“Perempuan Berdebu Vulkanik”

Wajah penuh debu. Entah putih. Entah abu-abu. Bagai Topeng putih Hanoman. Dalam kesunyian, dia berdiri di lantai rumah. Cekam tak terkendali. Hanyut dalam gelap. Hanya puji-puji Gusti Allah. Bumi kembali bergetar. Pintu bersuara ketukan. Dag..Dig..Dug..Jantung mendegup kencang. Tangan terjulur gagang pintu. Dan menyambut Tamu.

“Ijinkanlah aku masuk,” mohon Merapi.

Dia mundur ketakutan. Tak berani menatap. Mata merah Merapi.

“Jangan takut. Aku hanya ingin menghapus abu-abu di wajahmu,” kata Merapi.

Merapi menghampirinya. Dia terduduk, masih menutup mata. Merapi mengangkat kedua tangannya. Merapi meniup abu-abu itu. Merapi sentuh pipinya, hapuskan segala debu. Merapi betulkan rambut tak beraturan. Merapi luruskan dengan jemari. Dia masih terpejam.

“Buka kedua matamu. Ayo bangun. Aku bersihkan dirimu,” ajak Merapi.

Perempuan itu berdiri perlahan. Merapi menuntunnya ke permandian. Merapi guyur air suci ke seluruh tubuhnya. Dingin. Tapi bukan lahar dingin. Segar berhembus di dada perempuan itu. Tubuhnya pun bersih. Merapi hangatkan dengan batik sutera. Kini, perempuan itu tak lagi berdebu vulkanik.
“Sekarang, turunlah dariku. Aku mohon,” ucap Merapi sambil berlutut.

“Biarkan aku meletus-letus bebas. Jangan tunggu aku berhenti. Berjanjilah tuk sabar. Karena semua akan menjadi baik. Aku semburkan materialku beraroma cinta. Nantikan aku di sana, sebab cinta akan bertebaran dan manusia pasti membuka tangan untuk segenap cinta. Dan kau akan menjadi pemenang. Aku pasangkan liontin cinta ini di lehermu. Biar kau selalu ingat nestapa kehilangan cinta akibat angkara murka. Sekali lagi, biarkan aku muntahkan segala isi-isi di perutku. Zat-zat yang tertular karena usia tuaku dan penyakit ulah kaummu,” lanjut Merapi bertutur teduh.

“Tapi..,” sahut ragu perempuan itu.

“Sssttt…jangan mengelak. Ikuti saja kata-kataku. Pegang saja selalu, pedang cintamu,” sela Merapi.

Di antara angin terjang mengencang. Perempuan itu turun dari paha Merapi. Perempuan yang tak lagi berdebu vulkanik. Berjalan dikawal oleh awan-awan panas. Dia tidak mati, apalagi terbakar. Karena dia membawa liontin cinta milik Merapi. Untuk disinarkan ke semua korban bencana.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s