“Kiamat Internet, Kiamatkah Duniaku?”

Kiamat internet, apakah sama rasanya seperti Kiamat dunia? Silahkan langsung bertanya pada diri Anda sendiri. Pastinya kata “kiamat” berarti hari akhir atau akhir jaman, namun saya sendiri mengartikannya sebagai “kemusnahan” dan “Mati”. Mengapa demikian?

            Mari berandai-andai bersama saya. Ketika internet secara perlahan ditebas -dhilangkan dari muka bumi oleh pasukan asing dari planet Mars dan Anda sebagai manusia tak mampu melawan mereka. Serangan-serangan mereka begitu besar, penciuman mereka kuat-saat tahu internet disembunyikan dalam lemari pun, mereka mengetahuinya. Pasukan itu tidak mau kalah atas kemajuan teknologi internet di bumi. Negeri mereka tak ingin manusia menjadi pintar, menurut mereka manusia harus tetap bodoh dan serba ketinggalan.

                   Lalu setelah internet musnah di muka bumi, apakah manusia mati? Anda memilih versi berandai-andai di atas atau logika Anda atau pandangan saya sebagai jawabannya? Karena saya yang menulis, saya pilih menurut pandangan saya. Jika Anda protes, tahan dulu protes Anda. Selesaikan dahulu kisah pemikiran saya ini. Setuju?

                       Saya tidak tahu apa yang terjadi bila kiamat menimpa dunia internet saya. Saya ini seorang pembaca dan penulis yang mengalami kecanduan internet akut. Sejak awal lahirnya, internet perlahan meracuni sekujur tubuh dan jiwa. Sehari tanpa internet, tubuh, jiwa dan segala pemikirannya, bagaikan dipukuli balok-balok keras-menghantui ketenangan batin bertubi-tubi-mencubit setiap senti kulit dan melahap segala tulang, hingga sel-sel darah pun menemui hambatan dimana-mana.

                       Mati! Namun nafas masih bergerak. Seluruh organ tetap hidup berjalan, tetapi tidak berfungsi. Apa itu namanya? Kalau bukan disebut  mayat hidup.

                         Sehari-hari tak pernah berpisah dengan internet. Apa saja yang dibutuhkan, hampir semua ada di internet. Dari hal yang tidak diketahui sampai hal-hal yang diketahui benar, bahkan jengah karena terlalu banyak mengetahui dan hidup dalam seluk beluknya.

                            Dan tiba-tiba saja, semua itu dirampas dari tangan. Bukankah itu sama saja dengan kehilangan separuh nafas, bahkan hampir seluruh nafas. Berlebihan kah ini? Bagi orang yang tidak tergantung pada internet, ini tidak begitu memberikan dampak pada mereka. Tapi bagi orang yang sehari-harinya bekerja, mencari, berteman, belajar, berjualan, konsultasi dan lain-lain, akan berdampak besar. Hal ini mampu mempengaruhi kehidupan ke arah yang tidak diinginkan dan hidup yang seharusnya hidup, sirna dari muka bumi.

                       Mungkin kalau terjadi hanya sehari atau dua hari, tidak memberikan dampak besar, tapi bila terjadi dalam waktu panjang, tak terbayangkan betapa  meluasnya derita melantah. Seperti banjir di Jakarta yang baru saja terjadi, bukankah melumpuhkan segala kegiatan penduduk Jakarta? Jakarta bagai mati di siang bolong-tak berkedip-tak bersilau-hanya termangu.

                      Pertumbuhan pemakai internet setiap tahunnya meningkat. Menurut MarkPlus Insight, pengguna internet di Indonesia tahun 2012 mencapai 61,08 juta orang- naik 10 % dari tahun sebelumnya. Angka 61.08 juta didapat dari hasil metode survey terhadap masyarakat dengan usia, strata sosial dan kota besar di Indonesia yang berbeda.

                     Simak juga hasil dari metode survey ini, yaitu:

  • 40% dari pengguna Internet di Indonesia (24,2 juta orang) mengakses Internet lebih dari 3 jam setiap harinya
  • 58 juta orang (95%) mengakses Internet dari notebook, netbook, tablet dan perangkat seluler
  • Komunitas terbesar pengguna Internet didominasi oleh kalangan middle class
  • Mayoritas pengguna Internet di Indonesia berada di rentang usia 15-35 tahun
  • 56,4% termasuk “bargain hunter” — yang rela berjam-jam berselancar di Internet untuk mencari informasi dan penawaran terbaik tentang kebutuhannya
  • 3,7 juta orang (6%) pernah melakukan transaksi e-commerce
  • budget rata-rata pembelian secara online adalah Rp 150 ribu

                      Melihat hasil survei ini, rasanya tak perlu lagi diceritakan tentang jawaban berandai-andai, logika Anda atau pemikiran saya. Walau pun survei ini  masih dalam jumlah dan lingkup terbatas, justru dari sumber yang bisa dikatakan belum luas ini, menunjukkan bahwa..”Kiamat internet, kiamat pula kehidupan manusia di dunia”..

                         Sekarang semua kembali kepada Anda. Ingin memanfaatkan internet ini sebaik-baiknya dan seefektif mungkin atau hanya sekedar berlancar menghilangkan tekanan-tekanan hidup. Semua terserah Anda. Pilihan di tangan Anda. Ingin mengmaksimalkan internet atau dipergunakan sebagai permainan saja. Dan Anda pun harus mempersiapkan diri-berbagai cara ketika kiamat internet terjadi-peralatan penangkal dan aktivitas baru atau lain, perlu juga dipikirkan. Sehingga, bila kiamat internet datang, Anda tak perlu “mati”.

                          Apapun yang terjadi, saya berharap kemajuan teknologi ini, internet, tidak ada yang namanya KIAMAT. Kiamat, cukuplah muncul dari Sang Pencipta saja dan sebagai manusia perlu cerdas memanfaatkan sekaligus menghilangkan dampat negatif yang manusia perlu hindari dan Tuhan pun tidak senang akan sesuatu yang tidak bermanfaat.

2 thoughts on ““Kiamat Internet, Kiamatkah Duniaku?”

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s