Tidak Ada Kursi di Meja Makan

Di pertengahan tahun 2002, saya belum bisa memasak. Kemudian, saya jadi bisa memasak. Sekitar tahun 2010, saya kembali tidak bisa memasak, dan kembali dapat memasak lagi. Begitu pula di tahun 2013, penyakit tidak bisa masak kambuh dan sembuh kembali. Tahun ini, 2015, tidak berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, saya terserang kembali penyakit tidak bisa masak tersebut. Berulang-ulang saya tidak bisa masak, berulang-ulang pula saya kembali bisa memasak. Entah fenomena gejala penyakit apa yang saya derita ini?

Yang membuat saya bisa memasak adalah keluarga, pacar, dan teman. Dan awal saya bisa masak karena keluarga. Waktu itu saya sempat tinggal di San Jose, California, bila setiap hari harus jajan di resto itu sudah pasti bakal mengempiskan dompet. Awalnya saya hanya membantu tante saya memotong sayuran, tahu, tempe, cabai, bawang putih-bawang merah, fillet ikan (yang saya potong lebih kecil lagi), daging (o, ini tidak pernah, karena saya tidak begitu suka daging, kecuali direbus selama 8 jam – udah gitu gas langsung habis), fillet ayam, dan lainnya. Jadi saya belum jadi Chef tapi Cutter.

Suatu hari, saya berdebat (bertengkar lebih tepatnya) dengan tante saya mengenai kekhawatiran pergaulan saya dan kerap berpergian bersama teman-teman saya. Hari itu saya lebih memilih di rumah (ceritanya ingin menenangkan diri gitu). Jelang siang, saya mengecek kulkas untuk mencari makanan. Tapi tidak ada makanan. Lalu saya menghubungi teman tante saya yang cukup dekat dengan saya – bermaksud mengajaknya makan di luar, dia bertanya, “Koq nomornya nomor rumah?”

“Iya, memang di rumah,” jawab saya dengan tenang.

“Loh, kamu sakit, koq di rumah?”

“Nggak, tadi pagi males pergi sama Tante Ussy, mau naik bis jalannya jauh, ya di rumah aja.”

“Kan, biasa pergi sama tante, tadi kenapa nggak?” tanya Tante Asri dengan kepo.

“Biasaaa..”

“Ha ha ha..” Tante Asri langsung tahu apa penyebabnya.

“Ya, kamu mending masak, sekalian buat mereka, sekali-kali masak buat mereka,” ucapnya.

“Hah? Saya kan nggak bisa masak.”

“Gampang gitu koq. Ayolah.”

“Males ah.”

“Hey, jangan gitu. Aku lagi nggak bisa keluar nih, daripada kamu kelaperan. Lagi pula sekalian bikin makanan buat mereka.”

Saya garuk-garuk kepala. Mau masak apa? Saya pun langsung ingat masih ada ikan yang saya tidak tahu namanya. Saya pun langsung langsung bilang ke Tante Asri ada ikan di kulkas dan bumbu-bumbu pun lengkap.

“Apa ya enaknya? Asam Pade sepertinya enak,” ujarnya.

“Asam Pade? Hmm, boleh juga. Cara bikinnya, gimana?”

“Aduh, tante nggak pernah masak Asam Pade,” Tante Asri tertawa.

Okay, di antara kami berdua tidak ada yang tahu mau diapakan sepotong ikan yang belum diketahui namanya itu. Seingat saya – ketika melihat assisten rumah – memasak Asam Pade hanya mencampurkan semua bumbu. Tapi saya juga tidak yakin. Hehe. Satu-satunya cara cari di internet. Namun di internet pun tidak ada, maklum masih tahun 2002, orang Indonesia belum canggih main intenetan. “Dicoba aja kali ya,” begitu saya berbicara dengan diri sendiri, laper sih.

