Sepotong Rindu yang Tak Lunas

Haz Algebra:

kita pernah di sana.

di shelter yang hanya berisi dua bangku.

aku dan kau melepas lelah, lalu melanjutkan perjalanan kita masing-masing. .

ada yang tertinggal di bangku kala itu. bukan jejakku, tapi hatiku, tercuri olehmu..

tapi bus membawanya pergi. tertinggal rasa ganjil. juga kecupan yang tertunda..

 

SN:

KIta pernah di sana.

Duduk bersampingan. Saling membisu. Dan melirik diam-diam.

 

Aku. Kamu. Bicara pada malam.

Membuka rekaman  tadi siang, tersenyum mengingat pertemuan itu.

Langit menghadang kita melalui satu badai. Badai yang bukan tangis derita.

Melainkan gelombang rindu yang mulai menerpa.

 

Aku. Kamu. Menanti esok.

Masih di bangku yang sama. Duduk bersebelahan.

Hati kian ramai berbicara. Dan bibir kita masih terkunci.

Padahal, dua hati telah berhasil dirampok.

 

Aku. Kamu. Meninggalkan bus kota.

Pergi ke arah yang berbeda, tetapi ada satu petunjuk yang sama.

Mengarah pada satu keinginan.

 

Aku. Kamu. Keinginan Klasik.

Esok hari, haruslah ada kalimat yang terucap. Berjumpa dan saling membeberkan rahasia hati. Tidak lupa membayar sepotong rindu yang tak lunas dengan kecupan terindah disertai perasaan yang meletup-letup.

Esok hari, 14 January, semoga kita menepati pembayaran hutang kita, Yaitu; Aku. Kamu. Rindu. Meskipun kita tahu betul, kita akan berhutang lagi pada Rindu.

 

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s