P1010476

Papa masih bicara kepada kelompok yang mengaku Travel Blogger. Papa jelaskan bahwa dirinya sudah menjual perangko di tempat ini sejak tahun 1965.

Aku dekati Papa.

“Pa,” panggilku. Dia tak menjawabnya. Bahkan tak memedulikan kehadiranku.

Tiba-tiba seseorang menyentuhku. Aku langsung membalikkan badan.

“Pejoang’45?!” Ah, pahlawan bohong-bohongan ini muncul lagi.

“Aku bukan Pejoang’45 KW yang kau kira,” dia tersenyum.

Hah? Dia juga bisa membaca pikiranku? Namun, aku malah terbahak.

“Jenderal Sudirman ataupun Pejoang’45 telah tiada, bung!”

“Kau pun telah tiada, Ah cy. Waktumu mencari Papamu melalui Jakarta tempoe doeloe telah habis.”

Aku tersadar, meninggal saat usiaku 12 tahun. Aku pun perlahan menjauh dari pandangan Papa. Jauh. Jauh. Dan terbang ke atas.

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba  “Blog Competition #TravelNBlog 4: Jakarta 24 Jam“:  yang diselenggarakan oleh @TravelNBlogID

Sumber foto : Dokumentasi SN.

Foto lainnya ada di sini

8 thoughts on “Mencari Papa di Jakarta Tempoe Doeloe

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s