“Vagina

Cerpen Vagina Monolog

Sepuluh tahun lalu, aku masih merah. Belia. Ranum. Wangi. Saat itu indah. Ceria. Bahagia. Aku penuh tawa di usia awal 13 tahun. Muda disekujur tubuh. Andaikan saja di antara kalian adalah orang pertama mengecupku, pasti hidung kalian tak ingin lepas – terus menciumiku.

Kota Garut siang hari . Seorang gadis sedang mengepang rambut hitam lebatnya. Di kamar yang diisi 4 orang itu, tampak lenggang – hanya satu penghuni. Jendela kamar berkaca tako dijadikan cermin olehnya. Dia melirik matahari. Terang. Cukup menerangi diri dan rambutnya yang sebentar lagi berbentuk kepang dua. Dia tersenyum puas.

Dia menatap jendela kembali. Ada segerombolan anak-anak perempuan bermain loncat tali karet. Pikirannya langsung berniat keluar rumah sesegera mungkin – dia ingin bermain bersama teman-temannya. Ini adalah hal rutin yang dilakukannya saat matahari sedang galak-galaknya. Namun, Garut selalu baik hati, memberikan angin sejuk pada seluruh penduduknya, termasuk dia.
Baru saja melangkah keluar kamar, dia melihat sang Ayah berbicara dengan seseorang lelaki yang belum dia kenal. Lelaki itu berusia sekitar 30-an. Di wajahnya penuh senyum dan perilakunya santun sekali .
Ayah langsung menyadari kehadirannya dari pintu kamar. “Neng, sini! Salim dulu tangan Pak Dudung,” ucap Ayah. Dia pun menghampiri lelaki itu. Dia cium tangan kanan lelaki itu. Lelaki itu tersenyum sambil mengangguk-ngangguk kepalanya. Lalu, dengan ijin Ayah, dia keluar rumah tuk bermain seperti rencananya semula.
*****
Dia berjalan ke sebuah kamar bersama pria itu. Pria berperut tambun dan uban hampir memenuhi kepalanya. Aku merasakan pria itu mencoba berbaik hati. Menurutku kebaikannnya itu penuh kecurigaan. Ini mesti diawasi tingkah laku pria itu selanjutnya.
Setelah mereka berdua berhadapan dengan sebuah ranjang besar, pria itu mencoba memeluk dia. Dia mundur selangkah. “Tuan, mau apa?” tanyanya. “Jangan takut, aku hanya ingin buat kamu tenang,” jawab pria itu penuh sneyumana yang dari luar itu disebut senyum menawan. Tua tapi masih memiliki karisma. Itu menurutku.
Pria itu mendekati dia lagi. Dia tak bergerak. Melihatnya, pria itu merangkulnya. Pria itu mengelus rambut panjang hitam kelam milik dia. Dia yang mempunyai nama Neng, tapi setibanya di Jakarta ini, Pak Dudung menyebutnya dengan panggilan “Non”. Kalau dipanjangkan lagi menjadi “Nona”. Nona, ini nama cantik!

“Kamu cantik sekali. Kecantikan kamu natural, itu yang aku kagumi dari kamu,” bisik Pria itu di telinga Neng. Neng? Ups, sekarang Nona.
Tengkuk leher Nona bergidik. Rasa apa ini? Tubuhnya merinding. Tapi untung saja tak lama.

Pria itu mulai menyentuh wajah Nona dan memandangannya penuh seksama. Lekat dan juga dekat. Kepala Nona menunduk. Namun, pria itu langsung memegang dagu Nona seraya mengangkat kepala nona. Pria itu mengecup keningnya. Nona tak berpikir apa-apa. Pria itu melanjutkannya ke pipi, lalu di bibir Nona yang masih merah muda. Tubuh Nona bergerak menghindar. Dan aku terkejut. Samalah dengan Neng, eh Nona.