Bawang merah-bawang putih tidak saya iris tapi saya keprak. Hal yang sama saya lakukan pada lengkuas, sereh, dan secuil kunyit. Bayangkan emosi yang seperti apa yang bisa saya tumpahkan? Yang terjadi, emosi itu tidak ada. Sebabnya, saya terlalu fokus mengkeprak bumbu-bumbu itu agar tidak terjatuh ke lantai. Ini pertunjukan pertama saya, jadi harus sempurna. Soal cabe, mudah saja. Blenderrr! Mana mungkin saya tumbuh halus. Terus terang belum punya kesabaran dan kepandaian seperti itu. Ya, kesempurnaan hanya milik Tuhan, terpenting saya memasak tidak berantakan.

Saya tumis bawang merah-bawang putih dan sambal, seraya memasak air di panci. O, ya, waktu itu, kami tidak mengunakan kompor gas, melainkan kompor listrik dan di Indonesia mungkin masih jarang sekali yang menggunakannya, bisa jadi belum ada. Jadi saya tak perlu khawatir kompor tersebut akan meledak. Selanjutnya, saya bingung mau memasukan apa terlebih dahulu ke dalam panci. Yang tercetus di kepala, “Masukan semua!”

Tunggu, ikan saya masukan paling akhir, karena di antara rupa-rupa rempah tersebut, ikan memiliki tubuh yang paling rapuh. Itu yang terlintas di pikiran saya.

~*~

Om saya makan lebih dahulu. Tampaknya dia lapar. Dia tidak bertanya makanan apa ini, dan langsung menyantapnya. Diperhatikan, dia telah tambah sampai 3 kali dengan menu yang saya masak (ikan asam padeh dan tahu goreng). Tante saya terkejut melihatnya. “You know what, this all cooked by Riri,” sambil mencicipi Ikan Asam Padeh buatan saya. “O, really? Ri, ini enak. Kamu bisa masak juga,” puji Om saya. Tante saya pun mengatakan hal sama. Dan saya terkejut. Kami pun tertawa bersama akibat percobaan kali pertama yang sukses besar.

Akhirnya saya ikut makan bersama mereka. Bukan di meja makan, tapi di kursi ruang televisi. Meja makan yang berdiri di antara ruang dapur dan ruang televisi, selalu kosong dan jarang digunakan. Bukan karena tidak ada kursi, tapi bagaikan tidak ada kursi di sana. Kekesalan saya tadi pagi hilang begitu saja. Tante saya pun tidak mengungkit kembali. Seperti kursi-kursi yang tidak pernah ada di meja makan itu.

Karena makanan, orang bisa bersatu, namun bisa pula bercerai-berai. Entah duduk makan di meja makan atau duduk di lantai, persoalan meja makan dan kursinya tidak masalah. Meski begitu, tidak sedikit keluarga yang lama tak berjumpa atau ada masalah di antara mereka, duduk kembali bersama di meja makan.

Saya, Om, dan Tante hening menikmati makanan yang saya masak. Keheningan yang hanya diketahui oleh masing-masing pribadi dan Tuhan. Saya tidak tahu keheningan apa yang mereka miliki saat itu. Begitu juga mereka tidak tahu keheningan apa yang saya punya. Yang kami tahu, kami sedang melahap Ikan Asam Padeh dan tidak ada perdebatan.

Mungkin meja tanpa kursi, mereka “hidup” tidak lengkap. Pula ada meja ada kursi, tapi kaki kursi tersebut mengalami”lunglai” dan hampir patah. Manusia pun tanpa komunikasi dengan sesama akan tersesat. Mengira-ngira hanyalah sia-sia. Meja tanpa kursi, lebih baik tidak ada kursi, tapi manusia bisa “berdiri” bersama. Dan makanan merupakan salah satu cara penyambung silaturahmi. Di situ orang bisa saling mengenali apa keinginan masing-masing, bukan keinginan kamu, kita, mereka, atau siapa pun itu.

Tulisan ini diikutsertakan untuk Lomba Saji 12th Anniversary – Sajian Sedap –> http://microsite.sajiansedap.com/ultahsajistory2015/home

YUk, ceritakan pengalaman kamu yang menarik dalam hal masak-memasak

Sumber Gambar:  http://etc.usf.edu/clipart/4700/4779/table_1.htm

4 thoughts on “Tidak Ada Kursi di Meja Makan

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s