Mencegah Bukan Berperang Melawan Narkoba

“The truth is that the war on drugs has caused more harm than good. It is time for it to end.” – Ethan Nadelmann

Tersebar di mana-mana slogan “Indonesia darurat narkoba”, “Perang melawan narkoba”, dan yang paling ‘maknyos’ program “Target 100.000 pengguna direhabilitasi”. Media elektronik, cetak, online, dan segala bentuk media informasi lainnya, tidak habis-habisnya memberitakan penangkapan bandar dan pengguna narkoba dan terpidana hukuman mati, hampir setiap hari. Patut disadari penyalahgunaan narkoba telah meluas ke segala lapisan masyarakat. Bahkan semakin diberantas, semakin mengganas. Para Bandar dan pihak berwajib pun berlomba-lomba siapa yang paling pintar di antara mereka. Dan masyarakat menjadi resah, cemas, khawatir, karena pemberitaan tersebut. Tidak jarang, masyarakat mengutuk para bandar dan menyalahkan perbuatan para pengguna narkoba sesuka hati, tanpa berpikir ‘apa penyebabnya’.

Apa yang kita saksikan di televisi dan membaca pemberitaan, bisa disimpulkan bahwa narkoba/narkotik sangat mampu menggoda sekaligus menjerat setiap orang tanpa melihat status, pendidikan, latar belakang, keluarga, pekerjaan, ras, suku, agama, gender, lingkungan, keyakinan, usia, kelompok, dan lain-lainnya. Atau masyarakat belum sadar akan hal ini, sehingga mereka menganggap aman-aman saja dan tidak mungkin terjadi pada diri sendiri, keluarga, teman, dan lingkungannya. Namun, jarang sekali pemberitaan mengenai informasi, edukasi, dan pencegahan masalah narkoba ini. Jika ada pun, isi dari informasi hanya sekedarnya saja, bahkan masih banyak masyarakat yang belum tertarik mengenai permasalahan seputar narkoba.

Lucunya lagi, seorang yang duduk di jajaran bidang pencegahan, pemberantasan, penyalahgunaan, dan peredaran gelap narkoba mengatakan, “Dulu mereka (pengguna) menyuntik, mungkin karena tahu banyak yang mati, sekarang ramai-ramai pakai dengan cara menggunakan bong karena lebih aman dan resiko kematiannya lebih lama.” Entah seseorang ini sedang becanda atau tidak. Walaupun sedang guyon, bagi saya ini humor yang tidak lucu!

Sudah seharusnya orang yang bergerak di bidang pencegahan, pemberantasan, penyalahgunaan, dan peredaran gelap narkoba (P4GN) mengerti soal alat-alat yang biasa digunakan oleh pengguna narkotik/narkoba sekaligus sejarah, pengetahuan, jenis, dan masa/jaman penyalahgunaan narkoba (yang terus berputar). Mungkin, seorang itu bermaksud mengatakan ‘dulu banyak orang menyuntik karena pemakaian putaw/heroin, sekarang orang banyak memakai sabu-sabu dengan alat bong’. Meskipun seorang itu bermaksud demikian, tapi ucapannya menyampaikan hal tersebut dapat disalahartikan dan orang lain mendapat informasi yang salah, sehingga masyarakat jadi ‘gagal paham’. Masyarakat bukan semakin ‘melek’ malah kian ‘buta’.

Bermimpi Indonesia bebas narkoba, rasanya mustahil. Untungnya orang-orang di P4GN sangat menyadari hal ini dan menyakini bahwa berperang melawan narkoba (war on drugs) tidak akan berhasil, apalagi UNODC pernah mengatakan kampanye ‘war on drugs’ telah gagal. Kampanye dalam bentuk gambar (kaos, poster, slogan) suara, berita, dan lainnya yang mengambarkan keseraman, perdagangan dan kematian perihal narkoba, justru membuat jumlah penyalahgunaan narkoba semakin tinggi.

silahkan saksikan link ini untuk lebih jelas mengapa kita harus mengakhiri perang melawan narkoba:

dan baca link:

http://transform-drugs.blogspot.com/2013/05/the-10-most-un-likely-critics-of-war-on.html

http://www.unodc.org/documents/ungass2016//Contributions/Civil/Health_Poverty_Action/War_on_Drugs_report_web.pdf

Tagline “Perang melawan narkoba” yang terus menyebar ke segala penjuru Indonesia pun menimbulkan keresahan bagi masyarakat yang tidak terlibat penyalahgunaan, dan bagi masyarakat yang terlibat penyalahgunaan narkoba, slogan ini justru tidak membuat mereka berhenti. Salah satu Contohnya saja, banyak orang tahu memakai heroin/putaw dapat beresiko HIV/AIDS, hepatitis, dan penyakit kronis lainnya dan juga  berdampak kematian. Lalu hadirlah jenis sabu-sabu yang dianggap masyarakat tidak begitu membahayakan dibanding heroin, karena pengguna heroin banyak mengunakan cara dengan disuntik yang mengakibatkan HIV dan kematian, tanpa menyelusuri siapa sebenarnya sabu-sabu itu, mereka memakainya. Jumlah pengguna dan pengedar sabu-sabu pun kian meningkat. Padahal menggunakan sabu-sabu sama berbahayanya dengan menggunakan heroin atau jenis narkotik lainnya.