Menyadari perilaku Nona, pria itu menawarkan segelas air putih. Katanya agar Nona lebih tenang. Nona pun langsung meneguk air putih dihadapannya.
*****
Uuh…benda apa ini? Panjang dan menonjol. Seperti daging. Benda ini memaksa masuk. Aow..Sakit! Arggh, ia semakin masuk. Dan aku semakin perih. Arrrggghh. Sakit sekali!!

Bedebah. Nyonyaku setengah mengantuk. Antara sadar dan tak sadar. Detik berjalan cepat dan tak bisa dihitung. Benda itu kini sedang mengoyak-ngoyak aku. Dan nyoyaku terbujur tak bisa apa-apa. Dia ingin melawan, tapi tubuhnya tak kuat melakukan itu. Aku ingin berteriak kencang, namun teriakanku tak pernah terdengar oleh siapa pun.

Lemas. Aku lemas. Nyonyaku pun lemas. Pria itu pun lemas. Ya, kami bertiga, sama-sama lemas. Aku lemas. Aku berbecak. Aku nyeri. Ah, apa namanya ini?
*****
Aku baru tahu ketika teman Nona mengatakan bahwa Nona telah dijual oleh Ayahnya sendiri kepada Pak Dudung, seorang agen seks anak dan peremepuan di Jakarta. Tuhan, aku ini baru 13 tahun.. Aku juga baru tahu, pria di kamar itu telah membayar keperawananku sebesar sepuluh juta rupiah

Hari berlalu tidak saja untuk satu hari, satu seminggu, satu tahun, tetapi telah berpuluh ribu hari, ratusan minggu,. Dan aku telah terbiasa akan semua itu dan aku jadi menikmatinya.
*****
Dia lelaki yang aku temui ketika pertama aku mendarat di Kota Bangkok. Belum pernah aku melihat lelaki penuh senyum simpatik di wajahnya. Ah, sepertinya aku jatuh cinta dan terpikat bertumpuk-tumpuk pada lelaki itu. Setiap hari aku bertemunya, dan setiap hari aku dan dia semakin ‘akrab’ saja.

Merahku bak membumbung tinggi. Angkasa bagai mudah disentuh. Layaknya Tidur nyenyak di atas ranjang kumpulan kapas awan. Eforia menjulang-julang. Diakhiri desah nafas melegakan. Rasanya ingin seribu tahun selalu bersamanya. Dia tesernyum meriah. Senyumku lebih meriah.
*****
Niran. Lelaki itu. Niran dan Nona. Satu profesi. Satu pekerjaan. Terlibat kisah asmara. Peraturan professional di tempat kerja:Dilarang jatuh cinta sesama pekerja. Niran dan Nona, sama-sama tak bisa mengelak takdir. Cinta. Semua orang tahu cinta itu terselubung di mereka berdua.
*****
Tanpa sengaja. Nyatanya, ketidaksengajaan itu lebih sering hadir. Niran tidak pernah menghitungnya. Seperti sebelum-belumnya, Niran melihat “Anggrek Bulan” kesayangannya dikecup, dibelai, bahkan diremas oleh seorang pria. Kali ini lokasi berbeda. Dari apartemen gedung seberang, Niran menyaksikan Nona dengan sejelas-jelasnya.

Huff. Niran menarik nafas panjang. Pandangannya tetap lurus ke arah ruang apartemen seberang. Kaca besar tanpa ditutupi tirai jendela. Membuat tak satu adegan pun ketinggalan diikuti Niran. Sambil membiarkan punggungnya dipeluk seorang wanita, Niran tak membiarkan kedua matanya lepas dari tontonan di hadapannya.

Wanita itu mencumbu tengkuk leher Niran, berharap Niran “tersentak” dan segera beralih kepadanya. Niran memang tergidik. Dia pejamkan mata, lalu membuka kembali perlahan. Anggrek Bulan kesayangannya itu masih di sana – semakin merekah –semakin tergolek bersama pria itu. Niran kembali memejamkan kedua mata.

