Buku Catatan Orang Gila

Buku Catatan Orang Gila
Buku Catatan Orang Gila

Maka berhari-hari Ibu memerhatikan Lastri lebih teliti, mengamati bagaimana dia memandang setiap lelaki dan terlihat terlalu gelisah dan ‘terbakar’ seperti sapi berahi. Sepanjang malam Ibu juga mengamatinya ketika tidur. Ibu mulai tahu bahwa Lastri selalu menjepit gulingnya dengan kedua paha. Jepitan yang kuat dan tak biasa.

Kalimat di atas merupakan salah satu cerita dari cerita pendek berjudul “Catatan Tentang Hantu dan Kisah dari Bangsal”. Sebuah cerita pendek yang ternyata tidak sebuah, melainkan berisi dari beberapa cerita yang dibaca dari buku  catatan  seorang wanita di Rumah Sakit Jiwa. 2 Tokoh utamanya “Aku” dan “Kamu” – aku adalah sang pria dan kamu adalah seorang wanita yang diam-diam disukai oleh aku. Setiap “kamu” berada di Rumah Sakit Jiwa, “Aku” selalu menemaninya. Aku heran mengapa kamu selalu antusias dan senang bermain bersama para pasien dengan gangguan jiwa. Aku bagaikan lepas dari duniamu saat mereka menghambur ke arahmu dan memelukmu. Anehnya, kamu tidak pernah mau melanjutkan sekolah jurusan psikologi. Kamu punya pandangan dan observasi sendiri. Suatu pandangan yang tidak terpikirkan orang lain. Dan catatanmu mengenai mereka, selalu suka kubaca. Aku jadi tahu penyebab mereka sampai berada di Rumah Sakit Jiwa.

Orang dengan gangguan jiwa (mental). Inilah topik dari sebuah buku kumpulan cerita pendek “Catatan Orang Gila” yang ditulis oleh Han Gagas. Kosakata “gangguan jiwa” masih menjadi stigma yang kencang oleh masyarakat di negeri ini. Mereka tidak tahu gangguan ini bisa menimpa siapa saja tanpa mengenal profesi, status, lingkungan, kekayaan, dan sebagainya. Tidak semua cerita pendek di buku ini mengkisahkan tentang orang-orang yang mengalami gangguan kesehatan mental. Peristiwa Mei 1998, Krisis sosial, Satpol PP, ketimpangan ekonomi, korban bencana alam, cinta dan orang yang tak bersalah, merupakan cerita-cerita yang mendampingi kisah-kisah orang tak waras. Sebut saja “Redi Kelud”, “Sketsa Abadi”, “Susuk Kekebalan”, “Topeng Satpol PP”, “Pembunuhan Wirobogel”, “Dialog Si Gembel dan Pohon Mangga” dan “Tuhan Melimpahi Kejeniusan pada Iblis”, adalah episode cerita yang banyak terjadi di masyarakat. Kumpulan kisah yang tidak biasa karena kita tidak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi di balik suatu peristiwa. Rata-rata orang menilai hanya 1 sudut pandang saja, biasanya si korban, tanpa pernah mencari tahu sudut pandang dan apa pemicu dari si pelaku.

Contohnya cerita pendek “Topeng Satpol PP”, apakah kita pernah tahu bahwa para anggota Satpol PP kerap menjerit hati dan pikirannya saat mereka mengusir orang-orang dari warung/toko liar atau pasar, tempat yang biasanya berjualan dan mengais rezeki dari sana. Seandainya mereka dapat memilih, pekerjaan sebagai Satpol PP, tentu tidak akan dipilihnya. Ini takdir atau nasib? Atau lagi-lagi menyangkut masa lalu dan pendidikan?

“Tuhan Melimpahi Kejeniusan pada Iblis” yang mengalir bercerita tentang seorang anak yang tangan kirinya sengaja dipotong oleh sang pencipta karya. Sang pencipta yang telah banyak memotong bagian-bagian tubuh dengan begitu rapinya, sekaligus pandai membuat ramuan penawar rasa sakit dan juga berbagai  penyakit. Si pencipta yang sesungguhnya tidak tega memotong bagian tubuh orang lain dan menghilangkan perasaannya tersebut dengan meneguk minuman beralkohol. Si pencipta yang mengulang masa lalunya. Dan, kejeniusan adalah anugerah. Anugerah sebagai ‘pengusaha’ para pengemis di Ibukota.

Berlanjut ke kisah “Dialog Si Gembel dan Pohon Mangga”. Perihal cinta memang tidak pandang bulu. Orang yang disebut ‘gembel’ pun bisa terus jatuh cinta. Bahkan, terhadap mantan kekasihnya bertahun-tahun lamanya. Dia setia menanti dan menemani kekasihnya itu sampai para lelaki ‘menjemputnya’. Padahal kekasihnya itu sudah tak ingat lagi padanya, terlebih rupa dan penampilannya telah jauh berubah menjadi gembel. Selama dia masih bisa memandang wajah dan mata kekasihnya itu, serta berdialog dengan pohon mangga – tempat kekasihnya itu menunggu ‘pelanggan’, dia kan terus mencinta dan berbahagia. Karena semua orang mempunyai hak untuk bahagia.

