Harmoni Rempah-rempah Sebagai Mahakarya Indonesia

gemah rempah

Indonesia merupakan salah satu dari beberapa negara di dunia  penghasil rempah-rempah terbesar. Sejarah telah mencatat runtut jejak-jejak manusia bersama rempah-rempah dari mula hingga kini – telah menikmati buah hasil sekumpulan rasa, sifat dan karakter dan keringat raga nenek moyang mereka. Dan manusia di jaman ini, selain menikmati, juga masih meneruskan dan mengembangkan rempah-rempah untuk sesama.

            Hal lainnya adalah Manfaat rempah-rempah yang banyak sekali. Tidak hanya digunakan sebagai bumbu masak, tetapi juga untuk pengawet makanan, pengawat daging, kemenyan, wangi mulut, tubuh dan ruangan, kesehatan (obat),  dan lain sebagainya. Bahkan, karena rempah berfungsi memberikan bau harum, jaman dulu kala digunakan sebagai daya tarik mengikat  lawan jenis.

Di Indonesia, penghasil rempah-rempah terbesar berada di Ternate, yaitu cengkeh. Negeri-negeri di seluruh dunia, termasuk Indonesia, bisa dikatakan menjadi kaya raya karena rempah-rempah. Dan Indonesia, tidak hanya menghasilkan Cengkeh, tapi berbagai macam rempah-rempah lainnya. Alasan inilah Negeri Indonesia dijajah oleh Portugis kali pertama di Maluku, abad ke-16.

Serba-serbi rempah negeri ini sangat kaya dengan berjuta rasa dalam raga dan batin. Berbagai cipta karya yang menjatuhkan salah satu pilihannya terhadap masakan, membuat penduduk Indonesia hidup makmur – tanpa mereka sadari. Dari Sabang sampai Merauke, tiap daerah memiliki makanan ciri khas. Ada yang pedas, manis, dan asam. Sumatera Barat terkenal melalui Rendang sampai ke seluruh dunia. Rumah makanan Padang pun  hampir ada di seluruh Indonesia. Rendang adalah salah satu Mahakarya Indonesia yang patut dibanggakan.

Bicara soal makanan, berkaitan erat dengan bumbu-bumbu yang semua adalah rempah-rempah. Setiap makanan memiliki warna, rasa, dan aroma berbeda, begitu pula dengan bumbu-bumbunya. Tidak heran, Nusantara mempunyai kekayaan jumlah masakan nun kaya. Dalam dunia kuliner, bumbu-bumbu di-kategori-kan menjadi 3 macam bumbu dasar.

Kategori pertama adalah bumbu basah: kunyit, temu kunci, kencur, jahe, serai, bawang, cabai, dan lainnya. Kategori kedua yaitu bumbu kering: kayu manis, lada, pala, jinten, kapulaga, cengkeh, ketumbar. Terakhir, kategori ketiga, bumbu buatan: garam, cuka, metsin (MCG), terasi, kecap, aneka saus, dan essens. Ketiga kategori ini menghadirkan bumbu dasar merah, putih, oranye, dan kuning.

Bumbu dasar putih melahirkan karya Gudeg, Sayur Bobor, Ase Lidah, Tempe dan Tahu Bacam, Opor Ayam, dan banyak lagi. Sedangkan bumbu dasar oranye menciptakan Gulai, Rendang, dan masakan bersantan lainnya. Bumbu dasar kuning menelurkan Kari, Acar Kuning, Pesmol Ikan, Nasi Kuning, Terik Daging, Pepes, Ayam Goreng, dan lain-lain. Bumbu dasar merah meracik kreasi Sambal Goreng, Kering Tempe, Pepes, Sambal Bajak, Ayam Panggang Pedas, Telur Belado dan kreasi-kreasi lainnya. Dan sejuta Mahakarya lainnya berasal dari bumbu-bumbu dasar ini.

“Warna-warni” masakan jika ditilik merupakan perpaduan sifat dan karakter, pengalaman hidup, persitiwa, spiritual, kebahagiaan, kemenangan dan kegetiran hidup manusia. Satu hal lagi yang mengugah bangsa-bangsa dunia, bahwa rempah-rempah bisa menyatukan umat manusia maupun memisahkannya. Tidak berbeda pula dengan makanan.