Pencegahan melalui kampanye berbentuk gambar yang kerap menampilkan tengkorak, alat suntik, pil, dan simbol silang tidak memberikan hasil sama sekali. Tontonan penangkapan atau pemberantasan yang dilakukan pihak berwajib pun, terbukti tidak mengurangi nyali para bandar dan para pengguna – melihat ada saja berita penemuan dan penangkapan setiap harinya. Lalu ke mana edukasi atau informasi atau pengetahuan tentang seputar narkotik/narkoba ini? Apakah ini bisa disebut ketidakseimbangan antara pencegahan dan pemberantasan?

Tidak ada peperangan yang dimenangkan, sebabnya masih ada saja manusia dalam jumlah besar yang mati akibat perang. Bahkan berperang melawan diri sendiri. “Berdamai bukan berperang” begitu kata sebagian tokoh-tokoh yang berpengaruh di dunia.

Berdamai dengan narkoba? Why not? Bukan berarti membiarkan, memperbolehkan, melegalkan narkotika di bumi pertiwi Indonesia dan belahan dunia lainnya. Kalau saya lebih memilih berdamai melalui pencegahan , membantu pemulihan pecandu dan penyebaran informasi/edukasi/pengetahuan narkotika daripada berperang melawannya. Singkatan narkoba: narkotika dan obat/bahan berbahaya . Berbahaya. Bukankah rokok itu juga berbahaya bagi kesehatan? Dan di dalam kamus bahasa pun tidak ditemukan kata ‘narkoba’.

Pencegahan efektif berasal dari keluarga yang memberikan pengetahuan kepada anak-anaknya sejak kecil. Sebenarnya, Edukasi tentang narkotika banyak tersebar dan dapat ditemukan di media online. LSM terkait adiksi narkotika di Indonesia sudah lumayan jumlahnya dan mereka tidak segan-segan membantu ataupun memberikan jawaban tentang pertanyaan seputar narkotika/narkoba. , Entah mengapa masih saja banyak masyarakat yang tidak peduli dan tidak tertarik mengenai hal ini, begitu pula yang menyangkut HIV/AIDS. Masyarakat lebih tertarik dengan kehidupan selebritis, mencaci maki tokoh atau pimpinan atau pejabat, membicarakan hal-hal tidak penting, penjual seks atau berita seks, dibanding narkoba/narkotik/napza, HIV/AIDS, dan kesehatan mental. Padahal  ketiga itu sangat penting bagi masyarakat luas, sebab, bisa terjadi pada siapa pun, kapan pun dan di mana pun. Sepertinya tidak ada niat bagi sebagian besar masyarakat untuk mencari tahu “siapakah narkotika itu?” Jadi, bagaimana harus melakukan pencegahan?

JIka perlu, siaran atau pemberitaan mengenai edukasi (pencegahan) dipublikasikan secara menarik dan tidak membosankan kepada masyarakat dan informasinya sampai ke pelosok-pelosok daerah terpencil. Dan disebarkan pula kisah perjalanan seorang pecandu yang telah berhasil dan memberikan manfaat bagi dirinya dan orang lain, tanpa lupa menghadirkan peristiwa-peristiwa yang sangat menganggu dan memengaruhi (negatif) kehidupannya. Pemerintah, perusahaan atau kelompok apa pun bisa melakukan aktivitas bersama yang positif yang melibatkan masyarakat luas secara langsung, misal; Lari Maratahon, lomba sepakbola/band, workshop photography/adiksi/seni budaya/komputer/making movie, memperluas fasilitas yang bisa menuangkan hobi/minat dan bakat. Banyak yang bisa dilakukan untuk pencegahan serta pemulihan. Dengan kegiatan ini, Masyarakat pun bisa memberikan motivasi kepada pecandu-pecandu yang masih di luar sana dan pecandu yang berada di dalam rehabilitas/pemulihan.

Perihal target 100.000 di tahun 2015? Tidak ada yang melarang tuk bermimpi, Pak. Sebagian orang mengatakan, boleh bermimpi asal menyesuaikan. Sampai sekarang saja tenaga konselor di seluruh Indonesia baru tercatat 500 orang. Meski saat ini, jajaran Pemerintah gencar memberikan training kepada Peksos dan calon konselor , diharapkan bukan kuantitasnya, tapi kualitas, akan lebih baik kuantitas ada, kualitas pun harus ada.  Ini terkait masalah hidup banyak orang!

Ingin tahu lebih banyak soal adiksi narkotika, bisa hub : http://www.kapeta.org , http://www.rumahcemara.org, http://www.yakeba.org, http://www.yayasankasihmulia.com, http://www.bnn.co.id dan http://www.indonesiabergegas.com

Untuk keluarga yang memiliki anak/saudara pecandu bisa hub Yayasan Keluarga Pengasih Indonesia (YKPI) , FB : https://www.facebook.com/ykpi.senayan?fref=ts

* Tulisan ini saya muat atas kesimpulan pribadi yang kecewa dengan pertemuan para blogger dan pihak P4GN – yang terus membanggakan kisah penangkapan mereka yang yahud. Udah gitu salah kasih informasi pula.

Konser Sore-sore Anti Narkoba, 4 Juni 2015
Konser Sore-sore Anti Narkoba, 4 Juni 2015

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s