Kembali ke cuplikan kalimat paling atas. Suatu hasrat melakukan kegiatan seks terhadap siapapun atau melakukannya secara individual (onani/masturbasi) yang tidak bisa diatasi adalah satu dari bermacam penyakit adiksi(kecanduan)  . Addict terhadap internet pun termasuk gangguan perilaku yang bisa menyebabkan gangguan mental/jiwa. Hmm, topik yang menarik! Karena hampir semua orang di jaman sekarang mengalaminya. Disebut apa kamu kamu yang sehari saja tidak bisa lepas dari social media atau internet? Jangan sampai kisah Lastri membawa kamu kamu ke Rumah Sakit Jiwa.

Bagi saya, cerita berjudul “Catatan Tentang Hantu dan Kisah dari Bangsal” ialah cerita paling menawan. Cerita di dalam cerita. Kehidupan selalu punya sebab dan akibat. Tidak ada orang yang terlahir gila. Orang yang waras tingkat tinggi pun bisa menjadi gila (maaf atas kosakata ini). Hal yang tak masuk akal atau di luar logika bisa menghasilkan logika. Apa yang tidak mungkin di dunia ini. Misalnya saja, dulu kita sempat berpikir mana ada seorang ayah mampu ‘meniduri’ anak kandungnya sendiri. Itu hal yang tidak mungkin – yang tidak terlintas di pikiran kita, tapi sekarang banyak kejadian seperti ini. Penyebabnya adalah rasa kesepian dan tak kuasa mengontrol nafsu/hasrat. Mata telah menjadi buta atas lara kepergian sang istri. Dunia pun jadi gelap. Penyebab ini merupakan benang-benang terputus yang jika disambungkan menjadi satu dan saling berkaitan. Dan ini logis! Apalagi mengenai orang yang kerap mendengar suara-suara yang tak nyata. Kasus ini memang sulit diterima karena kita langsung menganggap “gila” dan tidak masuk akal. Alasan dan akibatnya yang bikin menjadi logis. Pelajari saja tokoh-tokoh dalam cerita ini.

Perkiraan saya, Han Gagas terlebih dahulu mengunjungi Rumah Sakit Jiwa sebelum menuliskannya menjadi sebuah cerita “Catatan Tentang Hantu dan Kisah dari Bangsal”. Kisah-kisah di cerita pendek ini merupakan kasus-kasus nyata dan tak terbantahkan yang terjadi di masyarakat kita. Saya suka olahan Han Gagas meracik ‘catatan’ para pasien si tokoh ‘kamu’ dalam cerita ini yang begitu nyata dan tajam. Ada kisah si pelukis di dalam cerita pendek ini yang membuat saya sadar. Keahlian atau bakat dan passion seseorang mampu mengurangi rasa kecemasan, depresi, tidak bisa tidur, stres, bahkan gangguan kesehatan mental. Baca saja buku ini!

Buku kumpulan cerita pendek yang menghimpun 17 kisah, diakhiri dengan cerita berjudul “Catatan Orang Gila”. Kisah seorang manusia yang pernah mengalami gangguan jiwa dan di kemudian hari ia mencatat ‘pengalamannya’ tersebut. Penyakit yang pernah dideritanya memicunya untuk mengambil master psikologi. Menurut sang tokoh, ia memadukan pengalaman psikotisnya sebagai pengalaman transpersonal yang transformatif. Sempat terlintas di kepala saya, “Adakah peristiwa yang seperti ini terjadi?” Lalu, saya berpikir, “Mengapa tidak? Karena apa pun di kehidupan ini bisa terjadi.” Hal yang tidak logis bisa menjadi logis, seperti orang yang waras bisa menjadi gila.

Satu kalimat yang saya suka, “Mencintaimu adalah juga mencintai apa yang kau sukai” – dari cerpen “Catatan Tentang Hantu dan Kisah dari Bangsal” – meski orang dicintai mempunyai kesukaan/kesenangan mengunjungi Rumah Sakit Jiwa. Cinta itu..Ah..

Tunggu, bukankah cinta bisa membuat orang menjadi gila? Olala..

Terima Kasih dan Semoga Sukses, Han Gagas. Bukumu fiksi tapi bukan fiksi.

Judul Buku  : Catatan Orang Gila

Penulis        : Han Gagas

Penerbit      : PT. Gramedia Pustaka Utama

Desain sampul : Shutterstock.com

Setter        : Nur Wulan Dari

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s