Sel-sel darah mengalir deras, tak terkendali. Mencapai tingkat di kepala. Penat. Panas. Ingin rasanya meninju kaca jendela di depannya. Segala gejolak di dalam dada diredam sedemikian rupa. Dia harus bertindak professional. Puih! Dikala hati begitu perih – penuh amarah – jiwa yang diganyang, Niran harus rela tubuhnya dijilati dan melayani nafsu-nafsu perempuan yang sebenarya letih dia hadapi.

Niran usap pipi wajah wanita itu. “Maaf, saya tidak bisa melakukannya kali ini.” Wanita itu tak menggubris ucapan Niran. Malah, semakin menjulur tubuh bagian bawah Niran.

Niran benar-benar tidak berminat. Jijik sekali melihat kelakuan wanita itu. Dia elus rambut wanita itu – dia berusaha sabar, “Saya tidak bisa, sayang,” seraya melepaskan organ bagian bawahnya dari wanita itu. “Tapi, aku sedang sangat bisa,” ucap wanita itu.
“Kamu memang selalu bisa. Tidak pernah tidak bisa. Tidak pernah tidak ingin. Setiap hari, aku layani kamu..”
“Kenapa? Kenapa, Niran? “ wanita itu memotong kalimat Niran.

Wajah Niran semakin kotak-kotak. Dia tidak suka pertanyaan wanita itu. “Kenapa?” wanita itu bertanya lagi. Kini, wanita itu memegang dagu Niran seraya diarahkan ke apartemen seberang sana. “Karena perempuan itu, kan? Cantik, tapi perempuan murahan!”

Apa?! Perempuan murahan. Tidak seseorang pun boleh mengucapkannya seperti itu. Deru amarah membumbung tinggi. Pedih sekali ucapan wanita itu. Niran bagai ditampar. Diolok-olok. Dianiaya hatinya.

Tanpa banyak bicara, Niran menendang paha wanita itu, sampai tubuhnya terjungkal dan terpelanting di atas lantai. Sepertinya wanita itu tidak merasakan kesakitan, dia terus melanjutkan celotehannya, “Kau tahu, aku sengaja menyuruh temanku bermain dengan Nona di kamar apartemennya, tanpa menggunakan gorden jendela. Biar kamu tahu, Nona menikmati tubuhnya dijalar setiap lelaki, bukan kamu saja, sayang..”

Niran kembali melemparkan pandangannya ke wanita itu. Darahnya mendidih. Dispekulasi, Niran tidak bisa mengendalikannya. Dia menampar wanita itu, keras. Dia jambak rambut wanita itu, “Jangan pernah mengatakan penjual seks itu murahan, apalagi terhadap Nona,” kemudian dijedoti kepala wanita itu ke lantai. Niran kesal. Berlari ke jendela besar itu. Masih terlihat adagan panas Nona bersama pria itu. Sekuat tenaga, Niran tinju kaca jendela itu berkali-kali.

Tangannya berdarah. Perasaannya sudah tak terjelaskan. Suhu tubuhnya terus memanas. Namun, kaca besar itu retak pun tidak. Tak seperti hatinya, pecah berceceran.
*****
Hari ini, aku melakukan VCT (Voluntary counseling and testing). Kata orang-orang dari Yayasan HIV & Aids dan dipertegas Manajer di tempat Nona bekerja, mereka ingin semua pekerja wanita dan pekerja pria penjual seks terbebas dari virus paling menakutkan di dunia.

Nona sedikit gentar. Aku sih nurut saja. Aku sedikit penasaran, apakah aku terbilang masih sehat atau tidak. Setelah Nona di-counseling, ketakutanku muncul. Jangan-jangan virus itu ada di aku. Tak lama, dia diambil darahnya. Aku diam saja. Ya, menanti. Entah apa jawabannya nanti.
*****
Sepi sekali di sini. Hampa. Aku terbujur tak berdaya. Semangatku habis. Mungkin, ini semangat terakhirku. Mungkin, bila Niran masih ada, semangatku tidak habis begini. Tapi, realita berbicara lain. Dulu, malam menyemarakkan hidup, saat ini malam sungguh redup. Bintang-bintang tak bermunculan, apalagi rembulan. Padahal, aku menunggu bintang jatuh agar aku bisa bersabda harapan. Ah, aku total sendiri. Tak bergerak. Kaku. Malam pun kian menggigil.