Misalnya saja, di satu meja di waktu yang sama ditempati oleh beberapa orang yang berbeda usia, pola hidup, taste, problema, dan pandangan hidup. Mereka adalah satu keluarga yang telah lama tidak bertemu satu sama lain. Suatu hari, mereka berkumpul di meja makan untuk saling berjumpa, bercerita kehidupan masing-masing dan melepas kerinduan. Di meja itu disajikan hidangan favorit mereka: Ikan Woku Belanga – makanan yang sering di santap sejak mereka kecil dan tumbuh remaja di Sulawesi – kini semuanya berada di Jakarta.

Mereka menikmati lezatnya olahan rempah-rempah, seperti: cabe rawit merah, Kunyit, Jahe, Kemiri, Garam, Kemangi, daun Jeruk Purut, daun Pandan, Serai, jeruk nipis, dan daun Pandan, di dalam satu sajian, Ikan Woku Belanga. Resep makanan ini diambil dari resep warisan keluarga yang biasa dimasak oleh kakak tersulung mereka. Ikan Woku Belanga yang menyatukan keluarga ini dan seterusnya mereka berencana berkumpul satu minggu sekali untuk bersantap siang. Ikan Woku Belanga yang berpadu rempah-rempah Indonesia. Yang membuat satu keluarga besar ini bersatu, bahagia, sejahtera, dan satu per satu anggota keluarganya mengalami peningkatan hidup dengan ber-silaturahmi. Sungguh Gemah Rempah Mahakarya Indonesia.

Namun, di keluarga lain, pertemuan keluarga dengan menyantap makanan bersama, malah terjadi pertikaian. Rempah-rempah dipersalahkan. Sebabnya, salah satu rempah, yaitu Cabai telah membuat mereka berhati panas. Padahal yang seharusnya dipersalahkan bukan rempah, melainkan isi hati dan pikiran orang-orang tersebut. Rempah-rempah atau masakan, seharusnya menjadi daya pikat yang telah terpisah menjadi bersatu. Yang tidak pernah mengenal, menjadi dekat satu sama lain. Sekarang, pilihan berada di tangan manusia, bagaimana mereka menyikapi sebuah kehidupan terhadap entitas rempah. Manusia memang perlu tahu sejarah, apalagi jaman Hindia-Belanda, Jawa Timur dan Jawa Tengah – sebelum ladang padi meluas di seluruh Jawa- sebanyak 30.000 ton beras per tahun dikirim ke Indonesia bagian timur untuk ditukarkan dengan rempah-rempah, begitu juga sebaliknya.

 Bangsa-bangsa Arab dan Eropa datang ke Indonesia pun untuk berdagang rempah-rempah. Sampai saat ini, perdagangan rempah telah meluas dan berkembang maju. Rempah-rempah memang pernah membuat bangsa-bangsa di dunia berperang, tapi karena rempah-rempah pula, mereka akhirnya berdamai dengan kesadaran saling membutuhkan. Begitu pula rempah-rempah terhadap kehidupan keluarga.

Dan telah banyak tercipta karya dari rempah-rempah seperti yang ditulis di atas. Mahakarya yang tidak hanya sebuah, melainkan tak terhitung dan bernilai tinggi, ditambah esensi harmoni setiap aspek kehidupan. Ya, Rempah-rempah yang membuat manusia makmur dan juga bahagia, atau paling tidak untuk bertahan hidup sambil menikmatinya. Rempah-rempah yang sebagai penyeimbang. Sebagai keharmonisan.

 

Untuk negeriku: Ripah loh jinawi alam raya Indonesiaku.

Tulisan ini untuk Gemah Rempah Mahakarya Indonesia dan manusia-manusia yang terlibat di dalamnya. Manusia-manusia yang kerap melibatkan harmonisasi dalam kehidupan semesta.

*Sumber foto: Pribadi, diambil saat acara “Gemah Rempah Mahakarya Indonesia”, 10 October 2014, Tartine Cafe, FX, Sudirman.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s