Panorama yang Salah Dilukis

Dali-2-lukisan

Salvador Dali berbisik di telingaku,”Take me, I am the drug; take me, I am hallucinogenic.” Bulu-bulu di leherku berdiri mendengar nafas suaranya. Dia tahu itu dan malah sengaja mengecup leherku. Selanjutnya, tidak perlu diceritakan lagi apa yang aku dan Dali lakukan.

Ketika bangun esok pagi, kulihat sebuah lukisan perempuan sedang bercinta. Si Dali tukang bohong, katanya dia tak akan pernah melukis aku telanjang. Kutatap penuh seksama lelaki di dalam lukisan Dali itu. Aku tersentak,”itu bukan Dali!”

————————————————————————————————————————————————————

Saya adalah candu yang tertukar di kepalanya. Ini memang baru asumsi. Tapi asumsi yang berdasarkan observasi berbulan-bulan. Bisa saja salah. Yang saya tahu, dia telah salah melukis. Lukisan dengan 2 gaya yang dijelaskan oleh ribuan kata-kata. Kalimat-kalimat yang masih tersimpan di sebuah telepon genggam. Lukisan yang penuh warna-warni. Jarak 2 hari, lukisan itu berubah menjadi abu-abu dan sangat sepi. Kemarin, hari terakhir, saya melihat lukisannya. Lukisan yang tidak pernah tahu persis bentuk, warna, dan ekspresi yang terkandung di suatu objek. Hari ini merupakan kosakata-kosakata diam yang tercetus dari suaranya. Lagi-lagi, dia salah melukis. Kita memang tidak pernah menjadi panorama di satu sketsa lukisan. Kita hanyalah candu-candu melankolis yang sering tertukar di kepalamu atau di kepala saya. Para candu yang tidak tahu bagaimana harus mengejar kekasih dan menginjak kepingan-kepingan usang.

Apakah saya  masih menerima lukisan-lukisan yang dia lukis ketika monyet-monyet terlelap dan melepaskan topengnya?

Dan, Mengapa panorama yang sebelumnya mengetarkan, kini harus menyakitkan..

Sang pelukis menjawab,”Aku yang berkarya, terserah aku menukar lukisan atau tidak, karena itu adalah seni.”

“Aku hanya sebuah seni?!” tanya saya kepada surealis.

————————————————————————————————————————————————————

Di pagi rabu, dia pergi. Malamnya, dia menyapa dengan satu pertanyaan dan sebuah doa “jutaan”. Esok malamnya, kuterima sebuah pesan. Pesan yang terlambat sampai. Retak!

————————————————————————————————————————————————————

Aku memang menikmati senja, tapi tidak pernah mencintainya seperti penyair-penyair gila itu. Buat apa mencintai senja yang datang hanya sebentar-sebentar?

“Orang gila…orang gila…” bocah-bocah lanang itu selalu suka mengejek, bila melihat aku di hadapan muka mereka.

————————————————————————————————————————————————————

Isi-isi kepala Lastri diam tak berulah. “Lelah,” ucap mereka. Lelaki itu tertawa memandangi tubuh yang berdiri terpasung di dalam lukisan panorama Lastri, perempuan yang dipuja-pujanya untuk dirinya sendiri. Lelaki yang tidak pernah keras mengejar pernyataan.

Lastri sudah tidak bisa menangis. Pasrah, tubuhnya berada di sebuah lukisan yang dilukis oleh lelaki tolol yang dicintainya secara diam-diam.

————————————————————————————————————————————————————

Telepon genggamku ramai oleh ucapan-ucapan selamat pagi. Dali menggelengkan kepala melihat bukti otentik tersebut. Tak lama, tangannya mulai menuju ke kanvas kosong. Setengah jam kemudian, hadir sosok lelaki dan wanita, duduk berdekatan dan saling menyapa, “Selamat Pagi”.

Dali menggelengkan kepala sekali lagi, “Itu gambar sebuah pohon besar dan kepala belakang seorang manusia dengan potongan rambut pria.

Aku berhenti meraba lukisannya. Aku buta sejak lahir dan kali pertama ini, salah menebak lukisannya. Selamat pagiku meleset di tanganku sendiri.

————————————————————————————————————————————————————

Senja menodongkan  pistol ke kepala Hujan .

“Mati di tanganku!” teriak senja.

“Mengapa?” tanya hujan.

“Karena kita tidak pernah menjadi satu, meski hidup di langit yang sama,” lirih senja.

“Kamu berlebihan. Kita hanya berupa 2 lukisan. Ingat itu, hanya hidup dalam kanvas ” suara hujan meninggi.

————————————————————————————————————————————————————

Di kala mencintainya bak samudera. Di kala mencintainya bagai batu karang. Begitu saja berulang-ulang dan bergantian. Di kala sesak penumpang, tubuh sang wanita dan sang pria tertukar di sebuah gerbong kereta (Aku membayangkan menjadi dia dan dia menjadi aku). Judul apa yang pantas diberikan pada kisah pontang-panting ini?

Dua gender yang saling bertemu. Di alam terka-terki. Aku penuh gangguan. Terganggu sosok satu gender yang kerap datang meletup-letup tanpa bisa diprediksi. Maka, aku mengkisahkannya di sebuah hypomania panjang. Memperdalam karakternya. Karena aku penulis, teman dekat!

Ah, suatu tujuan terkadang sesat di jalan…

Kini, aku mampus!!

————————————————————————————————————————————————————

Banyak makna dari sebuah kosakata “Lukisan”. Seperti halnya kehidupan, banyak makna terkandung dan terkadang kita salah menginterpretasikannya.

*Gambar/Image: Lukisan Salvador Dali

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s