Mengapa dua hal yang aku cintai direnggut sekaligus dalam waktu bersamaan? Pertama: Niran. Kedua: diriku sendiri. Berita mengenai Niran mengejutkan seluruh umat Kota Bangkok. Dia sangat terpukul, terlebih lagi mengetahui hasil VCT mencantumkan kata: Reaktif. Itu artinya Virus HIV telah mengendap di tubuhnya.

Aku sudah tak tahu lagi apa aku ini. Berminggu-minggu setelah dua persitiwa itu, aku semakin terlantar dan dia tidak tahu lagi harus berbuat apa terhadap hidupnya. Niran mati terbunuh karena sebuah pisau yang ditancapkan ke tubuhnya oleh seorang wanita. Pelanggan setia yang cemburu berat terhadap Nona dan bukan wanita sebenarnya. Dia sangat terluka. Aku berangkap-rangkap luka.

Setahuku, Nona selalu memakaikan kondom pada setiap pelanggannya. Kecuali terhadap Niran. Dia dan Niran, terbebas dari kondom saat cinta tumbuh di antara mereka.
*****
Kusebut semuanya telah lumer. Lalu, aku harus salahkan siapa? Ayah Nona yang menjualnya? Nona alias Neng yang jadi menikmati pekerjaan sebagai penjual seks? Kemiskinan Ayah? Pak Dudung? Minimnya informasi seputar seks dan HIV? Kematian Niran? Cinta ? Kecerobohan? Atau salahkan saja Tuhan?

Aku ini bisa apa? Nyeri atau nikmat, bisaku cuma diam. Sudah usang pun, aku masih hanya bisa diam. Ada virus mengerikkan itu, aku hanya bisa lemas tak berfungsi. Namun dari seluruh diam yang aku alami, kini aku berteriak. Jangan kalian kira aku tak merasakan “kelumpuhan” Nona. Jangan kalian pikir selama 10 tahun lebih ini, aku banyak “bersemarak pesta”.

Aku berhak dan layak memiliki anak kandung. Bercinta dengan suami atau pasangan. Menikah. Hidup sehat. Aku berhak dan layak hidup. Hidup, sehidup-hidupnya. Hidup yang panjang. Karena vagina, aku bersuara melalui tulisan ini,”Masa laluku hitam. Aku berstatus HIV. Satu keinginanku, ‘Mengubah paradigma dan perilaku masyarakat’. Takdirku bukan karena dikutuk. Tolong, jangan kucilkan orang-orang seperti Nona. Sayangi dan bantu mereka mengubah kehidupannya.”

“Ingat, HIV & Aids tidak hanya terdapat pada pekerja penjual seks, kaum homo, pemakai narkoba. Saat ini jumlah Ibu Rumah Tangga pengidap virus HIV/AIDS, semakin hari, semakin meningkat dan merupakan jumlah kelompok terbesar di antara kelompok lainnya.”

Aku Vagina. Bervirus yang kata orang mematikan. Lalu apa bedanya dengan kanker atau penyakit lainnya yang belum bisa disembuhkan? Aku masih bisa berfungsi saat Nona menikah nantinya, meski menggunakan kondom. Berarti aku masih bisa membuat anak. Berarti aku masih bisa hidup layak seperti orang normal lainnya. Manusia pasti mati. Begitu pula Nona. Begitu pula kalian tanpa HIV, maupun dengan HIV.

“Jauhi Virusnya, Bukan Orangnya”

2 thoughts on ““Vagina

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s